Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Sewindu Waroeng Kemarang, Rayakan 8 hari 8 malam dengan Hiburan Rakyat dan undang Pendekar Pencak

sewindu-waroeng-kemarang,-rayakan-8-hari-8-malam-dengan-hiburan-rakyat-dan-undang-pendekar-pencak
Sewindu Waroeng Kemarang, Rayakan 8 hari 8 malam dengan Hiburan Rakyat dan undang Pendekar Pencak

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Peringatan 8 tahun perjalanan Waroeng Kemarang Taman suruh -Glagah yang di launching 1 Januari 2018 ditandai dengan tanggapan 8 hari 8 malam dengan 8 kegiatan siang dan malam seperti: Sarasehan dan penpilan Paju Gandrung, ritual mudhun lemah, barong dan tari, angklung caruk, Burdah, pencak sumping yang ditutup dengan jaranan sekaligus pamungkas pameran lukisan.

Ir. Wowok Meirianto, MT, dan istrinya Ririt, owner Waroeng Kemarang yang kembali ke desa untuk isi masa pensiun jadinya menemukan dunia yang menyenangkan dan bermanfaat buat banyak orang dan parapihak. Selain ikon Rumah Osing terbesar dan ada panggung omprog gandrung terbesar, pihaknya juga senantiasa menggandengan pihak-pihak lain: pemerintah, akademisi dan pelaku pariwisata serta ragam komunitas.

Pada sabtu 3 Januari pukul 13.17-15.45 WIB digelar atraksi pencak sumping oleh 2 Perguruan yakni Cibagor dan Gagak Hitam dengan iringan musik gamelan karyawan Waroeng yang kini memperkerjakan sampao 60 pegawai, siswa PKL dan 30 seniman.

Para pendekar melakukan penghormatan kembangan perorangan dan berpasangan. Mulai jebeng usia SD hingga kakek usia 75 tahun yang tampil. Puncaknya 3 pendekar Gagak Hitam Santoso, Pauji dan anang Awik tampil dengan tehnik dan ekspresi yang hidup hingga Awik bisa mengunci Paujik hingga menerima loloan sumping atau kue nagasari yang berbahan pisang dibalut tepung yang dibungkus daun pisang lalu direbus.
Sedang pendekar Cibagor Mondoluko selain demontrasi pedang dan clurit juga strategi bisa mengambil kopyah teman tandingnya.

Santoso yang tinggal dekat balai desa sebut Gagak Hitam warisan buyutnya sejak sebelum kemerdekaan turun menurun. Bahkan ada yang pasukan Rempeg Jagapati saat perang puputan bayu dan menyingkir ke Glagah. “Jadi asli jowo Osing. Kami berlatih mulai kuda-kuda, langkah, pedangan dan senjata tajam, kembangan hingga buahnya. Dan kami niatnya olahraga untuk kesehatan bukan untuk kesombongan apalagi tawuran! ” ungkap pimpinan yang sebut latihan tiap malam minggu atau minggu malam. Dan ia sendiri mulai berlatih sejak belum baligh dim bimbing neneknya.

Ditambahkan oleh Sapawi ilmunya bila mungkin disembunyikan. Kecuali bila terpaksa untuk bela diri.

“Salah satu pendekar kami adalah romusha yang mengerjakan terowongan kereta di Gumitir. Dan pesannya terus gerak dan aktivitas untuk jaga kepekaan dan kelincahan, ” tutur kakek yang sempat tinggal di Bondowoso selama 45 tahun ini.

Sedang benteng Cibagor yakni Sa’i bin Rayis merupakan cicit dari pendiri Perguruan Modin Kawitan yang lahirkan sedulur Serad dan Senan yang sempat belajar di Pasundan. Dan tiap Ipas bakdha dhuhur Idul Adha di Dusun Mondoluko selalu digelar Festival Pencak Sumping. “Bila pencak ini sudah jadi adat tradisi, sedang kesenian gembrung atau Burdah merupakan wiluri, ” ungkap penabuh rebana besar si Kelir ini. Penabuh gembrung kian langkah hanya tinggal 1 di desa Jambesari, 1 di desa Kemiren dan 7 di kampung Mondoluko.

Pemuda Mondoluko Abdul Ghafur (27) yang dijuluki Pringgodani mengaku bangga menggeluti pencak sumping sejak SD. Dan kala sekolah sambil jadi pelatih ekstrakurikuler Pencak Silat di SMP Sunan Giri sering tampil di hajatan maupun karnaval serta lomba hingga dapat beasiswa.
“Situasi pandemi saat saya sekolah di SMK PGRI 1 Giri sebabkan remaja lainnya berhenti berlatih. Usai pandemi sudah gengsi dan sibuk dengan HPnya. Hingga yang aktif ada teman Alam dan syukur ada anak SD mulai berlatih, ” ungkap teknisi wifi rumahan ini.

Kepala Desa Taman suruh, Teguh Eko Rahardian, bermimpi di wilayahnya ada latihan pencak silat massal mulai TK hingga kampus yang ada di desa lereng Gunung Ijen ini.

” Hingga suatu ketika ada Festival Pencak Sumping Sewu layaknya kopi Sewu, tumpeng Sewu dan gandrung Sewu yang telah go internasional. Dan sebelum mengakhiri pengabdian sebagai kepala desa ingin pilar di balai desa ada ornamen pencak sumping sinergi dengan ornamen gajah oling dan gandrung, “tutur penerus Generasi Tawang Alun ini yang menutup sambutan dengan kembangan silat yang memukau nan mistik religi hingga mendapat Aplaus pengunjung. (Yeti Chotimah/Aguk/JN)