Jaga Kualitas Suara, Benamkan Kepala di Air

0
1233
Nanang Qosim bersama Burhadi.

JAM tangan sudah menunjukkan pukul 10.40. Seorang lelaki dengan mengenakan sarung dan baju koko berwarna putih tampak berjalan dengan cukup hati-hati. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat, kedua matanya terbungkus kacamata hitam.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Sementara tangan kirinya meraba-raba di sekelilingnya. Lelaki muda itu adalah Nanang Qosim,  penyandang tuna netra warga Dusun Labansukadi, Desa Labanasem, Kabat. Meski kedua matanya tidak lagi bisa melihat dengan normal, Nanang masih mampu berjalan kaki menuju masjid di sekitar rumahnya.

Tongkat di tangan kanan seolah menunjukkan arah menuju Masjid Baitul Muttaqin yang berjarak sekitar 100 meter dengan melewati gang-gang sempit perkampungan padat penduduk. Dengan tegap dan tenang, Nanang akhirnya sampai di pintu gerbang samping masjid.

Begitu sampai di serambi masjid, Nanang meletakkan kopiah dan melinting kain di lengannya. Sejurus kemudian, Nanang berjalan menuju tempat bersuci mengambil air wudlu yang terletak di depan masjid. “Saya sudah terbiasa dan hafal, jadi tidak perlu alat bantuan. Cukup dengan hitungan kaki saja,” ungkap  Nanang.

Usai wudhu, anak tunggal pasangan suami-istri Jubaidi, 53, dan Sumaiyah, 50, kembali mengenakan kopiah dan masuk ke dalam masjid. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.17. Dia langsung mengambil sebuah microphone dan mulai melantunkan salawat tarhim.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | ... | Next → | Last