Dinobatkan Jadi Warga Oseng

  • Bagikan

KEDATANGAN Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji ke Banyuwangi kemarin seolah jadi ajang nostalgia. Maklum, mantan Kapolda Sulselbar itu pemah menjabat sebagai Kapolres Banyuwangi periode 2000-2002. Tak heran selama di Bumi Blambangan Anton jadi bintang, Kolega dan mitra-mitranya selama dia bertugas di di Banyuwangi banyak yang menyalami.

Sebagai bentuk kacintaan terhadap Banyuwangi, Anton langsung dinobatlkan sebagai warga kehormatan suku oseng.  Bentuk penghormatan itu dirupakan dengan memasang udeng (ikat kepala khas Oseng) dan baju adat Banyuwangi warna hitam.

Penobatan sebagai warga Oseng itu dilangsungkan di Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren. Kecamatan Glagah  Anton dan rombongan tiba di Sanggar Genjah Arum sekitar pukul 14.30. Turut dalam rombongan Karoops, lrwasda, Kabid Humas, dan Wadir Polair AKBP Nanang Masbudi yang juga mantan Kapolres Banyuwangi, serta Kapolres Bastoni Pumama.

Rombongan disambut Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko, pemilik Sanggar Genjah Arum Setiawan Subekti, dan Ketua DKB Samsudin Adlawi.  Tidak ada pembicaraan resmi di tempat tersebut. Rupanya Anton ingin melepas kangen dengan kolega dan teman-temannya selama dia bertugas di Banyuwangi empat belas tahun lalu.

Jenderal polisi kelahiran Malang 2 lanuari 1959 itu terlihat akrab dengan tamu yang menyambutnya. Sambil ngobrol santai, sesekali Anton menenggak kopi khas Oseng dan hidangan ringan seperti kucur dan pisang goreng.

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1983 itu mengaku senang berada di Banyuwangi.  Usai berbincang ringan, rombongan Kapolda langsung merapat ke Lanal Banyuwangi tempat dia menginap. Malam harinya orang nomor satu di Polda Jatim itu diagendakan berdialog dengan pejabat SKPD di pendapa kabupaten.

Pukul 22.15 rombongan kapolda meninggalkan Banyuwangi naik kereta api.  Bagi Anton, Banyuwangi rupanya memiliki tempat tersendiri di hatinya. Jenderal polisi bintang dua itu pun menjadikan Bumi Blambangan sebagai jujukan kunjungan kerjanya sejak dilantik menjadi Kapolda Jawa Timur beberapa hari lalu.

Baca :
Longsor Timbun Tiga Rumah di Banyuwangi, Satu Orang Meninggal Dunia

Baginya, Kota Gandrung sudah seperti rumah sendiri karena banyak kenangan yang didapatnya selama menjadi Kapolres Banyuwangi. Menginjakkan kaki pertama kali setelah tiga belas tahun silam berlalu, perwira kelahiran Malang itu sangat terkesan dengan perkembangan Banyuwangi yang begitu pesat.

“Banyuwangi sudah berbeda jauh. Sangat pesat perkembangannya.” ujar Anton. Dengan gayanya yang ceplas- ceplos, Anton juga menikmati kemajuan Banyuwangi dengan cara berbeda. Selama berkunjung ke Banyuwangi, mantan Kapolda Sulselbar itu tidak menggunakan hotel sebagai lokasi singgah.

Dia menggunakan Mako Lanal Banyuwangi sebagai tempatnya beristirahat.  Bukan tidak mampu menyewa kamar atau hotel di Banyuwangi sedang penuh. Anton sengaja memilih Mako Lanal sebagai rest area sekadar untuk melepas kangen.

Tempat itu dirasakan memiliki kenangan yang tidak tedupakan. “Dulu kalau lagi penat sering ke Lanal. Sekadar refreshing dan lihat lampu kapal sudah plong,” ujarnya.  Bukan sekadar nostalgia biasa Tidur di Mako Lanal juga bagian dari dirinya membayar nazar.

Sumpah itu diucapkannya saat akan meninggalkan Banyuwangi. Dirinya berjanji bila suatu saat menjadi Kapolda Jawa Timur, Anton akan menginap di Mako Lanal sebagai lokasi menginap. Selain membayar nazar, Anton juga berkesempatan reuni dengan beberapa rekannya saat menjabat di Banyuwangi.

Bahkan, dia juga menyempatkan diri mencari warung kopi langganannya di wilayah Pelabuhan Ketapang. Sayang warung itu kini sudah tutup. Anton pun bergeser ke Taman Blambangan tanpa pengawalan ketat. Di sana dia menikmati kopi bersama mantan sopirnya dulu, Suryadi. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: