Harga Telur Tak Kunjung Stabil, Peternak Puyuh Terancam Gulung Tikar

0
1114


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

TEGALSARI – Takut gulung tikar akibat harga telur yang tidak stabil, para peternak burung puyuh banyak yang memilih menutup usahanya untuk sementara.

Abrori (47), salah satu peternak burung puyuh asal Desa Tamansari, Kecamatan Tegalsari, mengaku sudah dua bulan terakhir kandang burung puyuh miliknya dikosongkan karena harga telur yang tidak bisa stabil. “Saya belum mau mengisi lagi,” katanya.

Harga telur puyuh dalam beberapa minggu belakangan ini, jelas dia, hanya Rp 20 ribu per kilogram. Bahkan, di sebagian daerah malah lebih murah. Padahal, harga telur puyuh itu minimal Rp 22 ribu per kilogram. Dengan harga Rp 22 ribu per kilogram, peternak bisa mendapatkan untung. “Ada yang Rp 19 ribu per kilogram, jelas rugi itu,” ujarnya.

Peternak burung puyuh untuk saat ini tidak bisa berbuat banyak terkait harga telur. Sejumlah peternak yang mencoba menyepakati soal harga, ternyata juga tetap tidak berhasil karena pedagang atau tengkulak akan berpindah pada peternak lain.

“Harusnya yang membuat harga itu kita, tetapi tidak bisa karena ada suplai dari peternak luar daerah seperti Blitar dan Tulungagung,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah atau dinas terkait bisa campur tangan dalam menyikapi persoalan ini, baik melalui aturan maupun penyediaan kebutuhan seperti pakan. Menurutnya, jika aturan penjualan telur dari luar daerah bisa dikontrol, setidaknya peternak lokal bisa terbantu. “Ini pakan dari pedagang, susah untuk dikendalikan,” katanya.

Kebutuhan pakan burung puyuh itu, lanjut Abrori, setiap 1000 ekor butuh pakan 50 kilogram dalam waktu dua hari. Sedangkan harga pakan, itu rata-rata Rp 270 ribu. “Kemampuan produksi telur maksimal delapan kilogram per hari,” terangnya.

Jika harga telur hanya Rp 20 ribu per kilogram, lanjut dia, maka uang yang didapat peternak hanya sekitar Rp 160 ribu per hari atau Rp 320 ribu per dua hari. Bila jumlah ini dikurangi harga pakan, maka hanya tersisa Rp 50 ribu dan itu dianggap sangat tipis. “Padahal masih ada pengeluaran lainnya,” cetusnya.

Peternak lainnya, Saini, 36, mengatakan permainan pasar untuk telur puyuh memang cukup tinggi. Berbeda dengan telur bebek yang hargnya relatif stabil, dan bisa saling mengisi ketika di daerah lain sedang murah atau mahal.

“Kalau bebek itu saat di daerah lain mahal di sini murah, maka yang sini dibawa ke sana, tapi kalau puyuh kok belum bisa,” jelasnya.

Menurutnya ini harus segera disikapi pemerintah karena kegitan ternak puyuh ini banyak dilirik anak muda yang baru lulus kuliah. Semestinya, jika ini bisa berjalan baik, maka angka pengangguran juga bisa berkurang. Tetapi jika prospeknya buruk, maka pemuda yang awalnya tertarik akan enggan memulai.

“Anak-anak muda itu banyak yang akan mencoba usaha tenak puyuh, tapi kalau seperti ini ya jelas kabur,” terangnya.

Jefri Purnomo, pemuda dari Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, ini mengaku kalau saat ini sedang usaha temak puyuh. Tapi, terpaksa ditutup karena harga telur yang tidak sesuai dengan biaya produksi. “Saya sudah dua bulan lebih berhenti, harga telur puyuh anjlok,” ucapanya.

Loading...

JUAL KAYU MURAH BERBAGAI JENIS & UKURAN

JUAL KAYU MURAH BERBAGAI JENIS & UKURAN

"JUAL KAYU MERANTE-KAMPER-BORNEO-DLL.ASAL SUMATRA" "UKURAN KAYU BORNEO" 1).KAYU BORNEO RENG RENG: 3 x 4 x 400 cm = Rp. 2.000.000…
10/22/2018
jakarta

Kata kunci yang digunakan :

Baca Juga :