Ikatan Persaudaraan TKI Banyuwangi Sangat Erat

0
339
Karyawan Jawa Pos Radar Banyuwangi bersama TKI dan mahasiswa asal Banyuwangi di bandara internasional T2, Kuala Lumpur.

PAGIPAGI sebelum matahari terbit, kami sudah bangun. Setelah jam menunjukkan pukul 07.00 waktu Malaysia, kami bergegas mandi. Di sana, matahari  baru muncul pukul 07.30, sehingga  kami masih bisa menikmati suasana pagi di kota Kuala Lumpur.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Selesai mandi, kami sengaja check out lebih awal dari hotel yang kami tempati selama dua malam. Kami masih penasaran dengan banyaknya mobil dan minimnya sepeda motor. Kami pun meminta M. Chafidc Ali Wafa  untuk segera bergabung di sebuah  warung kopi milik warga Malaysia.

Kami dan Ali Wafa selanjutnya sarapan  di warung tersebut. Sesekali kami mengajak ngobrol Haswati, pemilik warung kopi dengan bahasa Melayu. Logat  bicaranya tak jauh dengan film animasi  Upin dan Ipin. Menurutnya, berjualan di Malaysia hanya bisa saji jenis penjualan barang.

“Kalau berjualan makanan, maka bisa dengan minumannya, selain itu tidak boleh. Kalau camilan ya itu saja, beda dengan di Indonesia,”  kata perempuan yang memiliki keluarga tinggal di Kalibaru itu.  Setelah cukup lama berada di warung,  pukul 10.00 kami bergeser untuk melihat permukiman warga asli Malaysia. Kami   sengaja diajak masuk ke perkampungan warga.

Menurut Ali, itu akan bisa menjawab rasa penasaran kami tentang  banyaknya mobil dan minimnya sepeda motor. “Nanti akan tahu sendiri,” kata Ali. Begitu sampai di permukiman warga,  kami cukup terkejut. Ternyata, rumah-rumah warga Malaysia tidak  seperti yang kami bayangkan sebelumnya.

Rumah- rumah di sana, tak jauh berbeda dengan rumah-rumah yang ada saat ini. Bedanya, rumah warga di sana mayoritas lebih kecil dibanding yang ada di Banyuwangi. Rata-rata ukuran rumah di kampung-kampung, hanya berukuran sekitar 8×14 meter atau seperti perumahan yang ada di Banyuwangi.

 Tak hanya itu, kami juga dikejutkan dengan  lingkungan perkampungan warga Malaysia. Beberapa lokasi yang kami datangi di pinggiran  kota Kuala Lumpur, ternyata lebih kumuh dari per kampungan warga di Banyuwangi. Padatnya aktivitas warga Malaysia sepertinya membuat mereka tidak rajin menyapu seperti di kampung Banyuwangi.

Loading...

Kondisi rumah yang serba sederhana itu yang  membuat mayoritas keluarga di Malaysia memiliki  kendaraan jenis mobil. “Ini yang disebut bahwa mobil adalah rumah kedua bagi warga Malaysia.  Jadi, kalau dilihat secara kasat mata mereka  memang terlihat lebih kaya. Tapi sebenarnya sama saja. Cuma, nilai ringgit lebih tinggi dari rupiah,” paparnya.

Sambil berada di dalam mobil, rasa penasaran kami cukup terobati. Kami terus melanjutkan  perjalanan menuju pusat kota Kuala Lumpur.Kami ingin menyaksikan pusat pemerintahan yang  ada di Malaysia. Perjalanan dari pinggir  kota ke Kuala Lumpur sebenarnya hanya berjarak sekitar 30 Kilometer. Namun waktu  per jalanan memakan sekitar 2 jam.

Kami yang cukup lelah menyempatkan diri untuk makan siang di warung tengah kota.  Nah, di warung ini kami bertemu dengan beberapa TKI asal Banyuwangi. Begitu mengetahui ada warga Banyuwangi, dua pelayan langsung menghampiri kami dengan menawarkan makanan menggunakan Bahasa Oseng.

“Saya dua tahun belum pulang. Rencananya hari raya Idul Fitri yang akan datang. Bagaimana, semua sehat,” katanya sambil mencatat pesanan makan siang kami. Di warung tersebut kami juga bertemu dengan  sejumlah warga Banyuwangi yang kebetulan juga makan siang.

Obrolan menggunakan Bahasa Oseng  kian kental sehingga suasana seperti di Banyuwangi.  Setiap ada warga yang akan berpisah meninggalkan warung tersebut, warga yang lebih muda kerap  berpesan agar jangan sampai sakit. “Kalau sakit, mau periksa mahal. Daftarnya  saja 300 Ringgit. Itu belum bayar obatnya.  Makanya, sesama warga Banyuwangi biasa berpesan jaga kesehatan dan jangan sakit,”  ujar Khotijah, warga Rogojampi yang menjadi  salah satu pelayan di warung tersebut.

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan melihat gedung-gedung pemerintahan. Di sana, kantor-kantor pemerintahan dilokalisasi  menjadi satu lokasi dengan sistem pelayanan satu atap. Sehingga, warga yang hendak mengurus surat apapun bisa cepat selesai.

Pemerintahan di Malaysia sebenarnya cukup  sederhana. Sebab, wilayahnya tak seluas di Indonesia. Jika dilihat dari jumlah penduduk, maka luas wilayahnya hanya seperti Jawa  Timur saja. Sementara jumlah penduduknya  masih sekitar 30 juta jiwa.

“Kalau negara dengan negara yang dibandingkan sangat jauh. Malaysia hanya seperti Jawa Timur. Hanya saja, bangunan  di tengah kota lebih maju dari yang ada di  Indonesia. Jadi jangan membandingkan antara  Indonesia yang sangat luas dengan Malaysia yang begitu kecil dilihat dari luas wilayahnya,” ungkap Ali Wafa.

Usai mengelilingi pusat pemerintahan Malaysia, kami segera bergeser ke Bandara  Internasional T2 Kuala Lumpur. Di sana, kami disambut oleh Irzal Maryanto Ashaby, warga  Banyuwangi yang cukup sukses di Malaysia.  Di bandara itu, kami juga bertemu dengan sejumlah TKI yang hendak pulang ke Indonesia. Kepada warga yang lebih tua, Kang Yanto  pun juga kerap berpesan agar mereka selalu  menjaga kesehatan.

“Ini selalu disampaikan sebagai bentuk keeratan keluarga. Lebih-lebih kita sesama warga Banyuwangi sudah menganggap seperti saudara,” tegasnya.  Di bandara tersebut, kami selanjutnya berpisah  dengan saudara-saudara yang menjadi TKI  dan mahasiswa di sana. Kami pun naik pesawat dengan beberapa TKI yang hendak libur kerja. (radar)

Loading...