detik.com
Sejak lama, Banyuwangi dikenal sebagai salah satu daerah dengan denyut kehidupan pertanian yang kuat. Di tengah lahan yang subur, para petani terus beradaptasi dengan mencoba berbagai komoditas dan inovasi untuk meningkatkan hasil panen.
Dari proses tersebut, lahirlah Kelompok Petani Buah Naga (Panaba) Banyuwangi yang kini mampu mengembangkan usaha dan meningkatkan produksi berkat dukungan program Klasterku Hidupku dari BRI.
Kelompok Petani Buah Naga Panaba yang dipimpin oleh Edy, melihat potensi buah naga sebagai komoditas unggulan di Banyuwangi. Edy kemudian mengajak petani lain untuk membudidayakan buah naga secara bersama-sama dalam satu wadah klaster.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Klaster buah naga ini kami bentuk pada tahun 2016. Waktu itu, jumlah tanaman buah naga di Banyuwangi mulai banyak, namun mulai muncul berbagai masalah, seperti serangan penyakit dan pasar yang menjadi over saat produksi meningkat. Makanya kami membentuk Klaster Petani Buah Naga (Panaba) untuk mengatasi masalah tersebut bersama teman-teman petani,” kata Edy, dalam keterangan tertulis, Rabu (4/2/2026).
Sejak klaster terbentuk, para petani memiliki ruang untuk berdiskusi, berbagi informasi, serta menyatukan langkah dalam menghadapi berbagai persoalan di lapangan. Klaster Panaba juga berperan penting dalam menjaga stabilitas harga dan melindungi petani dari praktik permainan harga di pasar.
“Pedagang yang ikut klaster mengikuti pedoman harga. Misalnya, jika di pasar Rp 10.000, mereka membeli dari petani minimal Rp 7.000. Pedagang yang tidak ikut klaster biasanya memanfaatkan situasi dengan membeli lebih murah. Untuk anggota klaster, kami beri kode dan panduan harga,” ujar Edy.
Berkembang Lewat Program Klasterku Hidupku BRI
Seiring berkembangnya klaster, kebutuhan akan dukungan permodalan dan penguatan kapasitas usaha pun semakin terasa. Dalam proses tersebut, Klaster Panaba kemudian mendapatkan pendampingan melalui Program Klasterku Hidupku yang diinisiasi oleh BRI sejak 2017.
“Dengan pendampingan dari BRI, petani jadi lebih berani mengembangkan usaha. Apalagi kalau mau pakai teknologi, itu kan butuh modal besar. Kalau sendiri, berat,” ucapnya.
Pendampingan dari BRI sejak awal difokuskan pada kebutuhan utama budidaya buah naga, yakni pemanfaatan lampu untuk mengatur siklus produksi. Inovasi ini memungkinkan petani tidak sepenuhnya bergantung pada musim panen. Teknologi lampu tersebut sebenarnya telah dikembangkan sejak 2013 dan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan konsistensi produksi serta kualitas buah naga di Banyuwangi.
“Bentuk pemberdayaan dari BRI itu mendukung kegiatan-kegiatan klaster. Ada juga bantuan berupa pelatihan, seperti mendatangkan pakar supaya petani bisa belajar langsung. Selain itu, BRI juga mempermudah akses pinjaman modal. Kalau petani sudah punya tanaman buah naga, proses pinjamannya tidak ribet dan tidak perlu agunan yang sulit,” ujarnya.
Menurut Edy, dukungan tersebut memberikan dampak nyata terhadap kepercayaan diri petani dalam mengembangkan usaha.
“Dengan adanya pendampingan dari BRI ini, petani jadi lebih yakin dan lebih berani untuk mengembangkan usaha buah naganya. Petani tidak jalan sendiri,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyampaikan bahwa program Klasterku Hidupku dirancang sebagai pendekatan pemberdayaan untuk mendorong UMKM naik kelas, khususnya pelaku usaha di sektor produksi yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
“Dengan pendekatan ini BRI berharap klaster usaha yang berhasil berkembang dapat menjadi referensi dan role model bagi UMKM di daerah lainnya. Semoga cerita inspiratif dari Klaster Usaha Panaba di banyuwangi menjadi kisah inspiratif yang dapat direplika oleh pelaku usaha di daerah,” ujarnya.
Hingga akhir 2025, BRI tercatat telah membina 42.682 Klaster Usaha, dengan total 3.001 kegiatan pemberdayaan yang mencakup pelatihan usaha serta dukungan sarana dan prasarana produksi. Pembinaan tersebut difokuskan pada sektor-sektor yang memiliki daya ungkit tinggi terhadap perekonomian daerah.
(prf/ega)







