Kerjakan Soal sambil Menahan Sakit Kepala

0
210

kerjakanM. Syaiful Hasan, 17, menyelesaikan pendidikan di MTs Miftahul Ulum, Desa Bengkak, Kecamatan Wongsorejo, tampaknya terlalu berat. Gara-gara kecelakaan saat pulang sekolah, dia harus mengerjakan soal ujian nasional (unas) susulan sambil menahan rasa sakit akibat geger otak (GO).


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

PRIA yang biasa disapa Syaiful itu se pintas terlihat segar dan bugar. Di beberapa bagian tubuhnya tidak tam pak ada luka yang serius. Dengan te nang, siswa kelas IX MTs itu terus memelototi lembaran naskah ujian di depannya. Dia mengerjakan soal sembari lesehan di lantai RSI Fatimah, Banyuwangi. Terlihat semangat yang luar biasa dari raut wajah siswa yang bernasib ma lang itu. Meski kondisinya kurang se hat setelah tabrakan pada Minggu (14/4) lalu, tapi bocah itu tetap serius mengerjakan soal-soal ujian.

“Se mangatnya ikut ujian memang tinggi,” cetus Siti Khotijah, ibu kandung Syaiful Hasan. Dengan duduk di lantai sambil meng hadap meja kecil yang biasa di gunakan para siswa taman kanakkanak (TK), Syaiful sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan. Tapi tidak lama, matanya kembali memelototi lembaran soal tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Tidak lama dari itu, Syaiful menghen tikan aktivitasnya.

Dengan tangan memegangi kepalanya, dari raut wajahnya terlihat dia se dang menahan rasa sakit. Se jumlah anggota keluarganya yang me nungguinya di rumah sakit pun ge lisah “Kalau pusing, istirahat dulu,” saran pengawas unas. Entah berapa kali, Syaiful yang sedang men jalani perawatan di Ruang Marwah Ke las II B2, RSI Fatimah, ini harus istirahat saat mengerjakan soal unas susulan. “Setiap kepala terasa pusing, Syaiful langsung istirahat,” sebut Kotijah.

Ibu kandung Syaiful tidak tahu berapa kali anak bungsunya itu istirahat saat mengerjakan soal-soal unas. Luka di ke pala bagian belakang akibat tabrakan menyebabkan dia tidak bisa berpikir serius ter lalu lama. “Kalau mikir serius, langsung pusing,” jelasnya. Keluarga sudah menyarankan Syaiful ti dak ikut unas tahun ini. Tetapi, bocah itu tidak mau menyerah. Dengan luka yang cu kup serius di kepala, dia tetap ingin me ngikuti ujian dan ingin lulus tahun ini. “Se mangatnya belajar memang besar,” katanya.

Sambil menoleh anaknya, Khotijah mengaku hanya pasrah terkait hasil ujian anak nya itu. Tetapi, dirinya tetap berharap putra kesayangannya itu lulus dan dapat me lanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. “Kita hanya bisa mendoakan,” ungkap Khotijah. Selama berada di rumah sakit, Syaiful juga dibawakan sejumlah buku mata pelajaran yang diujikan dalam unas oleh ke luarganya. Diharapkan, buku itu bisa un tuk belajar.

“Buku mata pelajaran yang diujikan dibawakan semua,” ujarnya sambil menunjuk tumpukan buku di meja di ruang rawat rumah sakit. Lantaran sakit kepalanya sering kambuh, buku mata pelajaran itu jarang disentuh. Buku itu hanya menumpuk di meja.  Bukunya dibuka dan dibaca, tapi kalau kepalanya pusing ditutup lagi,” sebut Aswan Ya zuli, ayah kandungnya. (radar)

Loading...