Ritual Tumpeng Songo: Pembuat Makanan Tak Boleh Mencicipi dan Puasa Bicara

0
1483

Yang terakhir tidak boleh mencicipi, bermakna setiap wanita harus mempercayai rekan-rekannya.  Jadi apa pun rasa masakan nanti, mereka harus tetap percaya. Seandainya tidak enak pun mereka tetap harus menerima kekurangan yang lain.

“Insya-Allah rasanya akan tetap enak. Kita pakai ilmu kira-kira. Sejak saya kecil takarannya tidak beda. Wanita yang memang biasa masak pasti bisa. Ragine wes pas, seng kiro seng enak (bumbunya sudah pas, tidak   mungkin tidak enak),” jelas Sumiyati.

Selain kue-kue, masakan yang tidak boleh ketinggalan dari ritual ini adalah jangan banci atau  sayur banci. Sayur yang terdiri atas seluruh bagian  sapi itu harus ada dalam kirab Tumpeng Songo.  Sayur yang isinya telinga, cingur, kepala, hati, ampela,  hingga kaki, itu wajib ada sebagai pelengkap ritual.

“Ini yang harus ada. Kalau ketinggalan bisa  bermasalah. Sudah menjadi kepercayaan turuntemurun,” timpal Aisiyah, warga lain. Yang terakhir adalah pethetheng atau ayam  guling yang dipasang pada sebuah tempat  mirip perahu-perahuan.

Pethetheng tersebut digotong oleh warga di barisan depan kirab Tumpeng Songo. Sebelum rombongan berjalan,  salah seorang sesepuh berteriak sambil  ber tanya dalam bahasa Oseng kepada para peserta kirab apakah semua perlengkapan  sudah siap. Para peserta kirab akan menjawab  dengan keras, “Sampun lengkap”.

Lanjutkan Membaca : First | ← Previous | ... | 2 |3 | 4 | Next → | Last