sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) terus melanjutkan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), khususnya proyek Tol Lingkar Pekanbaru sepanjang 30,8 kilometer.
Jalan tol ini dirancang untuk menghubungkan Tol Pekanbaru–Dumai dengan Tol Pekanbaru–Bangkinang, sekaligus memperkuat konektivitas transportasi di Provinsi Riau.
Direktur Operasi III HKI, Aditya Novendra Jaya, menjelaskan hingga akhir Januari 2026 progres pembangunan Tol Lingkar Pekanbaru telah mencapai 71,07 persen.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa proyek strategis nasional ini terus berjalan sesuai target meski dihadapkan pada berbagai tantangan teknis di lapangan.
“Per akhir Januari 2026, progres fisik Tol Lingkar Pekanbaru sudah mencapai 71,07 persen. Kami terus mengakselerasi pekerjaan dengan tetap mengedepankan standar mutu dan keselamatan,” ujar Aditya, Selasa (3/2/2026).
Menurut Aditya, selain fokus pada percepatan konstruksi, HKI juga menempatkan aspek kualitas, keselamatan, serta prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG) sebagai komitmen utama dalam setiap tahapan proyek.
“Keselamatan pekerja dan mutu pekerjaan adalah komitmen kami dalam setiap proyek,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan proyek Tol Lingkar Pekanbaru, HKI menerapkan dua program unggulan QHSSE (Quality, Health, Safety, Security, and Environment), yakni QHSSE Plan dan QHSSE Pass.
QHSSE Plan diterapkan untuk memastikan seluruh material yang digunakan serta metode kerja yang dijalankan telah memenuhi standar mutu dan keselamatan yang ditetapkan.
Sementara itu, QHSSE Pass berfungsi sebagai mekanisme verifikasi akhir. Program ini memastikan setiap pekerjaan yang telah diselesaikan benar-benar memenuhi standar kualitas, keselamatan, dan keamanan sebelum dilanjutkan ke tahapan berikutnya.
“Dengan QHSSE Pass, kami memastikan bahwa setiap pekerjaan yang sudah selesai tidak hanya tepat waktu, tetapi juga aman dan berkualitas,” jelas Aditya.
Ia menambahkan, HKI mengintegrasikan sistem manajemen mutu dan keselamatan serta kesehatan kerja (K3) yang terstandar.
Integrasi tersebut ditujukan untuk menghasilkan kinerja proyek yang optimal dari sisi mutu, waktu pelaksanaan, hingga efisiensi biaya.
Penerapan sistem manajemen K3 yang mengacu pada standar nasional dan internasional juga menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mencapai target zero fatality serta meminimalkan risiko kecelakaan kerja di lapangan.
Page 2
Tak hanya itu, prinsip ESG juga diterapkan secara konsisten, terutama dalam aspek pelestarian lingkungan.
Salah satu contoh konkret adalah pembangunan Jembatan Siak yang menggunakan metode balance cantilever tanpa pilar penyangga di bawah jembatan.
“Metode ini dipilih agar ekosistem Sungai Siak dan lingkungan di sekitarnya tetap terjaga dan tidak terganggu oleh aktivitas konstruksi,” ungkap Aditya.
Selain menjaga ekosistem sungai, HKI juga mengutamakan teknik pencabutan pohon-pohon yang terdampak proyek untuk kemudian ditanam kembali.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga ruang terbuka hijau serta mendukung pelestarian alam di sekitar area proyek.
“Kami berkomitmen tidak hanya pada hasil konstruksi yang berkualitas, tetapi juga pada keberlanjutan dan pelestarian lingkungan. Dengan mengintegrasikan prinsip ESG dalam setiap langkah, kami berharap proyek ini dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ekonomi Riau dan menjadi contoh pembangunan yang bertanggung jawab,” terang Aditya.
Keberadaan Tol Lingkar Pekanbaru diharapkan mampu memperkuat konektivitas antarwilayah di Pulau Sumatra, khususnya di Provinsi Riau.
Selain itu, infrastruktur ini juga diproyeksikan mendorong pertumbuhan ekonomi, memperlancar arus logistik, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
HKI, lanjut Aditya, akan terus memastikan bahwa setiap proyek yang dilaksanakan tidak hanya memberikan hasil terbaik dari sisi konstruksi, tetapi juga selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan sosial demi pembangunan yang berkelanjutan. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) terus melanjutkan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), khususnya proyek Tol Lingkar Pekanbaru sepanjang 30,8 kilometer.
Jalan tol ini dirancang untuk menghubungkan Tol Pekanbaru–Dumai dengan Tol Pekanbaru–Bangkinang, sekaligus memperkuat konektivitas transportasi di Provinsi Riau.
Direktur Operasi III HKI, Aditya Novendra Jaya, menjelaskan hingga akhir Januari 2026 progres pembangunan Tol Lingkar Pekanbaru telah mencapai 71,07 persen.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa proyek strategis nasional ini terus berjalan sesuai target meski dihadapkan pada berbagai tantangan teknis di lapangan.
“Per akhir Januari 2026, progres fisik Tol Lingkar Pekanbaru sudah mencapai 71,07 persen. Kami terus mengakselerasi pekerjaan dengan tetap mengedepankan standar mutu dan keselamatan,” ujar Aditya, Selasa (3/2/2026).
Menurut Aditya, selain fokus pada percepatan konstruksi, HKI juga menempatkan aspek kualitas, keselamatan, serta prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG) sebagai komitmen utama dalam setiap tahapan proyek.
“Keselamatan pekerja dan mutu pekerjaan adalah komitmen kami dalam setiap proyek,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan proyek Tol Lingkar Pekanbaru, HKI menerapkan dua program unggulan QHSSE (Quality, Health, Safety, Security, and Environment), yakni QHSSE Plan dan QHSSE Pass.
QHSSE Plan diterapkan untuk memastikan seluruh material yang digunakan serta metode kerja yang dijalankan telah memenuhi standar mutu dan keselamatan yang ditetapkan.
Sementara itu, QHSSE Pass berfungsi sebagai mekanisme verifikasi akhir. Program ini memastikan setiap pekerjaan yang telah diselesaikan benar-benar memenuhi standar kualitas, keselamatan, dan keamanan sebelum dilanjutkan ke tahapan berikutnya.
“Dengan QHSSE Pass, kami memastikan bahwa setiap pekerjaan yang sudah selesai tidak hanya tepat waktu, tetapi juga aman dan berkualitas,” jelas Aditya.
Ia menambahkan, HKI mengintegrasikan sistem manajemen mutu dan keselamatan serta kesehatan kerja (K3) yang terstandar.
Integrasi tersebut ditujukan untuk menghasilkan kinerja proyek yang optimal dari sisi mutu, waktu pelaksanaan, hingga efisiensi biaya.
Penerapan sistem manajemen K3 yang mengacu pada standar nasional dan internasional juga menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mencapai target zero fatality serta meminimalkan risiko kecelakaan kerja di lapangan.








