Banyuwangi, Jurnalnews.com – Derasnya hujan yang mengguyur Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Kamis siang (12/2/2026), kembali menghadirkan bencana yang memilukan. Air bah menggenangi Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Desa Bajulmati, hingga merangsek masuk ke asrama santri dan dhalem kyai. Aktivitas belajar mengaji lumpuh, barang-barang santri basah, dan suasana pesantren berubah menjadi kepanikan.
Banjir ini diduga kuat akibat buruknya sistem drainase di belakang pondok yang tak mampu menampung debit air hujan. Ironisnya, posisi saluran air yang lebih rendah dari sungai di sisi timur justru membuat aliran air berbalik arah, meluap, dan menggenangi kawasan pesantren serta rumah-rumah warga sekitar.
Wakil Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum, Ahmad Mufti Nadzir, menegaskan bahwa musibah ini bukan kejadian baru. “Di belakang pondok ini selokan lebih tinggi dari selatan, jadi air tidak mengalir, malah balik lagi ke utara. Akhirnya meluap ke rumah warga dan masuk ke halaman pesantren,” ungkap Ra Nadzir dengan nada prihatin.
Lebih memilukan, banjir ini disebut sudah terjadi berulang sejak tahun 2021 tanpa solusi nyata. Setiap hujan lebat, ancaman banjir selalu menghantui santri dan pengasuh pondok. “Ini sudah lama, Mas. Setiap hujan deras pasti banjir. Kami ini hanya bisa bertahan. Tapi kami mohon kepada pemegang kewenangan, pejabat yang berwenang, tolong lihat kondisi ini dan carikan solusi. Agar pondok, santri, dan warga bisa hidup tenang,” harapnya penuh kepedihan.
Peristiwa ini bukan sekadar bencana alam, melainkan alarm keras atas kelalaian penanganan infrastruktur. Genangan yang berulang di lingkungan pendidikan dan keagamaan menjadi potret nyata bahwa ada masalah serius yang tak kunjung diselesaikan.
Pesantren Bahrul Ulum kini bukan hanya butuh empati, tetapi aksi nyata. Kepedulian pejabat dan langkah konkret pemerintah daerah menjadi harapan satu-satunya agar banjir tidak terus menjadi “tamu langganan” yang mengancam masa depan para santri. (Venus Hadi)








