Kebo-Keboan Bersamaan di Aliyan dan Alasmalang

  • Bagikan

keboSINGOJURUH – Tradisi Kebokeboan digelar bersamaan do Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, dan Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, kemarin (10/11). Warga Desa Aliyan melaksanakan ritual Keboan ini pada pukul 06.00. Sejumlah warga yang berdandan layaknya kerbau, melaksanakan tradisi berjalan kaki mengelilingi jalandesa. Warga yang berdandan ala  kerbau itu tampak kesurupan.

Sambil menari-nari, warga yang berdandan ala kerbau itu makan arang yang sedang menyala. Tidak sedikit dari warga setempat dan pengunjung yang menyaksikan ritual ini, ikut kesurupan dan menari-nari bersama Keboan tersebut. Meski penuh dengan nuansa magis, kegiatan ritual ini berlangsung lancar hingga ditutup pada pukul 08.00. “Kebo-keboan di Desa Aliyan penuh dengan magis, tapi pelaksanaannya berlangsung aman dan lancer,” terang Kapolsek Rogojampi Komp o l Bagio SP.

Usai tradisi Keboan di Desa Aliyan, dilanjutkan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. Untuk kegiatan di Desa Alasmalang, ritual Kebokeboan biasanya dilaksanakan pada pukul 08.00. Tapi karena masih menunggu kedatangan Bupati Abdullah Azwar Anas, acara dilaksanakan pada pukul 10.15. “Biasanya Kebo-keboan dimulai pukul 08.00,” cetus sesepuh Desa Alasmalang, Suprapto, 74. Ritual kebo-keboan di Desa Alasmalang yang sudah menjadi kalender wisata Kabupaten Banyuwangi itu, diawali dengan ijab kabul yang dipimpin oleh Suprapto.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan bersama di tengah jalan. “Makan bersama di tengah jalan itu selamatan dan bentuk syukur,” terang Suprapto. Ider bumi yang ditandai dengan pelepasan Kebo-keboan itu baru dilaksanakan, setelah selamatan tersebut. Belasan warga yang berdandan mirip kerbau dengan tubuh dicat warna hitam, berjalan menyusuri jalan yang dipenuhi dengan air. Sesekali, di antara kerbau itu berbuat nakal dengan mencolek dan merangkul sejumlah pengunjung perempuan.

Belasan manusia kerbau yang diikat dengan tali dan dipegangi pemiliknya itu, terus berjalan menelusuri jalanan kampung yang ada di Dusun Krajan, Desa Alasmalang. Ribuan warga yang tumplek blek ini lokasi ider bumi, membuat tradisi ritual ini tidak bisa berjalan lancar. “Kebo-keboan ini bentuk terima kasih warga pada Tuhan,” sebut sesepuh desa, Suprapto. Menurut Suprapto, ritual ini digagas oleh Buyut Karti sejak puluhan tahun lalu. Saat itu, di desa tersebut dilanda pagebluk panjang, hingga membuat warga banyak yang kelaparan.

“Buyut Karti mengumpulkan warga dan mengajak selamatan,” terangnya. Hewan kerbau yang dipilih dalam ritual ini, jelas Suprapto, juga pilihan dari Buyut Karti. Hewan ini dipilih karena saat itu, warga lebih banyak memanfaatkan kerbau dalam mengelola persawahan. “Dulu itu membajak sawah dengan menggunakan kerbau,” cetusnya. Setelah dilaksanakan selamatan dan upacara Kebo-keboan, pagebluk yang melanda warga hilang. Perlahan, masyarakatbisa mengelola persawahan dengan baik dan hasilnya melimpah.

“Tradisi ini akhirnya berjalan turun menurun hingga sekarang,” ungkapnya. Sementara Bupati Abdullah Azwar Anas yang hadir dalam acara ini mengapresiasi tradisi Kebo-keboan yang digelar warga Desa Alasmalang. “Tradisi Kebo-keboan ini sangat bagus dan luar biasa,” pujinya. Karena dianggap tradisi yang baik, bupati menyebut dalam kegiatan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) beberapa waktu lalu, mengambil tema besar mengenai Kebo-keboan. “BEC itu dulu dikritik habishabisan karena dianggap melenceng dari tradisi yang ada, padahal mengenalkan tradisi pada dunia internasional,” dalihnya. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: