Lagu Osing tak Pernah Surut

0
1754

“Angin surga” pun mulai berembus. Warga ibu kota ter sebut bersedia membiayai re kaman grup musik yang kala itu belum memiliki nama. “Lalu, “produser” asal Jakarta ter sebut memberi nama grup kami POB. Proses rekaman kami lakukan di salah satu studio musik di kawasan Jakarta Se latan,” beber lelaki yang tinggal di Jalan Riau, Gang Per mata 24, Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi, itu. Yons menambahkan, liku-liku tajam yang harus dilalui untuk membesarkan POB be lum berhenti pasca rekaman tersebut.

sebab, dia, Catur Arum, dan sang produser, sama-sama “buta” marketing ka set. Dirinya dan Catur-lah yang memasarkan sendiri hasil karyanya itu dari pintu ke pintu. Berbulan-bulan ribuan keping kaset tersebut tidak laku. Hingga akhirnya, pada Agustus 2001, grup musik POB mulai dipercaya manggung di beberapa daerah di Banyuwangi. Tak dinyana, lagu-lagu yang dibawakan grup tersebut men dapat sambutan positif masyarakat. “Sejak itulah kaset POB I diburu konsumen.

Album tersebut terjual sekitar 300 ribu copy,” cetusnya. Nah, setelah kemunculan POB yang cukup fenomenal ter sebut, perlahan tapi pasti industri musik Banyuwangi kembali bergeliat. Para pencipta lagu berbahasa Osing pun bermunculan seperti jamur di musim hujan. Artis-artis muda pun demikian. Lagu-lagu berbahasa Osing kini kembali bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. (radar)

Lanjutkan Membaca : First | ← Previous | ... | 2 |3 | 4 | Next → | Last