Penutupan Ijen Dilematis

0
266

BANYUWANGI – Status Gunung Ijen yang sejak enam bulan terakhir fluktuatif, benar-benar menjadi persoalan pelik bagi Pemkab Banyuwangi. Sebab, sejak Gunung Ijen ditutup dari segala aktivitas manusia akhir tahun lalu, ratusan warga yang bekerja sebagai penambang belerang otomatis menganggur. Tetapi, di sisi lain, pemerintah juga tidak ingin timbul korban jiwa jika sewaktu-waktu terjadi bencana di gunung dengan ketingian 2,386 meter di atas permukaan laut (dpl) tersebut.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Dikonfirmasi sejumlah wartawan usai mengikuti sidang paripurna di kantor DPRD Banyuwangi, Rabu (23/5) sore, Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, persoalan Gunung Ijen menjadi dilema baginya. Pasalnya, sudah banyak penambang belerang yang mulai bekerja meski status gunung tersebut masih Waspada (level II). Itu lantaran sudah enam bulan mereka tidak punya penghasilan. Di sisi lain, lanjut Anas, pihaknya menerima surat dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa timur (Jatim), termasuk dari Dinas Kehutanan, agar tidak ada aktivitas manusia di Gunung Ijen.

Loading...

“Di sinilah dilema kami. Di satu sisi, rakyat kami butuh penghasilan, tetapi di sisi yang lain, kalau diputuskan tetap boleh melakukan kegiatan di Gunung Ijen, dan sewaktu-waktu ada kejadian, siapa yang bertanggungjawab,” ujarnya. Menurut Bupati Anas, persoalan Gunung Ijen berada di luar jangkauan dan kewenangannya. Secara teknis, aktivitas vulkanik Gunung Ijen merupakan domain Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Lanjutkan Membaca : 1 | 2

Baca :
Bupati Anas Ajak Semua Elemen Terus Luncurkan Inovasi Majukan Daerah