sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap akan berjalan selama bulan suci Ramadan.
Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) telah menyiapkan empat skema penyaluran agar program prioritas nasional tersebut tetap menjangkau seluruh penerima manfaat tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah puasa.
Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan bahwa MBG tidak dihentikan selama Ramadan, melainkan disesuaikan mekanisme distribusinya.
Penyesuaian ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan gizi masyarakat tetap terpenuhi, khususnya kelompok rentan dan peserta didik.
“Untuk Ramadan, Makan Bergizi akan tetap berlanjut. Jadi, ada empat mekanisme yang akan kita kembangkan,” ujar Dadan saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2).
Skema Pertama: Makanan Dibawa Pulang untuk Anak Sekolah
Skema pertama diterapkan bagi anak sekolah di wilayah yang mayoritas penduduknya menjalankan ibadah puasa.
Pada skema ini, makanan MBG tetap dikirim ke sekolah, namun disiapkan dalam bentuk makanan tahan lama.
“Makanannya seperti biasa dikirim ke sekolah, tetapi dalam bentuk makanan yang tahan dan bisa dibawa ke rumah untuk dikonsumsi saat berbuka puasa,” jelas Dadan.
Dengan mekanisme tersebut, siswa tetap memperoleh asupan gizi seimbang tanpa harus mengonsumsi makanan di siang hari saat berpuasa.
Skema Kedua: Distribusi Normal di Wilayah Non-Puasa
Skema kedua berlaku untuk anak sekolah di daerah yang mayoritas penduduknya tidak berpuasa.
Pada wilayah ini, pelayanan MBG tetap berjalan normal seperti hari biasa tanpa perubahan waktu maupun pola distribusi.
Menurut Dadan, fleksibilitas ini penting untuk menyesuaikan kondisi sosial dan kebiasaan masyarakat di masing-masing daerah.
Skema Ketiga: Tetap Prioritaskan Ibu dan Balita
Sementara itu, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita menjadi sasaran skema ketiga. Kelompok ini tetap menerima layanan MBG tanpa perubahan mekanisme selama Ramadan.
“Kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tetap dilayani seperti biasa,” ujar Dadan.
Page 2
Langkah ini diambil mengingat kelompok tersebut memiliki kebutuhan gizi khusus yang tidak boleh terputus meskipun di bulan puasa.
Skema Keempat: Penyesuaian Khusus di Pesantren
Skema keempat diterapkan secara khusus untuk pesantren. Karena penerima manfaat dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG berada di lingkungan pesantren, maka waktu pelayanan disesuaikan dengan jadwal berbuka puasa.
“Untuk pesantren, pelayanannya digeser ke saat buka. Jadi masaknya siang hari dan dikonsumsi saat berbuka,” terang Dadan.
Penyesuaian ini dinilai paling relevan dengan pola aktivitas santri selama Ramadan.
Selain penyesuaian selama Ramadan, BGN juga tengah mematangkan integrasi layanan MBG bagi lansia dan penyandang disabilitas.
Integrasi tersebut dilakukan bersama Kementerian Sosial, khususnya untuk lansia sebatang kara yang selama ini telah menerima bantuan makanan rutin.
“Untuk makanan nanti kita lihat mekanismenya, apakah dari Kementerian Sosial atau dari Badan Gizi Nasional. Mekanismenya sedang kita matangkan,” pungkas Dadan.
Dengan empat skema tersebut, pemerintah berharap Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan optimal selama Ramadan, sekaligus memastikan kebutuhan gizi masyarakat tetap terpenuhi tanpa mengabaikan nilai-nilai ibadah di bulan suci. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap akan berjalan selama bulan suci Ramadan.
Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) telah menyiapkan empat skema penyaluran agar program prioritas nasional tersebut tetap menjangkau seluruh penerima manfaat tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah puasa.
Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan bahwa MBG tidak dihentikan selama Ramadan, melainkan disesuaikan mekanisme distribusinya.
Penyesuaian ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan gizi masyarakat tetap terpenuhi, khususnya kelompok rentan dan peserta didik.
“Untuk Ramadan, Makan Bergizi akan tetap berlanjut. Jadi, ada empat mekanisme yang akan kita kembangkan,” ujar Dadan saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2).
Skema Pertama: Makanan Dibawa Pulang untuk Anak Sekolah
Skema pertama diterapkan bagi anak sekolah di wilayah yang mayoritas penduduknya menjalankan ibadah puasa.
Pada skema ini, makanan MBG tetap dikirim ke sekolah, namun disiapkan dalam bentuk makanan tahan lama.
“Makanannya seperti biasa dikirim ke sekolah, tetapi dalam bentuk makanan yang tahan dan bisa dibawa ke rumah untuk dikonsumsi saat berbuka puasa,” jelas Dadan.
Dengan mekanisme tersebut, siswa tetap memperoleh asupan gizi seimbang tanpa harus mengonsumsi makanan di siang hari saat berpuasa.
Skema Kedua: Distribusi Normal di Wilayah Non-Puasa
Skema kedua berlaku untuk anak sekolah di daerah yang mayoritas penduduknya tidak berpuasa.
Pada wilayah ini, pelayanan MBG tetap berjalan normal seperti hari biasa tanpa perubahan waktu maupun pola distribusi.
Menurut Dadan, fleksibilitas ini penting untuk menyesuaikan kondisi sosial dan kebiasaan masyarakat di masing-masing daerah.
Skema Ketiga: Tetap Prioritaskan Ibu dan Balita
Sementara itu, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita menjadi sasaran skema ketiga. Kelompok ini tetap menerima layanan MBG tanpa perubahan mekanisme selama Ramadan.
“Kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tetap dilayani seperti biasa,” ujar Dadan.








