Lebaran Jadi Imam dan Khatib di Taiwan

0
994

HARI sudah mulai sore. Jarum jam menunjukkan pukul 16.00. Puluhan warga berkumpul di sebuah rumah dengan berpakaian baju koko lengkap mengenakan sarung dan songkok. Sementara ibu-ibu juga mengenakan busana muslim dan berkerudung.

Mereka tampak akrab. Perbincangan sore itu benar-benar hangat dan semakin mempererat hubungan antar keluarga. Sore itu, Ustad Ghofar-panggilan akrabnya-sedang menggelar tasyakuran Bani Lazim. H. Mohammad Lazim adalah nama ayah kandung Ustad Ghofar.

Orang tua, remaja, dan anak-anak ikut bergembira dan larut dalam pertemuan akbar tersebut. Pertemuan Bani Lazim tersebut bukan kali pertama diselenggarakan, melainkan sudah rutin dilaksanakan pada 23 Ramadan setiap tahunnya.

“Khusus setiap 23 Ramadan, saya tidak menerima undangan pengajian. Karena tepat dengan tasyakuran hari kelahiran saya,” ungkap Ustad Ghofar. Dalam pertemuan Bani Lazim itu, secara khusus dia memberikan tunjangan hari raya (THR) pada seluruh keluarga dan kerabat.

Tunjangan itu berupa uang tunai, sarung, mukena, hingga kebutuhan Lebaran lainnya seperti sembako dan kue. Pertemuan kemarin bukan hanya dihadiri keluarga besar Bani Lazim. Yang menarik, Laskar Santri Nusantara (LSN) yang tak lain adalah putra kiai-kiai di Banyuwangi, juga ikut hadir. Acara ditutup dengan buka puasa bersama.

“Cucu dari ibu saya saja ada sekitar 70 orang,” kata Ustad Ghofar. Aktivitas Ustad Ghofar memang tak pernah sepi dari mengisi pengajian dan berdakwah dari masjid ke masjid. Memberikan siraman rohani adalah sebuah amanah yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab dan istiqomah.

Karena padatnya jadwal kegiatan pengajian selama bulan Ramadan itu, alumni Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Karangdoro, Tegalsari ini tidak pernah berbuka puasa bersama keluarga di rumah.

Loading...

Gara-gara tidak pernah berbuka puasa di rumanya dia mendapat predikat kiai jarum super. Artinya jarang di rumah suka pergi. “Selama sebulan penuh, kegiatan mengisi pengajian itu sudah kami jadwal tiga bulan sebelum bulan Ramadan tiba,” ujarnya.

Selama bulan Ramadan, kegiatan dakwah justru lebih padat. Ceramah tersebut ada yang dilakukan selepas salat subuh, ada pula menjelang waktu berbuka puasa. ” Dalam sebulan full, tidak hanya di wilayah Banyuwangi, tapi juga ke Jember, Lumajang, Situbondo, Bondowoso dan Bali,” cetusnya.

Untuk menjaga stamina tubuhnya agar tetap fit, putra pasangan suami-istri (alm) H. Muhammad lazim dan Siti Fatimah, 95, itu rutin mengonsumsi “dulor” alias madu dan telur ayam kampung. Ramuan dulor diminum jika kondisi badan sudah mulai drop.

Disisi lain, juga ada sebuah amalan batiniyah, yakni doa khusus yang diwariskan oleh (alm) KH. Muchtar syafaat Abdul Ghofur. Amalan itu dibaca rutin selepas menunaikan salat maghrib dan subuh setiap harinya.

Hingga hari ini, Ustad Ghofar sangat bersyukur lantaran ibu kandungnya Siti Fatimah masih diberikan umur panjang. “Di usia yang senja itu, ibu kandung saya masih rutin menghatamkan Alquran setiap seminggu sekali, tanpa mengenakan kacamata,” kata Ustad Ghofar.

Saking kondangnya dalam memberikan ceramah agama yang diselingi dengan joke-joke segar, Ustad Ghofar mendapat undangan dari para tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Banyuwangi di luar negeri. Lebaran nanti dia di dapuk menjadi khatib dan imam salat Idul Fitri di taiwan. “Baru kali ini saya Lebaran di luar negeri,” terang suami H. Mutoharoh ini.

Dalam setiap ceramahnya, Ustad Ghofar tidak lupa menyelipkan pesan perdamaian. Karena belakangan, kondisi Islam kerap dipecah-belah dengan isu terorisnte dan radikalisme. Sebagai langkah nyata, dia juga mempelopori terbentuknya Laskar Santri Nusantara (LSN) untuk menjadi pilar dan garda terdepan dalam mengantisipasi terorisme dan radikalisme.

“Islam itu agama rahmatan lil`alamin. Artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia,” tandasnya. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :