Menyemut Nonton Karnaval Kemanten

  • Bagikan

BANYUWANGI – Perhelatan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2015 ini benar-benar mampu menyuguhkan tontonan yang menghibur kemarin (17/10).  Dimulai pukul 13.00, karnaval budaya yang kali ini mengusung  4 tema “The Usingnese Royal Wedding” tersebut sukses mengangkat busana pengantin asli Banyuwangi menjadi suguhan apik bertaraf internasional dalam sebuah karnaval.

“The Usingnese Royal Wedding” dipilih sebagai tema BEC tahun ke-5 ini dengan tujuan menunjukkan sebuah gambaran umum tentang busana adat pengantin masyarakat Banyuwangi. Perhelatan BEC 2015 kemarin terbagi menjadi tiga sub tema busana pengantin, yakni sekar kedaton, sembur kemuning, dan mupus braen Blambangan.

Selain tiga sub tema tersebut, hadir pula barisan peserta BEC cilik yang mengusung tema “Pengapit Kemanten” atau dayang. The Best BEC 2014 juga ditampilkan dalam perhelatan BEC 2015 kemarin. Tidak ketinggalan, dalam iring-iringan peserta BEC kemarin juga disuguhkan display tema BEC tahun depan.

Tahun depan tema yang diusung adalah “The History of Sri Tanjung”. Pada barisan paling belakang ditampilkan dua talent yang menjadi Sidopekso dan Sri Tanjung. Dalam iring-iringan tersebut ada penari gandrung bule.

Tema busana pengantin asli Banyuwangi memang benar-benar membuat masyarakat lebih tahu bahwa Banyuwangi memiliki busana pengantin lokal yang tak kalah bagus dibanding busana pengantin daerah lain. “Ternyata busana pengantin lokal Banyuwangi ini bagus juga ya.

Saya rasa busana pengantin lokal Banyuwangi ini tidak kalah dengan busana pengantin lokal daerah lain.” kata Dyah Ayu Wulandari, 24, salah satu penonton asal Kecamatan Cluring.  Selain menjadi kebanggaan penonton, perhelatan BEC kemarin juga membuat tamu undangan yang hadir tampaknya terpukau.

Kursi-kursi tamu undangan di dalam Taman Blambangan dan Jalan Veteran tampak penuh tamu undangan. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata republik Indonesia (Kemenpar RI), Esthy Beko Astuty, yang mewakili Menpar RI, Arief Yahya yang tidak bisa hadir, dalam sambutannya mengaku sangat takjub dengan hadirnya ribuan masyarakat menyaksikan perhelatan BEC.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ini dapat merangsang dampak ekonomi di Banyuwangi,” kata Fsthy.  Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas, mengatakan BEC merupakan sebuah jembatan budaya tradisional dengan budaya modern.

Anas mengakui bahwa melalui BEC pengembangan budaya lokal akan terus dikembangkan di tengah berkembangnya budaya global. ”BEC tahun keempat dan kelima ini sudah berada di tempat yang terhormat di hati masyarakat Banyuwangi.

Dan juga sudah mendapatkan respons yang positif dari masyarakat dunia,” kata Anas. Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin, meski karnaval BEC digelar sejak pukul  13.00, masyarakat sudah memenuhi jalan-jalan protokol yang dilewati peserta BEC sejak pukul 12.00.

Meski panas begitu menyengat tidak menyurutkan niat para penonton menyaksikan perhelatan BEC 2015. Perlu menjadi catatan, banyak penonton tanpa id card dengan mudah masuk ke area kursi tamu undangan dan tempat awak media serta tempat khusus fotografer.

Hadirnya penonton tanpa tanda pengenal itu dirasa cukup mengganggu para awak media yang sedang bertugas. Bagaimana tidak, saat peserta BEC hendak turun dari panggung, banyak penonton yang maju dan mendekat ke arah peserta.

Tidak jarang para petugas harus menghalau para penonton yang nekat itu. Namun, meski beberapa kali dihalau, beberapa penonton tersebut tetap maju dan mendekati peserta (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: