sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Ketergantungan logistik Provinsi Bali terhadap Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kini berada di titik yang semakin krusial.
Sebagai hub utama sekaligus gerbang distribusi wilayah Indonesia Timur, Pelabuhan Tanjung Perak memegang peranan vital sebagai hinterland utama Pulau Dewata.
Kondisi tersebut memicu desakan kuat dari pelaku industri dan logistik agar proyek strategis Tol Gilimanuk–Mengwi atau Tol Jagat Kerti Bali segera direalisasikan.
Infrastruktur jalan bebas hambatan itu dinilai menjadi kunci efisiensi distribusi barang, stabilitas harga, hingga keberlanjutan sektor pariwisata dan ekspor Bali.
Bali–Jatim Tak Terpisahkan
Secara geografis dan ekonomi, Bali memiliki keterikatan yang sangat erat dengan Jawa Timur.
Kebutuhan domestik Bali, mulai dari barang konsumsi, bahan bangunan, hingga peralatan elektronik, sebagian besar dipasok dari Jawa Timur.
Begitu pula akses ekspor Bali ke pasar internasional, yang masih sangat bergantung pada fasilitas pelabuhan di Surabaya.
Pelabuhan Tanjung Perak berfungsi sebagai pusat konsolidasi dan distribusi utama dengan beberapa faktor penentu.
Pelabuhan Benoa di Denpasar saat ini lebih difokuskan pada sektor pariwisata, khususnya kapal pesiar, serta kegiatan perikanan.
Akibatnya, komoditas nonperikanan dalam volume besar harus dikirim melalui jalur darat menuju Surabaya untuk kemudian diekspor melalui Terminal Petikemas Surabaya (TPS) atau Pelabuhan Teluk Lamong.
Selain itu, kapal kargo internasional berukuran besar atau mother vessel lebih banyak bersandar di Surabaya.
Eksportir Bali memilih jalur ini karena tersedianya rute global yang lebih luas serta biaya logistik yang relatif lebih kompetitif dibandingkan pengiriman langsung dari Bali, yang frekuensi dan kapasitas kapalnya masih terbatas.
80 Persen Logistik Timur dari Jatim
Data industri menunjukkan sekitar 80 persen pasokan logistik untuk wilayah Indonesia Timur, termasuk Bali dan Nusa Tenggara, didistribusikan dari Jawa Timur.
Hampir seluruh barang tersebut transit di Surabaya sebelum dikirim ke Bali melalui jalur truk yang menyeberang di lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Page 2
Page 3
Tekanan terhadap jalur logistik Surabaya–Bali juga tercermin dari data perdagangan luar negeri Provinsi Bali periode 2024 hingga 2025.
Nilai ekspor Bali menunjukkan performa solid dengan total ekspor mencapai sekitar US$ 411,15 juta pada periode Januari–September 2025.
Sementara itu, total impor Bali tercatat sebesar US$ 117,56 juta. Dengan demikian, Bali menikmati surplus neraca perdagangan yang signifikan, mencapai US$ 293,59 juta.
Komoditas unggulan seperti kerajinan tangan, tekstil, dan produk kayu mendominasi ekspor dan sebagian besar bergerak melalui jalur darat menuju Surabaya sebelum dikirim ke Amerika Serikat, Eropa, dan Asia non-ASEAN.
Di sisi lain, barang modal dan bahan baku untuk industri pariwisata juga masuk ke Bali melalui jalur yang sama.
Meski nilai impor sempat mengalami penurunan sekitar 5,93 persen secara tahunan (year-on-year), Pelabuhan Tanjung Perak tetap menjadi urat nadi utama karena kelengkapan fasilitas kepabeanan, pergudangan, dan konektivitas pelayaran internasional.
Jalur Ketapang–Gilimanuk Makin Padat
Di luar perdagangan internasional, volume pergerakan logistik domestik juga sangat tinggi. Setiap bulan, puluhan ribu unit truk pengangkut logistik melintasi jalur penyeberangan Ketapang–Gilimanuk.
Kepadatan tersebut kerap memicu antrean panjang, terutama pada musim liburan dan hari besar keagamaan, yang berdampak langsung pada waktu tempuh dan biaya distribusi.
Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Bali Anak Agung Bagus Bayu Joni Saputra menegaskan pentingnya percepatan pembangunan Tol Jagat Kerti Bali. Menurutnya, proyek tersebut sudah lama dinanti pelaku logistik dan industri.
“Kami mendorong agar tol Jagat Kerti Bali (Gilimanuk–Mengwi) yang sempat ground breaking dan sekarang dalam proses tender bisa dipercepat pembangunannya,” ujarnya seperti dikutip Antara.
Tol Gilimanuk–Mengwi dirancang memiliki panjang 96,84 kilometer dan akan menjadi tulang punggung konektivitas darat dari pintu masuk Bali bagian barat menuju pusat-pusat ekonomi dan pariwisata di wilayah selatan.
Skema Proyek Berubah
Saat ini, proyek tol tersebut sedang dalam proses lelang ulang di Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Terdapat perubahan skema mendasar dalam pengembangannya.
Jika sebelumnya bersifat unsolicited atau prakarsa badan usaha, kini statusnya berubah menjadi solicited atau diprakarsai langsung oleh pemerintah.
Perubahan ini dilakukan setelah investor sebelumnya menghadapi kendala pendanaan.
Dengan skema baru, pemerintah bertindak sebagai pemrakarsa untuk mencari investor sekaligus operator yang benar-benar siap secara finansial dan teknis.








