Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Ke Sekolah Terpaksa Menumpang Perahu

Daftarkan email Anda untuk Berlangganan berita dikirim langsung ke mailbox Anda
DARURAT: Beberapa siswa SDN 5 Wringinputih, Muncar menyeberangi sungai menggunakan perahu untuk sampai ke sekolah.

MUNCAR – Imbas runtuhnya jembatan gantung, beberapa siswa SD Negeri 5 Wringinputih, Kecamatan Muncar, yang berasal dari Desa Kedungringin terpaksa berangkat ke sekolah menumpang perahu. Meski harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 1.000 untuk pergi-pulang (PP) ke tempatnya menimba ilmu, para siswa tersebut tetap memilih menyeberangi sungai menumpang perahu.

Pasalnya, jika harus memutar melalui jalan lain, jarak yang harus mereka tempuh mencapai lima kilometer (km) lebih. Seperti diutarakan Bagas, siswa kelas III SD Negeri 5 Wringinputih. Sehari-hari bocah yang satu ini berangkat ke sekolah melalui jembatan yang tidak jauh dari rumahnya itu.

“Tetapi, karena kini jembatan itu rusak, saya terpaksa menumpang perahu,” ujarnya kemarin (2/4). Menuju perahu, Bagas dan rekan-rekannya harus melalui medan cukup sulit. Salah satunya adalah meniti bambu berundak di tepi sungai yang berfungsi sebagai tangga. Tak ayal, para siswa itu harus ekstra berhati-hati agar tidak nyemplung.

Sementara itu, jembatan berbahan kayu yang ambruk Jumat sore (30/3) itu sudah mulai diperbaiki. Bahkan, jika tidak ada hambatan, hari ini (3/4) jembatan tersebut sudah bisa digunakan lagi. “Jembatan ini rusak karena ujung salah satu tiang yang menyangga tali jembatan patah. Hal itu diduga karena beban jembatan terlalu berat. Apalagi, banyak siswa yang kerap mengayun-ayun tali tersebut,” papar Slamet, salah satu pekerja.

Diberitakan sebelumnya, jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Krajan, Desa Kedungringin, dan Dusun Kawangsari, Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, mendadak ambrol Jumat sore (30/3). Akibatnya, puluhan siswa SMP yang saat itu berada di atas jembatan tercebur ke sungai.

Didit, 13, salah satu siswa SMP Negeri 4 Muncar, yang juga menjadi korban mengatakan, jembatan itu ambruk sekitar pukul 16.00. Saat itu dia melintas bersama beberapa temannya. Didit mengaku pulang sekolah pada jam sekian karena masuk sekolah pada siang hari. “Karena sekolah kami sekolah satu atap. Jadi, pagi hari digunakan siswa SD Negeri 5 Wringinputih, dan siang hari digunakan SMP kami,” tuturnya. (radar)