Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Jalur KA Kalisat–Panarukan Jadi Prioritas Nasional, Reaktivasi Rel 70 Km Tinggal Selangkah Lagi

jalur-ka-kalisat–panarukan-jadi-prioritas-nasional,-reaktivasi-rel-70-km-tinggal-selangkah-lagi
Jalur KA Kalisat–Panarukan Jadi Prioritas Nasional, Reaktivasi Rel 70 Km Tinggal Selangkah Lagi

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Proyek reaktivasi jalur kereta api (KA) nonaktif di Jawa Timur mendapat dorongan baru.

Pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (Ditjen Perkeretaapian) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menetapkan jalur Kalisat–Panarukan sebagai prioritas utama untuk dihidupkan kembali.

Jalur sepanjang kurang lebih 70 kilometer ini menghubungkan Stasiun Kalisat, Kabupaten Jember, dengan Stasiun Panarukan, Kabupaten Situbondo, dan masuk dalam Wilayah Aset 9 Jember.

Secara kepemilikan, jalur tersebut merupakan aset negara yang berada di bawah Ditjen Perkeretaapian, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

Penetapan jalur Kalisat–Panarukan sebagai prioritas bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil studi kelayakan (feasibility study) yang rampung pada akhir 2023, lintasan ini dinilai paling siap dan paling potensial dibandingkan jalur nonaktif lainnya di Jawa Timur.

Dalam kajian tersebut, jalur Kalisat–Panarukan menempati peringkat pertama reaktivasi, mengungguli jalur Lumajang–Pasirian, Madiun–Slahung, Babat–Tuban, hingga jalur KA Madura.

Secara historis, jalur KA Kalisat–Panarukan memiliki peran penting dalam perkembangan transportasi dan ekonomi kawasan Tapal Kuda.

Jalur ini pertama kali diresmikan pada 1 Oktober 1897 oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, sebagai bagian dari proyek pembangunan jalur Jember–Panarukan.

Stasiun-stasiun di sepanjang lintasan ini dikenal memiliki nilai arsitektur tinggi dengan gaya Neoklasik dan Indische Empire, yang hingga kini masih menjadi saksi bisu kejayaan perkeretaapian masa kolonial.

Selain jalur utama, terdapat pula jalur cabang dari Stasiun Situbondo (Sumberkolak) menuju Pabrik Gula Panji, meski lintasan tersebut sudah lebih dahulu ditutup.

Sebelum dinonaktifkan, jalur Kalisat–Panarukan melayani kereta lokal Jember–Panarukan yang berfungsi sebagai angkutan penumpang sekaligus feeder.

Layanan ini menggunakan lokomotif diesel hidraulis Henschel seri BB303 dan BB306, yang menarik tiga unit kereta penumpang ekonomi non-AC.

Kereta lokal tersebut menjadi andalan warga Situbondo dan sekitarnya untuk menjangkau Stasiun Jember, terutama bagi masyarakat di wilayah pelosok yang belum terlayani moda transportasi lain secara optimal.

Namun, memasuki awal 2004, operasional jalur ini mulai dihentikan secara bertahap. Pada pertengahan tahun yang sama, PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi menonaktifkan jalur Kalisat–Panarukan.


Page 2

Penurunan jumlah penumpang, kondisi infrastruktur yang menua, serta kalah bersaing dengan kendaraan pribadi dan angkutan jalan raya menjadi faktor utama penutupan.

Meski sempat mati suri selama hampir dua dekade, peluang kebangkitan jalur ini kembali terbuka setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2019 tentang percepatan pembangunan ekonomi di sejumlah kawasan strategis, termasuk pengembangan dan reaktivasi jalur kereta api.

Berdasarkan hasil studi kelayakan terbaru, jalur Kalisat–Panarukan dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah Jember–Situbondo.

Selain itu, reaktivasi jalur ini juga diyakini dapat mengurangi beban lalu lintas jalan raya dan menghadirkan transportasi massal yang lebih ramah lingkungan.

Dengan status prioritas yang kini disematkan, proyek reaktivasi jalur KA Kalisat–Panarukan diharapkan segera masuk ke tahap perencanaan teknis dan pembangunan fisik.

Pemerintah pusat bersama pemangku kepentingan di daerah pun diharapkan dapat bersinergi agar proses reaktivasi berjalan lancar.

Hidupnya kembali rel peninggalan Belanda ini bukan sekadar menghadirkan moda transportasi baru, tetapi juga membuka kembali jalur sejarah yang pernah menjadi denyut nadi ekonomi kawasan Tapal Kuda Jawa Timur. (*)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Proyek reaktivasi jalur kereta api (KA) nonaktif di Jawa Timur mendapat dorongan baru.

Pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (Ditjen Perkeretaapian) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menetapkan jalur Kalisat–Panarukan sebagai prioritas utama untuk dihidupkan kembali.

Jalur sepanjang kurang lebih 70 kilometer ini menghubungkan Stasiun Kalisat, Kabupaten Jember, dengan Stasiun Panarukan, Kabupaten Situbondo, dan masuk dalam Wilayah Aset 9 Jember.

Secara kepemilikan, jalur tersebut merupakan aset negara yang berada di bawah Ditjen Perkeretaapian, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

Penetapan jalur Kalisat–Panarukan sebagai prioritas bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil studi kelayakan (feasibility study) yang rampung pada akhir 2023, lintasan ini dinilai paling siap dan paling potensial dibandingkan jalur nonaktif lainnya di Jawa Timur.

Dalam kajian tersebut, jalur Kalisat–Panarukan menempati peringkat pertama reaktivasi, mengungguli jalur Lumajang–Pasirian, Madiun–Slahung, Babat–Tuban, hingga jalur KA Madura.

Secara historis, jalur KA Kalisat–Panarukan memiliki peran penting dalam perkembangan transportasi dan ekonomi kawasan Tapal Kuda.

Jalur ini pertama kali diresmikan pada 1 Oktober 1897 oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, sebagai bagian dari proyek pembangunan jalur Jember–Panarukan.

Stasiun-stasiun di sepanjang lintasan ini dikenal memiliki nilai arsitektur tinggi dengan gaya Neoklasik dan Indische Empire, yang hingga kini masih menjadi saksi bisu kejayaan perkeretaapian masa kolonial.

Selain jalur utama, terdapat pula jalur cabang dari Stasiun Situbondo (Sumberkolak) menuju Pabrik Gula Panji, meski lintasan tersebut sudah lebih dahulu ditutup.

Sebelum dinonaktifkan, jalur Kalisat–Panarukan melayani kereta lokal Jember–Panarukan yang berfungsi sebagai angkutan penumpang sekaligus feeder.

Layanan ini menggunakan lokomotif diesel hidraulis Henschel seri BB303 dan BB306, yang menarik tiga unit kereta penumpang ekonomi non-AC.

Kereta lokal tersebut menjadi andalan warga Situbondo dan sekitarnya untuk menjangkau Stasiun Jember, terutama bagi masyarakat di wilayah pelosok yang belum terlayani moda transportasi lain secara optimal.

Namun, memasuki awal 2004, operasional jalur ini mulai dihentikan secara bertahap. Pada pertengahan tahun yang sama, PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi menonaktifkan jalur Kalisat–Panarukan.