Tanpa Digaji, 24 Jam Pantau Laut Untuk Nelayan Muncar

0
105

KANTOR Pokmaswas Rani itu menempati bangunan tak jauh dari tempat pelelangan ikan (TPI) Pantai Satelit, Dusun Palurejo, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar. Sekretariatnya itu berukuran tiga meter kali tiga meter dan berada persis di bibir pantai.

Di ruangan yang relatif kecil itu, ada sejumlah alat komunikasi mulai dari handy talki (HT), radio marine, dan satu unit perangkat komputer lengkap dengan mixer. Bahkan, di tempat itu juga tersedia  sebuah receiver prakiraan cuaca dan   life jacket atau rompi pelampung. Pokmaswas Rani itu merupakan salah satu Pokmas yang berada di Kecamatan  Muncar.

Terbentuknya Pokmaswas berawal  dari keprihatinan nelayan di Pantai Satelit dengan adanya kecelakaan di laut yang kerap terjadi hingga jatuh korban jiwa. Berangkat dari keprihatinan itulah,  sekelompok masyarakat nelayan yang tergabung dalam Pokmaswas mulai  bergerak, salah satunya dengan menciptakan kondisi sekitar pelabuhan yang  bersih, asri, dan sejuk.

“Dulu di sekitar pelabuhan banyak sampah, kumuh,  dan kotor. Sekarang mulai berangsur  baik dan bersih,” cetus Tukimin, salah seorang pengurus Pokmaswas. Untuk menciptakan pelabuhan yang nyaman, seluruh elemen masyarakat di sekitar pesisir terlibat dalam berbagai kegiatan.

Mulai dari bersih-bersih sampah dan melakukan penanaman cemara udang di sekitar pelabuhan Satelit. Penanaman cemara udang di sekitar   pelabuhan dan kawasan pesisir Pantai Sate lit itu, diharapkan akan mampu membuat suasana yang hijau, asri, dan sejuk.  Sehingga, di bibir pantai tak lagi panas. Selain berfungsi untuk penghi jau an,  penanaman cemara udang itu juga bagian  sedekah oksigen.

“Ke depan, jika tanaman cemara udang sudah tumbuh besar, sekitar pelabuhan Satelit Muncar akan menjadi salah satu destinasi wisata di Muncar,” cetusnya.

Anggota Pokmaswas berjumlah 30  orang. Setiap hari, bergantian melakukan pemantauan dan penjagaan kawasan perairan sekitar Muncar, terutama yang berada di kawasan Pantai Satelit,  Dusun Palurejo, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.

Meski berjaga selama 24 jam non stop secara bergantian, para anggota Pokmaswas tersebut seolah tak kenal lelah. Pada ruang tiga meter kali tiga meter itu, tidak ada televisi, yang ada hanya alat komunikasi radio marine dan HT. “Kalau kesepian, untuk hiburan ya karaokean,” jelas Tukimin.

Para anggota Pokmaswas itu melakukan pengawasan dengan memantau pergerakan kapal-kapal nelayan serta kapal tangker yang melintas di sekitar perairan Muncar. Pemantauan kapal-kapal itu melalui satelit dengan terkoneksi jaringan  internet.

Satu per satu kapal yang melintas akan terdeteksi, mulai dari nama kapal dan arah gerak kapal. Jika cuaca di samudera Hindia sedang buruk, biasanya kapal-kapal tangker yang akan melintas berhenti sejenak di sekitar perairan Muncar.

“Khusus untuk kapal tangker yang  akan lego jangkar, ada koordinat tertentu yang tidak boleh lego jangkar karena ada saluran kabel bawah laut,” beber Tukimin. Oleh karena itu, melalui radio marine tersebut Pokmaswas melakukan kontak langsung dengan kapal yang berada di tengah laut,  agar menghindari koordinat  tertentu yang di bawahnya ada saluran kabel optik bawah laut.

Keberadaan radio marine tersebut, kata Tukimin juga sangat membantu aktivitas nelayan selama berada di tengah laut. Jika ada peristiwa sekecil apa pun pada kapal nelayan yang  berada di tengah lautan, langsung  mengirimkan kabar kepada petugas Pokmaswas yang berada di daratan.

“Misalnya ada kabar kapal tenggelam, langsung cepat terdeteksi dan segera kita meneruskan kepada petugas terkait untuk melakukan pertolongan,” katanya.  Beberapa anggota Pokmaswas yang jaga, sudah dibekali dengan  Surat Keterangan Kecakapan (SKK)  60 mil plus untuk nautika atau teknika. Sehingga, jika sewaktu-waktu terjadi peristiwa kecelakaan  laut yang butuh pertolongan, para anggota Pokmaswas bisa langsung mengemudi kapal.

“Kami masih belum memiliki kapal, jadi sementara jika ada peristiwa kita  sampaikan kepada Satpolair, TNI AL, dan BPBD,” ujar Darwin, 40, anggota Pokmaswas lainnya. Pokmaswas baru mendapatkan bantuan dari Dinas Kelautan dan  Perikanan Banyuwangi sebuah alat receiver prakiraan cuaca.

Alat itu berupa pengeras suara yang menyiarkan secara langsung informasi prakiraan cuaca dari Stasiun   Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi yang  disiarkan oleh BPBD Banyuwangi. Alat pengeras suara itu terpasang di pelabuhan perikanan Satelit, Brak Kalimoro, Kecamatan Muncar; Pantai Cungkingan, Desa Badean,  Kecamatan Kabat, dan Pantai Grajagan, Kecamatan Purwoharjo.

Melalui alat itu diharapkan para nelayan dapat mengetahui kabar mengenai prakiraan cuaca. Rencananya, informasi prakiraan cuaca  itu akan disiarkan dua kali sehari,  yakni pagi dan sore hari. (radar)

Loading...