Menikah di Lapas Tanpa Malam Pertama, Langsung Balik ke Sel

0
4756

menikahLembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-B Banyuwangi punya gawe pagi kemarin (29/10). Seorang tahanan titipan Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Slamet Budianto, 23, melangsungkan pernikahan dengan Nanda Khoirun Nadiro, 18, di lapas. Bagaimana prosesi pernikahan mereka?


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

SUASANA di sekitar aula Lapas Banyuwangi agak berbeda pagi itu. Sejumlah warga tampak duduk-duduk di sekitar gazebo di samping aula. Di antara warga itu tampak Slamet Budianto dan Nanda Khoirun Nadira yang akan melangsungkan pernikahan. Meski berstatus tersangka dalam kasus membawa kabur gadis di bawah umur dan tinggal di Lapas Banyuwangi, Slamet terlihat semringah. Sesekali pemuda asal Desa/Kecamatan Kalipuro itu mengumbar senyum sambil menyalami saudaranya dan warga.

Suasana yang mencair itu mendadak senyap saat alunan musik hadrah yang ditabuh para napi terdengar menyambut kedatangan petugas Kantor Urusan Agama (KUA) Kalipuro, Kholis. Sejumlah keluarga dari pihak Slamet yang datang menyaksikan pernikahan tersebut spontan berkaca-kaca. Bahkan, ada yang tidak kuasa menahan air mata. Keharuan semakin terasa, karena dari pihak keluarga Nanda tidak ada satu pun yang datang. “Orang tua pengantin putri menyetujui pernikahan ini Tapi wali nikah diserahkan kepada petugas KUA,” terang Tomi Yudianto, pengacara Slamet Budianto.

Dengan mahar uang tunai Rp 50 ribu, Slamet asal Desa/Kecamatan Kalipuro itu melangsungkan ijab dan kabul dipandu Kholis dari KUA Kalipuro dengan lancar. “Bagaimana para saksi? Sah apa sah,” tanya Kholis usai menikahkan pasangan tersebut. Air mata kembali menyucur setelah pernikahan itu dilaksanakan. Slamet bersama Nanda menyalami semua anggota keluarga yang hadir. Apalagi, seorang balita hadir di tengah pernikahan tersebut. “Bayi itu masih berumur empat bulan. Itu anak Slamet dan Nanda,” sebut Tomi Yudianto.

Pernikahan Slamet dan Nanda sebenarnya sekadar pengesahan berdasar undang-undang (UU) melalui KUA. Sebab, keduanya telah melangsungkan pernikahan secara siri di Kalimantan.“Perjalanan agar bisa menikah secara sah menurut undang-undang cukup panjang,” terangnya. Menurut Tomi, kliennya ditangkap polisi pada 22 Agustus 2013 lalu. Slamet ditangkap karena orang tua Nanda melapor ke polisi bahwa anaknya yang masih di bawah umur dibawa kabur Slamet. “Slamet dan Nanda sudah pacaran lama, tapi tidak disetujui orang tua Nanda,” jelasnya.

Baca :
Sepekan, Polresta Banyuwangi Ciduk 44 Penjudi

Lanjutkan Membaca : 1 | 2