sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kelanjutan proyek pembangunan Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi hingga kini masih belum jelas.
Hingga awal Maret 2026, pemerintah desa yang wilayahnya terdampak proyek tersebut mengaku belum menerima informasi resmi dari pihak terkait mengenai nasib proyek jalan bebas hambatan di Bali tersebut.
Ketua Forum Perbekel Desa Terdampak Tol Gilimanuk–Mengwi di Kabupaten Tabanan, I Nyoman Arnawa, mengatakan bahwa pihaknya belum memperoleh pemberitahuan resmi terkait kelanjutan pembangunan tol yang direncanakan membentang lebih dari 90 kilometer tersebut.
“Informasi secara langsung belum ada yang disampaikan kepada kami,” ujar Arnawa, Minggu (8/3).
Penlok Lahan Terdampak Sudah Berakhir
Ketidakjelasan tersebut semakin terasa karena masa penetapan lokasi (penlok) lahan terdampak proyek Tol Gilimanuk–Mengwi di wilayah Tabanan dan Badung telah berakhir pada Jumat (7/3).
Namun hingga kini belum ada kepastian apakah penlok tersebut akan diperpanjang atau justru dihentikan.
Arnawa yang juga menjabat sebagai Perbekel Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat, Tabanan, mengatakan informasi yang berkembang sejauh ini justru diperoleh dari pemberitaan media.
Dari informasi tersebut, disebutkan bahwa terdapat perubahan dalam rencana pembangunan tol, khususnya pada segmen pertama yang menghubungkan Gilimanuk dengan Pekutatan di Kabupaten Jembrana.
Segmen Gilimanuk–Pekutatan Dikabarkan Dicoret
Menurut Arnawa, dalam sejumlah pemberitaan disebutkan bahwa segmen awal proyek tol tersebut mengalami perubahan.
“Katanya di Jembrana seksi pertama berubah atau dicoret. Itu yang saya baca di media. Karena itu penlok di sana juga sudah dibuka blokirnya,” ungkapnya.
Jika kabar tersebut benar, maka perubahan rencana tersebut tentu akan berpengaruh terhadap keseluruhan proyek Tol Gilimanuk–Mengwi yang sejak awal dirancang sebagai jalur tol penghubung wilayah barat hingga selatan Bali.
Tol ini direncanakan menghubungkan wilayah Gilimanuk di Kabupaten Jembrana hingga Mengwi di Kabupaten Badung.
Warga Tidak Lagi Terlalu Memikirkan Proyek Tol
Arnawa mengungkapkan bahwa kondisi ketidakjelasan proyek tersebut membuat masyarakat di desa-desa terdampak kini tidak lagi terlalu memikirkan kelanjutannya.
Bahkan sebagian warga justru berharap proyek tersebut tidak dilanjutkan.
Page 2
“Masyarakat sekarang sudah tidak terlalu pusing. Malah ada yang berdoa supaya tidak jadi,” katanya.
Selama masa penetapan lokasi lahan, sejumlah warga memang mengalami keterbatasan dalam memanfaatkan lahannya karena masuk dalam area yang direncanakan menjadi jalur tol.
Situasi tersebut membuat masyarakat menunggu kepastian terkait nasib lahan mereka.
Pemerintah Diminta Beri Kepastian
Meski masyarakat mulai tidak terlalu mempermasalahkan proyek tersebut, Arnawa menilai pemerintah tetap harus memberikan kepastian secara resmi kepada desa-desa terdampak.
Ia menegaskan bahwa jika penetapan lokasi lahan tidak diperpanjang dan pembangunan tidak dilanjutkan, maka secara logika status lahan masyarakat harus dikembalikan seperti semula.
“Logikanya begitu. Kalau penlok sudah tidak diperpanjang dan tidak ada kelanjutan, mestinya status lahan masyarakat dikembalikan. Tapi sampai sekarang belum ada informasi,” jelasnya.
Kepastian tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian terkait pemanfaatan lahan mereka.
Proses Bisa Dimulai dari Awal
Arnawa juga menjelaskan bahwa sejak awal proses pembangunan Tol Gilimanuk–Mengwi untuk wilayah Jembrana, Tabanan, hingga Badung dilakukan dalam satu rangkaian tahapan.
Termasuk di dalamnya proses penetapan lokasi lahan yang terdampak proyek tersebut.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi yang pernah digelar beberapa bulan lalu di Desa Antosari, Kecamatan Selemadeg Barat, bersama Penjabat Pembuat Komitmen (PPK) Tol Gilimanuk–Mengwi, terdapat kemungkinan bahwa proses pembangunan harus dimulai kembali dari awal apabila penlok sebelumnya tidak dilanjutkan.
“Kalau nantinya penlok baru ditetapkan lagi, berarti prosesnya harus dimulai dari nol lagi. Itu sesuai hasil rapat terakhir di Antosari,” tegasnya.
Proyek Strategis yang Masih Ditunggu Kepastiannya
Tol Gilimanuk–Mengwi sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu proyek infrastruktur strategis di Bali yang bertujuan mempercepat konektivitas antarwilayah.
Keberadaan jalan tol ini diharapkan dapat memangkas waktu tempuh dari wilayah barat Bali menuju kawasan pariwisata di selatan.
Namun hingga kini, nasib proyek tersebut masih menunggu kejelasan dari pemerintah pusat maupun pihak terkait.
Masyarakat di desa-desa yang sempat terdampak proyek pun berharap pemerintah segera memberikan kepastian agar tidak terus berada dalam ketidakpastian mengenai status lahan dan masa depan wilayah mereka. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kelanjutan proyek pembangunan Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi hingga kini masih belum jelas.
Hingga awal Maret 2026, pemerintah desa yang wilayahnya terdampak proyek tersebut mengaku belum menerima informasi resmi dari pihak terkait mengenai nasib proyek jalan bebas hambatan di Bali tersebut.
Ketua Forum Perbekel Desa Terdampak Tol Gilimanuk–Mengwi di Kabupaten Tabanan, I Nyoman Arnawa, mengatakan bahwa pihaknya belum memperoleh pemberitahuan resmi terkait kelanjutan pembangunan tol yang direncanakan membentang lebih dari 90 kilometer tersebut.
“Informasi secara langsung belum ada yang disampaikan kepada kami,” ujar Arnawa, Minggu (8/3).
Penlok Lahan Terdampak Sudah Berakhir
Ketidakjelasan tersebut semakin terasa karena masa penetapan lokasi (penlok) lahan terdampak proyek Tol Gilimanuk–Mengwi di wilayah Tabanan dan Badung telah berakhir pada Jumat (7/3).
Namun hingga kini belum ada kepastian apakah penlok tersebut akan diperpanjang atau justru dihentikan.
Arnawa yang juga menjabat sebagai Perbekel Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat, Tabanan, mengatakan informasi yang berkembang sejauh ini justru diperoleh dari pemberitaan media.
Dari informasi tersebut, disebutkan bahwa terdapat perubahan dalam rencana pembangunan tol, khususnya pada segmen pertama yang menghubungkan Gilimanuk dengan Pekutatan di Kabupaten Jembrana.
Segmen Gilimanuk–Pekutatan Dikabarkan Dicoret
Menurut Arnawa, dalam sejumlah pemberitaan disebutkan bahwa segmen awal proyek tol tersebut mengalami perubahan.
“Katanya di Jembrana seksi pertama berubah atau dicoret. Itu yang saya baca di media. Karena itu penlok di sana juga sudah dibuka blokirnya,” ungkapnya.
Jika kabar tersebut benar, maka perubahan rencana tersebut tentu akan berpengaruh terhadap keseluruhan proyek Tol Gilimanuk–Mengwi yang sejak awal dirancang sebagai jalur tol penghubung wilayah barat hingga selatan Bali.
Tol ini direncanakan menghubungkan wilayah Gilimanuk di Kabupaten Jembrana hingga Mengwi di Kabupaten Badung.
Warga Tidak Lagi Terlalu Memikirkan Proyek Tol
Arnawa mengungkapkan bahwa kondisi ketidakjelasan proyek tersebut membuat masyarakat di desa-desa terdampak kini tidak lagi terlalu memikirkan kelanjutannya.
Bahkan sebagian warga justru berharap proyek tersebut tidak dilanjutkan.








