Mumpung Masih Hidup, Saya Bisa Cerita Sebenarnya

0
1375

Setelah membuka sebuah tas bergambar Monumen Kesaktian Pancasila, Vence langsung menggelar beberapa foto lama. Foto-foto hitam-putih itu sudah dilaminating. Di dalam foto itu, kakek lima cucu tersebut menunjukkan satu persatu nama anggota pasukan katak yang berdiri berjajar di depan sebuah lubang menganga. Kemudlan, lubang itu dikenal sebagai sumur Lubang Buaya.

“Ini Serma KKO Saparimin, ini Prajurit Komando Satu Subekti, kalau yang ini Kopral RPKAD Anang. Yang dua ini teman saya yang masih hidup, Kopral KKO Sugimin dan Kopral KKO Samuri,” kata Vence sambil memegang foto-foto itu.

Sambil terus memegangi foto-foto tersebut, Vence memulai ceritanya sebelum ditugasi untuk mengangkut jenazah para jenderal Angkatan Darat yang dibunuh oleh PKI dalam tragedi 1965 itu.

Kala itu, sekitar akhir September 1965, Vence mengaku tengah mendapat perintah dari atasannya untuk melakukan pemeriksaan di sepanjang Pantai Ancol, Jakarta. Vence yang merupakan anggota pertama dari Satuan Intai Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KKO) atau yang kini disebut Marinir, setiap hari melakukan penyelaman di pantai tersebut.

Dia ditugasi untuk memastikan Pantai Ancol adalah tempat yang layak untuk pendaratan kapal-kapal perang dan tank amfibi milik angkatan laut. “Waktu itu Presiden Soekarno ingin melakukan show of force militer angkatan laut. Jadi, kita diminta memastikan kawasan itu aman. Dulu, Ancol lokasinya rawa-rawa. Jangan dibayangkan seperti sekarang,” kata Vence.

Lanjutkan Membaca : First | ← Previous | 1 |2 | 3 | ... | Next → | Last

Baca :
Pohon Beringin Berusia Ratusan Tahun Tumbang Disapu Angin