Tak Digaji 3 Tahun, Kabur lalu Dibunuh

0
9628

takdigajiPerjalanan Endang Sulistiowati mencari nafkah di Arab Saudi penuh penderitaan. Selama tiga tahun bekerja, TKI asal Dusun Krajan, Desa Kaligung, Kecamatan Rogojampi, itu tidak digaji. Hingga akhirnya, dia pulang tinggal nama. PERJALANAN hidup Endang yang satu ini begitu berat sejak bekerja di Arab Saudi. Bayangkan, ibu satu anak yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) ter sebut tidak digaji majikan se jak pertama datang tahun 2007 silam.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Kenyataan pahit itu ber langsung selama tiga tahun. Karena tidak menerima gaji, pe rempuan yang sudah bercerai de ngan suaminya itu akhirnya me milih melarikan diri. Ke mudian, yang bersangkutan berhasil mendapatkan pekerjaan atas bantuan teman. Meski begitu, almarhum sering berpindah tempat kerja de ngan beragam pertimbangan. Se hingga, sebelum dikabarkan me ninggal dunia, almarhum rajin mengirim uang kepada keluarganya di Bumi Blambangan.

Bahkan, ibunda Riska Nur vianti, 19, itu mengirim sejumlah uang tiap bulan. Almarhum pun menjadi sering berkomunikasi de ngan keluarga, termasuk pu trinya. Komunikasi melalui sambungan telepon tersebut berlangsung lancar tanpa ken dala. Namun, keluarga kaget bukan main saat menerima kabar ke matian almarhum. Sebab, be lum genap sehari almarhum ber cakap-cakap melalui sambu ngan telepon.

Pada saat itu, ti dak ada pesan khusus dari al marhum. Riska Nurvianti, 19, me nge nang, kala itu dirinya dihubungi ibunya pagi hari sebelum me ninggal dunia malam harinya. Dia mengaku tidak punya fi rasat apa pun jelang kematian sang ibu ‘’Bagaimana tidak kaget, ibu saya dibunuh,” katanya. Dia pun bertanya kepada sang ibu kapan pu lang. Sang ibu berjanji akan lekas pulang se belum bulan Puasa biar bisa Lebaran ber sama keluarga.

‘’Pulang dimajukan sebelum bulan Ramadan. Jadi, puasa sudah ada di rumah,’’ kenang gadis yang sudah di tinggal pergi ibunya sejak kelas dua SMP itu. Selama ini, biaya hidup Riska—sapaan akrab Riska Nurvianti—berasal dari kiri man ibu. Saat tidak dikirimi uang, bibinya yang memenuhi biaya sehari-hari hingga biaya sekolah mulai tingkat SMP hingga kuliah. ‘’Saya gak boleh kerja sama ibu. Di suruh kuliah sampai selesai lalu bekerja,” ka tanya.

Baca :
Polresta Banyuwangi Tangkap Pembuat Bom Ikan

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last