sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tengah menyiapkan terobosan baru untuk mempermudah jamaah haji dalam membeli oleh-oleh.
Inovasi tersebut berupa platform digital khusus oleh-oleh haji, sehingga jamaah tidak perlu lagi berbelanja langsung di Arab Saudi.
Pengembangan platform ini dirancang terintegrasi dengan produk-produk unggulan buatan dalam negeri, sekaligus menjadi strategi untuk memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam ekosistem ekonomi haji dan umrah Indonesia.
Dikutip dari laman himpuh.or.id, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj, Jaenal Effendi, mengungkapkan bahwa selama ini banyak oleh-oleh yang dijual di Tanah Suci ternyata berasal dari Indonesia.
Namun, karena tidak ada sistem terintegrasi, produk tersebut justru dibeli kembali oleh jamaah di luar negeri.
“Kami sedang mengembangkan platform oleh-oleh haji. Jadi jamaah belum sampai ke rumah, barang-barang oleh-oleh ini sudah sampai duluan. Kami tidak perlu investasi atau keluar uang banyak ke luar negeri, tapi produknya dibeli di Indonesia,” ujar Jaenal saat ditemui di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa.
Melalui skema ini, jamaah cukup melakukan pemesanan lewat aplikasi digital, bahkan sejak masih berada di asrama haji sebelum keberangkatan atau kepulangan.
Selanjutnya, produk oleh-oleh akan dikirim langsung ke alamat rumah jamaah dengan memanfaatkan layanan logistik dalam negeri.
Jaenal menjelaskan, pendekatan ini tidak hanya memudahkan jamaah, tetapi juga mengurangi beban membawa barang berat dari Arab Saudi.
Selama ini, oleh-oleh kerap menjadi salah satu kendala jamaah karena keterbatasan bagasi dan risiko kelebihan muatan.
Lebih lanjut, Jaenal membeberkan fakta bahwa banyak produk religius yang beredar luas di Arab Saudi sejatinya berasal dari perajin Indonesia.
Salah satunya adalah tasbih yang banyak dijual di pasar-pasar Makkah dan Madinah.
“Tasbih-tasbih yang ada di Saudi itu ternyata datang dari Jepara,” ungkapnya.
Selain tasbih, Jaenal menyebut cokelat dari Garut, Jawa Barat, sebagai salah satu produk potensial yang bisa dikembangkan menjadi oleh-oleh haji resmi.
Page 2
Menurutnya, kualitas dan daya saing produk UMKM Indonesia tidak kalah dengan produk impor.
“Cokelat dari Garut juga potensial. Ini tugas kami untuk mengidentifikasi dan memetakan produk apa saja yang bisa dijadikan oleh-oleh,” kata Jaenal.
Tak hanya produk kerajinan, Kemenhaj juga mulai memetakan hasil pertanian lokal yang berpeluang masuk dalam katalog oleh-oleh haji.
Salah satu yang disorot adalah kurma dari Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Jaenal menyebut, kurma Lombok Utara memiliki kualitas nutrisi yang sangat baik, bahkan diklaim menempati peringkat ke-7 terbaik di dunia.
Potensi ini dinilai layak dikembangkan sebagai alternatif oleh-oleh kurma yang selama ini identik dengan Arab Saudi.
Untuk mendukung ekosistem tersebut, Kemenhaj juga berencana menggelar Expo UMKM Oleh-Oleh Haji.
Ajang ini bertujuan mengurasi dan menyeleksi produk-produk lokal yang layak dipasarkan kepada jamaah melalui platform digital resmi.
Rencananya, expo tersebut akan dibagi ke dalam tiga zona, yakni wilayah Indonesia timur, tengah, dan barat, agar potensi UMKM dari seluruh daerah bisa terakomodasi secara merata.
Jaenal optimistis, skema belanja oleh-oleh secara digital ini akan diminati jamaah.
Selain praktis, sistem tersebut juga dinilai lebih efisien dan aman, tanpa harus repot membawa barang dalam jumlah besar selama perjalanan pulang.
Berdasarkan data yang dimiliki Kemenhaj, rata-rata jamaah haji Indonesia membawa uang saku dalam jumlah cukup besar dan mampu membeli hingga 20 kilogram oleh-oleh.
Jika belanja tersebut dialihkan ke produk UMKM lokal melalui platform resmi, dampak ekonominya diyakini akan sangat signifikan.
“Bayangkan jika belanja oleh-oleh itu dilakukan di dalam negeri. Dampaknya akan langsung dirasakan sentra-sentra produksi di daerah,” pungkas Jaenal.
Melalui inovasi ini, Kemenhaj berharap ekonomi haji tidak hanya memberi manfaat spiritual, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi nasional berbasis UMKM. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tengah menyiapkan terobosan baru untuk mempermudah jamaah haji dalam membeli oleh-oleh.
Inovasi tersebut berupa platform digital khusus oleh-oleh haji, sehingga jamaah tidak perlu lagi berbelanja langsung di Arab Saudi.
Pengembangan platform ini dirancang terintegrasi dengan produk-produk unggulan buatan dalam negeri, sekaligus menjadi strategi untuk memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam ekosistem ekonomi haji dan umrah Indonesia.
Dikutip dari laman himpuh.or.id, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj, Jaenal Effendi, mengungkapkan bahwa selama ini banyak oleh-oleh yang dijual di Tanah Suci ternyata berasal dari Indonesia.
Namun, karena tidak ada sistem terintegrasi, produk tersebut justru dibeli kembali oleh jamaah di luar negeri.
“Kami sedang mengembangkan platform oleh-oleh haji. Jadi jamaah belum sampai ke rumah, barang-barang oleh-oleh ini sudah sampai duluan. Kami tidak perlu investasi atau keluar uang banyak ke luar negeri, tapi produknya dibeli di Indonesia,” ujar Jaenal saat ditemui di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa.
Melalui skema ini, jamaah cukup melakukan pemesanan lewat aplikasi digital, bahkan sejak masih berada di asrama haji sebelum keberangkatan atau kepulangan.
Selanjutnya, produk oleh-oleh akan dikirim langsung ke alamat rumah jamaah dengan memanfaatkan layanan logistik dalam negeri.
Jaenal menjelaskan, pendekatan ini tidak hanya memudahkan jamaah, tetapi juga mengurangi beban membawa barang berat dari Arab Saudi.
Selama ini, oleh-oleh kerap menjadi salah satu kendala jamaah karena keterbatasan bagasi dan risiko kelebihan muatan.
Lebih lanjut, Jaenal membeberkan fakta bahwa banyak produk religius yang beredar luas di Arab Saudi sejatinya berasal dari perajin Indonesia.
Salah satunya adalah tasbih yang banyak dijual di pasar-pasar Makkah dan Madinah.
“Tasbih-tasbih yang ada di Saudi itu ternyata datang dari Jepara,” ungkapnya.
Selain tasbih, Jaenal menyebut cokelat dari Garut, Jawa Barat, sebagai salah satu produk potensial yang bisa dikembangkan menjadi oleh-oleh haji resmi.







