Berita Terkini Seputar Banyuwangi

Kompak di Nomor Beregu karena Hubungan Emosional

kompakKejuaraan pencak silat antarpelajar pekan lalu berhasil melambungkan nama Hasan Arga Dinata, 16, dan Husen Surya Dinata, 16. Duo kembar asal SMPN 4 Genteng itu berhasil menyabet medali di sejumlah nomor.

——————————————
TAWA dan canda pecah menjelang pe nutupan kejuaraan pencak silat yang digagas Pengkab IPSI Banyuwangi Sabtu malam (12/1) lalu. Si kembar Hasan dan Husen termasuk yang bergembira malam itu. Sebab, siswa kelas tiga SMP itu memastikan membawa pulang medali dari kejuaraan sepekan penuh di GOR Tawang Alun, Kecamatan Giri, tersebut.

Keduanya asyik bercengkerama. Tidak ketinggalan, rekan satu tim mereka, yakni Hafid Diki Maulana, juga larut dalam keceriaan. Mereka asyik menimang-nimang medali yang dikalungkan di leher mereka usai penyerahan juara malam itu. Seperti sebuah mimpi, Hasan dan Husen tampil trengginas di sejumlah nomor yang dipertandingkan. Di kategori seni, misalnya, Hasan dan Husen menjadi yang terbaik di nomor ganda. Keduanya mampu menyabet medali emas di nomor ganda dengan poin tertinggi.

Di nomor beregu, Hasan dan Husen yang dilengkapi dengan penampilan Hafid Diki Maulana juga menahbiskan diri sebagai yang terbaik. Penampilan ketiganya mampu mencuri perhatian wasit-juri. Bisa ditebak, mereka kembali mendapat medali emas di nomor beregu. Itu belum cukup. Di nomor tunggal putra, Hasan juga mencatatkan diri sebagai yang terbaik Sukses mendulang prestasi di nomor beregu dan seni, Hasan dan Husen juga ber sinar di nomor tanding. Keduanya sukses me nyapu medali di kelas yang diikutinya tersebut. Hasan yang turun di kelas F putra berhasil menggondol medali perak, dan Husen sedikit lebih baik dengan menggondol medali emas di kelas Eputra.

“Ya alhamdulillah bisa meraih medali di kejurkab kali ini. Rasanya capai, tapi senang karena dapat medali,” tutur Hasan. Perjuangan Hasan dan Husen dalam mengais prestasi di pentas pencak silat boleh dibilang bukan datang secara instan. Anak pasangan Supoah dan Suparno itu sudah menggeluti bela diri asli Nusantara itu sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka menekuni silat karena diajak Hafid Diki Maulana yang kala itu masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Lewat didikan Nur Huda yang juga ayah kan dung Hafid, si kembar Hasan-Husen mulai menempa diri. Jarak rumah yang berdekatan membuat proses latihan berjalan nyaris tanpa hambatan.

Perlahan tapi pasti di bawah payung Perguruan Silat Na sional (Persinas) Ampuh Sehat Aman Damai (Asad) mereka turun di sejumlah kejuaraan. Susah-susah gampang itulah yang dialami Hasan dan Husen di awal belajar pencak silat. Usia muda dan didukung kemauan yang kuat membuat mereka mudah belajar silat dengan baik. Pilihan awal mereka adalah memperdalam seni. Kekompakan keduanya terus terasah di nomor seni. Insting dan kedekatan emosional sebagai saudara kembar menjadi nilai plus dalam memantapkan kekompakan. “Persiapan khusus nggak ada.

Seni lebih sulit sebenarnya. Sebab, butuh kemantapan teknik, ekspresi, dan ketepatan dalam gerak,” ujar Husen. Mantap di nomor seni, Hasan dan Husen mulai menjajal kelas tanding. Dibandingkan nomor yang digelutinya sejak awal, keduanya mengakui nomor yang satu ini sedikit berbeda. Keras dan membutuhkan stamina yang lebih fresh. Itu modal bertanding di nomor tanding. Pertama menjajal nomor tanding ternyata tidaklah mudah. Bahkan, Hasan dan Husen sempat mengalami peristiwa tidak mengenakkan. Pukulan dan tendangan mendarat keras di tubuh mereka.

Bahkan, sesekali darah mengucur. “Husen yang sering menendang sampai bibir saya robek saat latihan. Tapi biasalah, sudah risiko,” kenang Hasan. Kejadian itu rupanya tidak menyurutkan semangat keduanya. Dukungan kedua orang tuanya membuat Hasan dan Husen semakin mantap terjun di dunia pencak silat. Dengan polesan pelatih Nur Huda, mereka membidik ajang yang lebih tinggi dimasa depan. Mereka mulai mengincar level yang lebih tinggi, yakni popda, porprov, dan PON. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE