BANYUWANGI, KOMPAS.com – Seorang pria tampak tenang menggerakkan kuas, tangannya melenggang ke setiap arah, menuangkan garis dan lekukan yang ada di pikirannya ke sebuah kanvas kosong.
Pria tersebut adalah Susiyo, seorang pelukis muda asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang tengah menunjukan kemampuannya melukis di studio miliknya yang berada di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah.
Susiyo mengusung gaya yang tak biasa. Dengan keluwesan tangannya, dia memadukan visual pop dengan dunia imajinatif melalui penggambaran hewan atau tumbuhan yang berlagak seperti manusia.
“Banyak yang bilang gaya lukisan saya Pop Surealis. Tapi visual yang saya hasilkan adalah gambaran cara anak kecil melihat dunia, jujur, bebas, dan apa adanya,” ujar Susiyo, Minggu (18/1/2026).
Baca juga: John Sambo, Pengacara Gadungan Ngamuk Saat Digelandang di Kejari Banyuwangi
Menariknya, di setiap karyanya, pria kelahiran Semarang itu menghidupkan karakter khas bernama Mojo yang terinspirasi dari buah maja, buah berkulit tebal seperti kayu yang memiliki biji di dalam daging buahnya yang asam dan pahit.
Sosok Mojo digambarkan sebagai figur bocah polos yang penuh dengan keingintahuan tentang dunia.
“Mojo bukan sekadar tokoh fiktif. Mojo adalah metafora,” katanya.
Seperti bentukan buah aslinya, Mojo digambarkan sebagai tubuh berlubang yang terhubung dengan tumbuhan, hewan, dan bentuk-bentuk hibrida lain.
Bagi Susiyo, lubang-lubang itu adalah simbol masa kecil, ruang kosong yang menyerap kepolosan, informasi, dan pengalaman hidup.
Baca juga: Biduan Joget saat Peringatan Isra Miraj di Banyuwangi, Panitia Minta Maaf
Inspirasi yang diangkat lulusan Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Yogyakarta tersebut tak lepas dari latar belakangnya sebagai animator sebelum serius menekuni seni rupa. Dari sana muncul kecintaannya terhadap dunia animasi.
“Saya juga terinspirasi dari film Alice in Wonderland,” ucap pria 30 tahun tersebut.
Susiyo mengurai, perjalanannya menekuni dunia seni rupa dimulai sejak lulus kuliah pada 2017. Meskipun, saat itu melukis bukan menjadi pilihan utama.
Dia sempat meraba-raba arah, mengikuti berbagai event seni di Yogyakarta, sembari mencari jawaban atas pertanyaan paling mendasar baginya, yaitu apakah melukis akan menjadi jalan hidup atau sekadar persinggahan baginya.
Jawaban tersebut kemudian datang justru di titik terendah hidupnya, di mana secara ekonomi, dia berada dalam kondisi sulit. Namun, di saat yang sama, secara batin ia merasa “kaya”.
“Dari fase itu lahir karakter Mojo yang jadi identitas visual karya saya sampai sekarang,” tuturnya.
Baca juga: Cerita Aziz, PPSU Pelukis Mural di Setiabudi yang Pernah Buka Galeri Seni
Page 2
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app






