detik.com
Protes kreatif dilakukan warga Dusun Tempusari, Desa Sembulung, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Kesal karena proyek pavingisasi jalan desa tak kunjung dilanjutkan, warga menyusun batu paving menjadi bangunan menyerupai candi.
Tak kurang dari lima ‘candi’ dari batu paving dibangun di sepanjang jalan kampung. Aksi ini menjadi pelampiasan kekecewaan warga atas proyek jalan yang mangkrak selama berbulan-bulan. Alih-alih dibiarkan berserakan dan mengganggu pengguna jalan, batu paving tersebut justru ditata dengan gaya estetik.
Hari Susanto, salah satu warga Dusun Tempusari, mengatakan proyek pavingisasi telah terhenti sekitar enam bulan. Akibatnya, jalan kampung menjadi sempit, berkerikil, dan licin saat hujan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sudah enam bulan paving ini cuma ditaruh. Jalannya jadi sempit, berkerikil, kalau hujan licin,” unkap Hari, Jumat (6/2/2026).
Jengah menunggu proyek tak kunjung dilanjutkan, warga akhirnya menggelar aksi kreatif dengan menata hampir seluruh batu paving yang ada. Batu paving yang disusun oleh warga sepanjang 100 meter di jalan kampung itu justru menambah nilai estetik, jalan yang tadinya sempit dan licin jadi kan menarik. Sejumlah warga bahkan tampak berswafoto dengan latar candi buttant.
Menurut Hari, warga berharap aksi tersebut mendapat perhatian pihak perangkat desa. Material telah tersedia, namun anehnya proyek tak kunjung dijalankan kembali.
“Masyarakat di sini itu protes ke pemerintah desa. Terutama ini paving sudah enam bulanan tapi berantakan, nggak dipasang-pasang. Terus warga kecewa dan inisiatif membuat candi seperti ini,” tegas Hari.
Protes warga Banyuwangi dengan membangun candi akibat jalan tak kunjung diperbaiki Foto: Eka Rima/detikJatim |
Membangun candi merupakan bentuk sindiran yang bermakna menurut Hari. Warga menggambarkan usia candi yang bisa mencapai ratusan tahun, serupa dengan usia proyek mangkrak tersebut.
“Kalau ide pembuatan candi ini ada filosofinya. Candi itu kan usianya bisa ratusan bahkan ribuan tahun. Nah, ini mengisyaratkan kalau paving ini usianya sudah lama nggak dipasang-pasang. Makanya masyarakat kecewa,” sindirnya.
Hari menambahkan, pembangunan candi dari batu paving itu dilakukan secara gotong royong dalam waktu sekitar 2 jam.
Ranti Mariana, warga asal Kecamatan Gambiran mengaku sengaja datang ke Desa Tempusari setelah melihat unggahan di media sosial. Ia mengaku penasaran dengan candi-candi yang tampak estetik tersebut.
“Unik ya, makanya penasaran pengin lihat langsung. Ternyata memang ada,” ujar Ranti.
Menurut Ranti, susunan paving menyerupai candi itu bukan sekadar kreativitas, melainkan menyimpan pesan kritik dari warga.
“Ini bentuk protes warga ke pemerintah desa. Paving sudah enam bulanan tapi nggak dipasang-pasang. Katanya, candi itu bisa bertahan ratusan sampai ribuan tahun. Ini seperti menyindir kalau pavingnya juga ‘abadi’ di pinggir jalan,” tutup Ranti.
Warga mengaku tidak akan membongkar candi-candi tersebut hingga proyek kembali dilanjutkan. Sementara pihak desa sendiri belum memberikan tanggapan terkait hal tersebut.
(auh/abq)








