sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Jalan Tol Trans-Jawa kini menjadi tulang punggung transportasi darat Pulau Jawa, membentang dari Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten hingga Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.
Dengan total panjang sekitar 1.167 km, tol ini menghubungkan pusat ekonomi, industri, dan pelabuhan dari barat ke timur Pulau Jawa, termasuk tiga kota besar Indonesia: Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Sebagaimana dilansir dari Wikipedia, sebagian besar trase tol mengikuti jalur pesisir utara Jawa, kecuali pada ruas Bandung–Yogyakarta yang melalui jalur selatan.
Keberadaan tol ini telah mempercepat perjalanan darat jarak jauh, dari Jabodetabek menuju Gerbangkertosusila maupun sebaliknya, kini dapat ditempuh sekitar 10 jam, sekaligus meningkatkan efisiensi logistik dan distribusi barang antarprovinsi.
Sejarah Jalan Tol Trans-Jawa: Dari Posweg hingga Tol Modern
Sejarah jalur utama Pulau Jawa berawal pada masa kolonial Belanda. Pada 28 April 1808, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memulai perjalanan ke Semarang, dan pada 5 Mei 1808, ia memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos (De Groote Postweg).
Jalan ini menghubungkan Bogor hingga Panarukan, Situbondo, digunakan untuk mendukung kegiatan ekspor komoditas alam seperti kakao, kopi, dan gula.
Pembangunan dilakukan melalui kerja wajib penduduk lokal (heerendiensten) yang diatur bersama 38 bupati setempat.
Jalan ini menjadi cikal bakal koridor transportasi utama yang kini dilanjutkan sebagai jaringan jalan tol.
Setelah kemerdekaan, jalur ini berfungsi sebagai rute utama kendaraan dari Jabodetabek ke Cekungan Bandung, Kedungsepur, hingga Gerbangkertosusila.
Jalur utara Pantura dibangun untuk mempersingkat perjalanan dan mengurangi hambatan medan pegunungan, sekaligus memisahkan lalu lintas dari jalur utama.
Seiring waktu, jalur Pantura mengalami kemacetan parah saat mudik, liburan, atau Idulfitri. Berbagai hambatan, seperti pasar tumpah, lampu lalu lintas, dan pekerjaan pemeliharaan, mengganggu kelancaran perjalanan.
Untuk itu, pemerintah mulai merancang pembangunan bypass dan jalan tol modern, dimulai dengan Jagorawi pada 1965–1978, yang menjadi tol pertama di Indonesia dengan PT Jasa Marga sebagai pengelola resmi.
Fase Pembangunan Jalan Tol di Era Modern
Page 2
Fase pembangunan jalan tol di Trans-Jawa dapat dirinci sebagai berikut:
Ruas yang telah dibangun pada era awal:
- Lingkar Semarang: selesai 1983
- Jakarta–Tangerang: selesai 1984
- Surabaya–Gempol: selesai 1986
- Jakarta–Cikampek: 72 km selesai 1988
- Tangerang–Merak: 72 km selesai 1992
Proyek sempat terhenti pada krisis finansial Asia 1997, namun dilanjutkan setelah pembentukan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) pada 28 Juni 2005.
Pemerintah mempercepat pembangunan ruas-ruas strategis, termasuk Surabaya–Mojokerto (2007) dan Kanci–Pejagan (2008).
Di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo, percepatan pembangunan tol semakin signifikan, diawali dengan penyelesaian Cikampek–Palimanan (116 km) yang memotong jalur Pantura paling padat.
Peresmian Trans-Jawa sepanjang >1.000 km dilakukan pada 20 Desember 2018, menghubungkan Merak–Surabaya–Gempol, dengan Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan rombongan melakukan perjalanan dari Surabaya ke Jakarta.
Ruas yang Masih Dalam Pembangunan
Hingga 2023, ruas Probolinggo–Banyuwangi (±170 km) belum selesai karena kendala:
- Pembebasan lahan lambat
- Melintasi Taman Nasional Baluran
- Melewati Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir TNI AL Karang Tekok
Ruas Probolinggo–Paiton, dekat PLTU Paiton, direncanakan diresmikan akhir 2025.
Penyelesaian ruas ini menjadi kunci untuk menghubungkan seluruh jalur Trans-Jawa hingga Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi.
Dampak Ekonomi dan Mobilitas
Keberadaan Jalan Tol Trans-Jawa telah membawa berbagai dampak positif:
- Efisiensi Perjalanan: Dari Jakarta ke Surabaya kini lebih cepat, mengurangi waktu tempuh hingga puluhan jam.
- Pertumbuhan Ekonomi Antarwilayah: Menghubungkan pusat industri, pelabuhan, dan kota besar di Pulau Jawa.
- Dukungan Pariwisata dan Logistik: Mempermudah akses ke destinasi strategis, pelabuhan, dan kawasan industri.
- Integrasi Koridor Utama Pulau Jawa: Menghubungkan barat, tengah, hingga timur Pulau Jawa secara menyeluruh.
Jalan Tol Trans-Jawa bukan sekadar infrastruktur transportasi, tetapi juga penggerak ekonomi, pariwisata, dan investasi di Pulau Jawa.
Dengan pembangunan Probolinggo–Banyuwangi yang sedang berjalan, tol ini akan menjadi koridor darat terpanjang Indonesia, menghubungkan ujung barat hingga timur Pulau Jawa, memudahkan masyarakat, logistik, dan mendorong daya saing regional. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Jalan Tol Trans-Jawa kini menjadi tulang punggung transportasi darat Pulau Jawa, membentang dari Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten hingga Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.
Dengan total panjang sekitar 1.167 km, tol ini menghubungkan pusat ekonomi, industri, dan pelabuhan dari barat ke timur Pulau Jawa, termasuk tiga kota besar Indonesia: Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Sebagaimana dilansir dari Wikipedia, sebagian besar trase tol mengikuti jalur pesisir utara Jawa, kecuali pada ruas Bandung–Yogyakarta yang melalui jalur selatan.
Keberadaan tol ini telah mempercepat perjalanan darat jarak jauh, dari Jabodetabek menuju Gerbangkertosusila maupun sebaliknya, kini dapat ditempuh sekitar 10 jam, sekaligus meningkatkan efisiensi logistik dan distribusi barang antarprovinsi.
Sejarah Jalan Tol Trans-Jawa: Dari Posweg hingga Tol Modern
Sejarah jalur utama Pulau Jawa berawal pada masa kolonial Belanda. Pada 28 April 1808, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memulai perjalanan ke Semarang, dan pada 5 Mei 1808, ia memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos (De Groote Postweg).
Jalan ini menghubungkan Bogor hingga Panarukan, Situbondo, digunakan untuk mendukung kegiatan ekspor komoditas alam seperti kakao, kopi, dan gula.
Pembangunan dilakukan melalui kerja wajib penduduk lokal (heerendiensten) yang diatur bersama 38 bupati setempat.
Jalan ini menjadi cikal bakal koridor transportasi utama yang kini dilanjutkan sebagai jaringan jalan tol.
Setelah kemerdekaan, jalur ini berfungsi sebagai rute utama kendaraan dari Jabodetabek ke Cekungan Bandung, Kedungsepur, hingga Gerbangkertosusila.
Jalur utara Pantura dibangun untuk mempersingkat perjalanan dan mengurangi hambatan medan pegunungan, sekaligus memisahkan lalu lintas dari jalur utama.
Seiring waktu, jalur Pantura mengalami kemacetan parah saat mudik, liburan, atau Idulfitri. Berbagai hambatan, seperti pasar tumpah, lampu lalu lintas, dan pekerjaan pemeliharaan, mengganggu kelancaran perjalanan.
Untuk itu, pemerintah mulai merancang pembangunan bypass dan jalan tol modern, dimulai dengan Jagorawi pada 1965–1978, yang menjadi tol pertama di Indonesia dengan PT Jasa Marga sebagai pengelola resmi.
Fase Pembangunan Jalan Tol di Era Modern







