Sepeda Unto Paling Mahal, Pangsa Pasar Sampai Madura

0
345

deretan-sepeda-bekas-di-stan-pkl-milik-ismanto-di-jalan-brigjen-katamso-banyak-diminati-kolektor-sepeda-kuno


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

BELASAN sepeda pancal berjejer rapi di tepi jalan Brigjen Katamso, Banyuwangi, tepatnya beberapa meter di belakang kantor DPRD Banyuwangi  kemarin siang (21/10). Ada sepeda  unto jadul, ada sepeda mini, ada pula sepeda gunung, dan beberapa jenis sepeda lain.

Itu bukan parkiran. Bukan pula  stan pameran sepeda bekas. Sepeda- sepeda yang dijajar rapi itu adalah  dagangan Ismanto, 65, warga setempat.  Sudah sejak sekitar setahun ayah tiga  anak tersebut membuka usaha jual- beli sepeda pancal bekas.

Bukan hanya melayani transaksi jual-beli, dia juga  melayani pembelian dengan metode  tukar-tambah.  Lantaran olahraga sepeda semakin digemari masyarakat, Ismanto mencoba menangkap peluang tersebut. Alhasil, sejak dirinya membuka usaha sekitar setahun lalu, rata-rata dalam   sehari dia mampu menjual satu sampai  dua unit sepeda bekas kepada  konsumen.

“Pembeli berasal dari wilayah  Kota Banyuwangi dan sekitarnya,”  ujarnya. Dikatakan, meski mayoritas konsumen membeli  sepeda bekas untuk keperluan  transportasi sehari-hari, tidak sedikit pula konsumen yang membeli sepeda bekas sekadar  untuk keperluan berolahraga.

Menariknya, pelanggan Ismanto ternyata tidak hanya berasal dari  Kota Banyuwangi dan sekitarnya.   Sebaliknya, tidak jarang dia melayani pembeli asal luar pulau, tepatnya konsumen asal kepulauan Madura. “Saya punya beberapa pelanggan asal Kepulauan Madura. Sekali beli mereka (pembeli asal kepulauan) bisa sampai tiga sampai lima sepeda.  Mungkin untuk dijual lagi di daerah asalnya,” kata dia.

Sepeda-sepeda bekas dagangan  Ismanto itu dipatok dengan harga  bervariasi, mulai ratusan ribu rupiah hingga Rp 1 juta per unit.  Bukan sepeda jenis baru, sepeda bekas yang dia pasarkan dengan harga jutaan rupiah itu justru sepeda unto.

“Semakin tua dan semakin baik kondisi sepeda unto tersebut, harganya semakin mahal,” cetusnya. Hanya saja, Ismanto harus lebih  sabar menunggu sepeda unto tersebut terjual. Jika sepeda jenis  lain maksimal sudah terjual dalam  waktu dua pekan, sepeda unto  biasanya baru terjual sebulan  lebih.

“Karena peminatnya  terbatas, harganya lebih mahal  dibanding sepeda pancal jenis  lain yang saya jual,” akunya. Ismanto sengaja membiarkan kondisi sepeda bekas tersebut  apa adanya. Dia tidak menempelkan stiker atau mengecat ulang  agar sepeda bekas tersebut tampak lebih menarik. Dia hanya  memperbaiki rem, sadel, jeruji, atau pelek, sepeda bekas itu  sebelum dijual kepada konsumen.

“Kalau ditempel-tempel stiker, konsumen malah kurang yakin. Mereka mengira ada bagian tertentu yang rusak. Kalau  dibiarkan seperti ini, konsumen tahu kondisi sepeda yang sebenarnya. Tidak ragu,” cetusnya. Masih menurut Ismanto, dalam setiap unit sepeda yang terjual  biasanya dia hanya mendapat  untung Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu.

“Namun, kalau pembelian dilakukan dengan metode tukar-  tambah hasilnya bisa lebih besar.  Karena selain dapat untung dari sepeda yang terjual, saya dapat barang untuk dijual lagi,” tuturnya. Sementara itu, salah satu pelanggan, yakni Sugeng, mengaku kerap melakukan jual-beli sepeda bekas dengan Ismanto.

Biasanya dia membeli sepeda dari seseorang lantas menjualnya kepada Ismanto. “Saya juga  membeli sepeda untuk dipakai sendiri atau untuk cucu saya. Kalau beli sepeda baru mahal,”  pungkasnya. (radar)

Loading...

Baca Juga :