Kawin Colongan

0
514

BANYUWANGI – Adat kawin colongan masyarakat Banyuwangi tempo dulu, dipentaskan dalam bentuk teater di panggung seni budaya Taman Blambangan Sabtu malam kemarin (26/5). Penampilan cerita tradisi kawin colongan itu cukup menyedot perhatian pengunjung acara apresiasi seni dan budaya daerah tersebut. Bupati Abdullah Azwar Anas bersama istri dan sejumlah pejabat pemkab hadir menyaksikan pentas tersebut. Beberapa turis asal Jerman dan Prancis juga ikut menyaksikan budaya Banyuwangi tempo dulu itu.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Dalam teater itu diceritakan, tempo dulu ada seorang warga Banyuwangi bernama Darmono. Dia memiliki anak perempuan bungsu bernama Darwani dan perguruan silat. Pada waktu yang bersamaan, ada warga lain bernama Bu Rehana. Perempuan setengah tua itu memiliki anak lelaki bernama Nur Zaman. Singkat cerita, Nur Zaman ini menjalin hubungan cinta dengan Darwani. Sayangnya, cinta sejoli itu tidak mendapat restu dari keluarga Darwani. Karena keduanya sudah sama-sama cinta mati, maka ditempuh melalui proses kawin colongan.

Dalam proses kawin colongan itu, calon pengantin laki-laki itu membawa pergi calon pengantin perempuan dari rumahnya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Setelah dicolong, calon pengantin perempuan dibawa pulang ke rumah pengantin laki-laki. Setelah berhasil dicuri, calon pengantin laki-laki mengirim utusan pada keluarga calon pengantin perempuan untuk memberitahukan bahwa calon pengantin perempuan sudah ada di rumah pengantin laki-laki.

Utusan pengantin laki-laki itu disebut dengan istilah colong. Colong ini tugasnya memberitahukan keberadaan calon pengantin perempuan kepada keluarganya. Pada saat yang sama, colong ini bertugas untuk melakukan negosiasi pelaksanaan akad dan resepsi pernikahan dengan keluarga pengantin perempuan. Dalam proses negosiasi itu, keluarga calon pengantin perempuan tidak langsung setuju namun harus melalui perdebatan yang alot.

Perdebatan alot pun tidak bisa dihindari. Bahkan, dua keluarga ini sempat akan terjadi kontak fisik walau pada akhirnya mau melaksanakan akad nikah dan resepsi pernikahan. Sebelum menyetujui, keluarga calon pengantin perempuan mengajukan satu syarat. Yakni, minta diajari ilmu silat baru kepada pihak keluarga calon pengantin laki. Cerita disajikan gabungan kelompok teater di Banyuwangi.

Pentas terakhir pada bulan Mei itu mendapat apresiasi dari pengunjung. “Kita akan eksplore terus kekayaan budaya dan seni kita untuk ditampilkan dalam pentas budaya dan seni,” ujar Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Suprayogi. (radar)