Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

MBG Kurang Jatah, Siswa Kelas VI SDN 1 Bimorejo Gigit Jari di Hari Pertama

mbg-kurang-jatah,-siswa-kelas-vi-sdn-1-bimorejo-gigit-jari-di-hari-pertama
MBG Kurang Jatah, Siswa Kelas VI SDN 1 Bimorejo Gigit Jari di Hari Pertama

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Harapan berubah jadi kekecewaan. Program unggulan Presiden Prabowo, Makan Bergizi Gratis (MBG), yang seharusnya menjadi momen bersejarah bagi siswa-siswi SDN 1 Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, justru diwarnai kisah pilu. Pada hari pertama pelaksanaan, Senin, 2 Januari 2026, sebanyak 28 siswa kelas VI harus menelan ludah dan gigit jari karena tidak kebagian jatah makanan bergizi yang telah lama mereka nantikan.

Ironisnya, program nasional yang digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi anak bangsa itu justru tersandung persoalan teknis sejak awal. Berdasarkan data resmi sekolah, SDN 1 Bimorejo memiliki 173 warga sekolah, terdiri dari 159 siswa dan 14 guru. Namun, SPPG Desa Watukebo hanya mengirimkan 135 porsi MBG, sehingga terjadi kekurangan 24 paket ompreg MBG.

Dalam kondisi serba terbatas, pihak sekolah terpaksa mengambil keputusan pahit. Demi pemerataan, seluruh siswa kelas VI dikorbankan untuk tidak menerima jatah MBG di hari pertama pelaksanaan program nasional tersebut.

Kepala Sekolah SDN 1 Bimorejo, Suyono, tak menutupi kekecewaannya. Ia menyebut bahwa pihak SPPG telah berjanji akan mengganti kekurangan tersebut keesokan harinya.

“SPPG berjanji besok siswa kelas enam akan mendapat jatah double. Mungkin salah satunya dalam bentuk makanan kering,” ujar Suyono kepada Jurnalnews di ruang kerjanya.

Lebih memprihatinkan lagi, menurut Suyono, data jumlah siswa sudah diserahkan dua minggu sebelumnya, bahkan pihak SPPG telah dua kali datang ke sekolah untuk validasi data, termasuk pendataan siswa yang memiliki alergi makanan.

“Sudah dua kali ke sini, termasuk pendataan anak-anak yang punya alergi,” imbuhnya.

Tak hanya kelas VI yang kecewa. Siswa kelas I juga ikut terdampak, karena keterlambatan pengiriman MBG. Anak-anak yang seharusnya pulang pukul 10.00 WIB, terpaksa menunggu hingga lewat pukul 11.00 WIB demi mendapatkan makanan.

“Harusnya sudah pulang, tapi ini nunggu MBG sampai jam 11 lewat. Saya berharap ke depan pengantaran lebih pagi, supaya bisa dimakan saat jam istirahat dan tidak mengganggu jam belajar,” pinta Suyono.

Hari pertama MBG di SDN 1 Bimorejo yang seharusnya menjadi simbol keberhasilan program nasional justru berubah menjadi potret nyata buruknya kesiapan teknis di lapangan. Sebuah ironi besar: ketika negara bicara gizi dan masa depan generasi, anak-anak justru harus belajar tentang arti menunggu, kecewa, dan ketidakpastian.

Jika persoalan seperti ini terus terjadi, bukan tak mungkin kepercayaan publik terhadap program MBG akan terkikis, sebelum program itu benar-benar mengakar kuat di tengah masyarakat. (Venus Hadi)