sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kemacetan di sekitar area Pelabuhan Tanjung Wangi kembali terjadi. Antrean truk logistik yang hendak menyeberang ke Lombok mengular di jalur Situbondo–Banyuwangi sejak Kamis (19/2) sore dan masih berlanjut hingga Minggu (22/2).
Pemicunya, dua kapal penyeberangan menuju Lombok tak beroperasi. Kondisi tersebut membuat kapasitas angkut tidak sebanding dengan derasnya arus kendaraan logistik yang terus berdatangan.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean truk masih terlihat hingga depan Terminal Sritanjung.
Situasi ini memaksa petugas melakukan sistem buka-tutup antrean untuk mengurai kepadatan.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi I Komang Sudira Atmaja mengatakan, lonjakan kendaraan tidak diimbangi dengan jumlah kapal yang beroperasi.
“Informasinya ada kapal yang sedang dok. Sedangkan truk terus berdatangan. Semua ruang tunggu kendaraan termasuk di dalam area pelabuhan sudah penuh,” ujarnya.
Menurut Komang, kondisi semakin rumit karena sebagian sopir enggan memanfaatkan kantong parkir alternatif seperti di kawasan Grand Watudodol (GWD).
Para sopir khawatir jika berhenti terlalu jauh dari pelabuhan, kesempatan mereka naik kapal akan semakin lama.
Padahal, jika seluruh truk memaksa mendekati pelabuhan, kepadatan di ruas jalan utama tak terhindarkan.
Rekayasa Lalu Lintas untuk Minimalkan Macet
Untuk mengurai kemacetan, Dishub bersama Satlantas Polresta Banyuwangi melakukan rekayasa lalu lintas.
Kendaraan dari arah utara diarahkan masuk Terminal Sritanjung sebelum melanjutkan perjalanan ke arah selatan.
“Kami lakukan pengaturan arus lalu lintas. Truk dari arah utara melewati Terminal Sritanjung kalau mau ke selatan. Di depan terminal dibuat antrean buka tutup,” jelas Komang.
Dishub Banyuwangi juga terus berkoordinasi dengan KSOP Tanjung Wangi dan pengelola pelabuhan, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), untuk memantau perkembangan antrean kendaraan.
Page 2
“Untuk di dalam pelabuhan kita menunggu respons dari Pelindo. Karena ini berkaitan dengan kendaraan yang akan naik ke atas kapal,” tambahnya.
Hanya Dua Kapal Beroperasi
Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhanan KSOP Tanjung Wangi, Budi Sanjoyo, membenarkan adanya pengurangan armada kapal operasional.
Biasanya terdapat empat unit kapal ferry yang melayani rute Banyuwangi–Lombok. Namun sejak Kamis hingga Minggu pagi, hanya dua kapal yang aktif, yakni KMP Mutiara Barat dan KMP Mutiara Ferindo.
Sementara KMP Mutiara Sentosa III sebelumnya tidak beroperasi karena proses pemenuhan sertifikat keselamatan pelayaran dan baru kembali melayani penyeberangan pada Minggu (22/2) pagi.
“Sejak Kamis hingga Minggu pagi hanya dua kapal yang beroperasi, sehingga tidak semua kendaraan bisa segera terangkut,” ujar Budi.
Adapun satu kapal lainnya, KMP Mutiara Berkah 2, masih menunggu kesiapan berlayar pascadocking.
Ketidakseimbangan Armada dan Arus Logistik
Permasalahan ini menjadi bukti bahwa tingginya intensitas kendaraan logistik menuju Lombok belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan armada kapal.
Tuntutan para sopir logistik yang sebelumnya mendatangi DPRD Banyuwangi pada 28 Januari lalu pun dinilai belum sepenuhnya terjawab.
Selama jumlah kapal belum kembali normal, potensi kepadatan sewaktu-waktu masih bisa terjadi.
KSOP bersama Pelindo saat ini tengah membahas kemungkinan pemanfaatan gudang Pusri sebagai lokasi tambahan untuk menampung antrean truk.
“Kami sedang menunggu pemanfaatan gudang Pusri untuk bisa digunakan menampung antrean truk. Ini masih menunggu keputusan Pelindo. Karena di dalam container yard Pelabuhan Tanjung Wangi sudah dipenuhi truk,” pungkas Budi.
Jika tidak segera ditemukan solusi jangka panjang, kemacetan di kawasan Pelabuhan Tanjung Wangi dikhawatirkan akan terus berulang, terutama saat arus logistik meningkat menjelang Ramadan dan Lebaran. (fre/sgt)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kemacetan di sekitar area Pelabuhan Tanjung Wangi kembali terjadi. Antrean truk logistik yang hendak menyeberang ke Lombok mengular di jalur Situbondo–Banyuwangi sejak Kamis (19/2) sore dan masih berlanjut hingga Minggu (22/2).
Pemicunya, dua kapal penyeberangan menuju Lombok tak beroperasi. Kondisi tersebut membuat kapasitas angkut tidak sebanding dengan derasnya arus kendaraan logistik yang terus berdatangan.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean truk masih terlihat hingga depan Terminal Sritanjung.
Situasi ini memaksa petugas melakukan sistem buka-tutup antrean untuk mengurai kepadatan.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi I Komang Sudira Atmaja mengatakan, lonjakan kendaraan tidak diimbangi dengan jumlah kapal yang beroperasi.
“Informasinya ada kapal yang sedang dok. Sedangkan truk terus berdatangan. Semua ruang tunggu kendaraan termasuk di dalam area pelabuhan sudah penuh,” ujarnya.
Menurut Komang, kondisi semakin rumit karena sebagian sopir enggan memanfaatkan kantong parkir alternatif seperti di kawasan Grand Watudodol (GWD).
Para sopir khawatir jika berhenti terlalu jauh dari pelabuhan, kesempatan mereka naik kapal akan semakin lama.
Padahal, jika seluruh truk memaksa mendekati pelabuhan, kepadatan di ruas jalan utama tak terhindarkan.
Rekayasa Lalu Lintas untuk Minimalkan Macet
Untuk mengurai kemacetan, Dishub bersama Satlantas Polresta Banyuwangi melakukan rekayasa lalu lintas.
Kendaraan dari arah utara diarahkan masuk Terminal Sritanjung sebelum melanjutkan perjalanan ke arah selatan.
“Kami lakukan pengaturan arus lalu lintas. Truk dari arah utara melewati Terminal Sritanjung kalau mau ke selatan. Di depan terminal dibuat antrean buka tutup,” jelas Komang.
Dishub Banyuwangi juga terus berkoordinasi dengan KSOP Tanjung Wangi dan pengelola pelabuhan, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), untuk memantau perkembangan antrean kendaraan.








