Berita Terkini Seputar Banyuwangi
Hukum  

Ditodong Parang, Emas Dipreteli

Aksi Perampokan di Mondoluko, Tamansuruh

GLAGAH – Aksi perampokan kembali terjadi. Kali ini lima perampok menyatroni rumah Khoerotun, 35, warga Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah. Setelah melumpuhkan penghuni rumah, perampok bersenjata parang dan celurit itu membawa kabur perhiasan emas, uang tunai, dan keris pusaka. Saat ini pelaku masih dalam pengejaran polisi. Kemarin, dua anggota Polsek Glagah memintai keterangan Khoerotun, suami, dan anakya.

Ada dugaan, pelaku paham betul kondisi rumah yang kanan-kirinya sawah tersebut. Kawanan penjahat itu juga bisa masuk ke rumah perempuan yang sehari-hari bekerja di kantin objek wisata Tamansuruh tersebut dengan mudah. Pelaku tidak hanya membawa kabur perhiasan emas berupa kalung dan cincin. Mereka juga mengancam korban dengan sen jata tajam. Khoerotun ditodong parang, dan suaminya yang kondisinya stroke di kalungi celurit.

Anak Khoerotun yang ma sih berusia 11 tahun juga diintimidasi. Ditemui di rumahnya di Dusun Mondoluko, Khoerotun menyebut pelaku yang menyatroni rumahnya lima orang. Ada yang berbadan tegap, kulit hitam, dan kurus. Seorang pelaku lagi mengenakan masker dengan logat Using Anehnya, pelaku tahu betul bahwa korban baru saja panen dan anaknya mendapatkan bantuan dari sekolah. ”Kok tahu sawah saya sedang ditanami ubi. Mereka juga tahu anak saya dapat bantuan dari sekolah,” ujar Khoerotun heran.

Diperoleh keterangan, perampok beraksi di rumah Khoerotun pukul 01.00. Mereka masuk dengan cara merusak kaca jendela bagian selatan. Kaca nako tersebut dicongkel. Ada empat kaca yang dicongkel. Selanjutnya, dua orang masuk ke kamar Khoerotun. Malam itu Khoerotun tidur ber sama anak perempuannya yang masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar (SD). ”Saya ditodong parang agar menunjukkan tempat menyimpan uang. Kalung dan cincin saya dirampas.

Punya anak say juga dipreteli,” kata ibu satu anak tersebut. Saat bersamaan, seorang pelaku masuk ke kamar su ami Khoerotun. Pria yang kondisinya lemah itu dikalungi celurit. ”Suami saya sulit berjalan. Ta ngan kanannya tidak berfungsi. Dia benar-benar ke ta kutan,” imbuh Khoeratun. Melihat penghuni rumah tak berdaya, tiga pelaku lelu asa mengacak-acak seiisi r u mah berdinding tembok dan sesek (anyaman bambu) ter sebut. Perampok akhirnya me nemukan uang Rp 300 ribu di lemari.

Uang tersebut milik anaknya yang baru diberi pihak sekolah. Konon, uang tersebut merupakan subsidi BBM bagi anak sekolah dari keluarga tidak mampu. Selain uang, perampok juga membawa kabur hand phone merek Mito. Satu-satunya keris pusaka warisan orang tua korban juga diembat. Untungnya, televisi yang dipajang di ruang tamu tidak diangkut. Aki bat kejadian itu, korban menderita kerugian sekitar Rp 22 juta. ”Berat perhiasan emas 34 gram. Ada kalung dan cincin,” kata Khoerotun.

Dua jam lamanya perampok be rada di rumah korban. Pukul 03.00, perampok kabur lewat belakang dengan cara merusak pintu. Tak satu pun warga mendengar ada perampok menyatroni rumah Khaerotun. Maklum, rumah tersebut diapit sawah. Di kanan-kirinya adalah tanaman padi. Ada poskamling persis di depan rumah korban. Namun, pukul 01.00 sudah sepi. ”Sejak pukul 21.00 di poskamling itu sudah tidak ada orang,” ujar Syafi’I, tetangga korban. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE