Subuh Sudah Nyapu, Siang Jual Cakar Ayam

0
218

subuhLingkungan sekitar kita menjadi bersih dan asri tak lepas dari peran tukang sapu (pesapon) jalan. Mereka rutin membersihkan jalan tiga kali sehari. Bagaimana keseharian mereka?


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

DARI ratusan petugas kebersihan di Bumi Blambangan, nama Supalal termasuk salah satu yang senior. Lelaki berumur 46 tahun itu tinggal di Dusun Kepatihan, Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi. Awalnya, dia risih melihat tumpukan sampah di lingkungan sekitarnya. Karena rajin membersihkan, ak hirnya dia menjadi petugas pesapon. Setelah 19 tahun mengabdi sebagai pesapon, akhirnya dia diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan menjadi pengawas para pesapon.

Bagi bapak dua anak itu, pekerjaan sebagai pesapon merupakan panggilan jiwa dan tanggung jawab. Peker jaan itu dia lakoni sejak berusia 24 tahun, yakni sejak tahun 1991 Ketika baru menjadi petugas kebersihan, Su palal bertugas di Pasar Rogojampi. Hampir setiap hari tugasnya adalah membersihkan sampah yang berserakan di se kitar pasar tersebut. Menjadi pesapon dia lakukan dengan senang hati tanpa rasa malu.

Meskipun bagi sebagian orang, tugas tersebut dianggap menjijikkan karena ha rus bergelut dengan bau tak sedap dan tempat kumuh. Namun, dengan berpegang teguh pada prinsip bahwa kebersihan adalah sebagian iman, Supalal bisa menikmati pe kerjaannya tersebut. Setelah berjuang se kian lama, akhirnya dia diangkat menjadi PNS sejak tahun 2010 lalu. Sejak saat itu, dia lang sung menjadi pengawas para pesapon di Kecamatan Rogojampi dan membawahi delapan tenaga pesapon.

Lalu, bagaimana dengan kesejahteraan hidupnya? Sejak melakoni pekerjaan sebagai petugas kebersihan, Supalal hampir tidak pernah mengeluhkan bayaran. “Rezeki itu sudah ada yang mengatur, tinggal bagaimana saya berusaha dan mensyukuri,” katanya. Sejak menjadi pengawas pesapon, bukan ber arti tugas menjadi pesapon berhenti. Dia tetap melakoni pekerjaan itu seperti biasa, yakni menyapu jalan dan mengangkut sampah.

Tugas menjadi  pesapon itu di lakukan seusai salat Subuh hingga matahari menyingsing di ufuk timur. “ Pokoknya se belum anak berangkat sekolah harus ter lihat bersih,” katanya. Alasan Supalal cukup masuk akal. Sebab,jika tugas itu dia jalankan di atas pu kul 06.00, maka kondisi jalan raya su dah banyak kendaraan. Tentu saja, keramaian lalu lintas bisa membahayakan ke selamatannya. Apalagi, berulang kali dia nyaris diserempet kendaraan saat menyapu jalan raya.

Sebagai pengawas pesapon, dia selalu memotivasi seluruh pesapon binaannya agar kompak dalam menjalankan tugas. Jika ada sudut kota yang terlihat kotor, semua harus dengan kompak membersihkan sudut kota itu bersama-sama dan penuh semangat.” Pokoknya bagaimana caranya kawasan Rogojampi terlihat bersih” kata Palal. Jiwa menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya juga dia tanamkan pada kedua orang anaknya yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Poliwangi Banyuwangi.

Dia mendidik dan membiasakan anak-anaknya mengambil sisa makanan yang berserakan dan memasukkan ke tempat sampah. Sementara itu, suka-duka menjadi pesapon juga diungkapkan Slamet Sanali, warga Dusun Kabat Mantren, Desa/ Kecamatan Kabat. Senangnya, kalau bertemu sesama teman, langsung bersenda gurau dan mempererat silaturahmi. Dukanya, di saat ada kegiatan malam hari,  maka keesokan harinya banyak sampah yang berserakan di tepi jalan.

Misalnya, se telah ada pengajian atau karnaval, jalan se lalu kotor dan butuh tenaga ekstra untuk membersihkannya. “Kesadaran masyarakat membuang sampah di tempatnya masih minim” kata bapak dua anak itu. Meski menjadi pesapon baru dijalani tiga tahun, Sanali merasa bersyukur bisa men jadi THL (tenaga harian lepas) Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Banyuwangi. “Meski insentif yang diterima jauh dari cukup untuk kebutuhan keluarga, tapi saya bersyukur karena mendapat pekerjaan yang mulia,” tuturnya.

Untuk menambal kebutuhan hidup istri dan dua anaknya, Sanali mempunyai pekerjaan sampingan, yaitu membuat jajan ca kar ayam. Makanan ringan tersebut dibuat berbahan beras-ketan. Jajan kering cakar ayam itu dimasak istrinya di rumah, selanjutnya Sanali menjajakan keliling dari ke warung ke warung atau toko. Tidak jarang, dia mendapat pesanan cakar ayam itu dalam jumlah banyak. “Kadang ya dapat order dari sesama teman pesapon” cetusnya. (radar)

Loading...