Gelar Ritual Mantu Kucing

0
1061

PURWOHARJO – Warga Dusun Curahjati, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, melaksanakan ritual mantu kucing kemarin (19/11). Kegiatan yang sudah menjadi tradisi itu digelar untuk minta hujan. Bagi warga Dusun Curahjati, Desa Grajagan,  ritual mantu kucing bukan hanya untuk minta hujan.

Tetapi, juga dilakukan untuk bersih desa yang biasa dilakukan setiap Suro. “Ini  untuk minta hujan,” cetus Supriyono, 65, ketua  adat setempat.  Ritual mantu kucing, terang dia, merupakan tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan.  Setiap datang musim kemarau, warga selalu  melaksanakan ritual itu.

“Mantu kucing ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu,” katanya.  Tradisi mantu kucing yang digelar warga Dusun Curahjati, Desa Grajagan, itu merupakan  ritual menikahkan kucing jantan dan betina.  “Sepasang kucing itu kita nikahkan,” ungkap  Supriyono kepada Jawa Pos Radar Genteng.

Dalam prosesi mantu kucing itu, kucing jantan diberi nama Bejo. Kucing betina diberi  nama Seneng Lestari. Kedua kucing jantan  dan betina itu dimasukkan kerangkeng yang terpisah. Selanjutnya, oleh warga diarak menuju sumber air di kampung itu.

Dalam prosesi itu, ratusan warga beramai-ramai mengarak mempelai kucing. Layaknya pengantin, kedua mempelai dilengkapi hiasan kembar mayang. Selama diarak keliling kampung diiringi gamelan jaranan. “Agar (gamelan) suasana  tambah semarak, dan warga bisa  ikut,” ujar Kusnadi, 50, salah satu  tokoh masyarakat setempat.

Setelah tiba di sumber air umbul, kedua kucing itu dipertemukan  dan dinikahkan oleh sesepuh desa, Supriyono. Setelah dilakukan doa,  kedua mempelai kucing itu di ceburkan  ke sumber air secara bersama. Bersamaan dengan itu, warga yang ikut menyaksikan  prosesi mantu kucing itu mengambil air sumber dan menyiramkan  ke warga.

“Ayo hujan, hujan, hujan,” teriak warga bersahutan. Setelah prosesi mantu kucing itu selesai, acara dilanjutkan sedekah bumi dan berdoa bersama. Kegiatan itu, warga berharap dengan  sedekah itu dapat memberikan berkah bagi mereka, terutama berkah turunnya hujan.

Usai doa,  mereka makan tumpeng yang  sudah disiapkan.  Untuk minum, warga telah menyiapkan dawet dengan jumlah cukup banyak. Dawet yang dibawa itu bukan hanya diminum, tapi juga disemburkan kepada warga  lain.

“Semua yang hadir bisa  makan bersama. Ini untuk memupuk persaudaraan dan silaturahmi antar warga,” terang Kusnadi. (radar)