Tengkorak Eni Bersih Diduga DimakanBiawak

0
167

tengkorakKASUS pembunuhan Eni Marfuah rupanya masih menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Mulai dari warung kopi, kafe, hingga tempat keramaian umum, tidak sedikit orang yang menjadikan kasus mutilasi siswi madrasah tsanawiyah itu sebagai bahan obrolan. Padahal, menilik kejadian,kasus yang menggemparkan tersebut sudah berlalu hampir satu bulan.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Berbagai tahap pembunuhan sadis itu menarik animo masyarakat untuk tetap membahasnya. Tidak hanya terkait tindakan para tersangka yang dinilai sadis, obrolan masyarakat juga mengarah ke kondisi kepala yang terpisah dengan badan korban. Apalagi, saat ditemukan di sungai Dusun Kabat Mantren, Desa/KecamatanKabat, kepala korban ternyata sudah berbentuk tengkorak. Ditambah lagi, pihak Instalasi Kedokteran Kehakiman (IKK) RSUD Blambangan dua kali mengotopsi tengkorak tersebut. 

Otopsi ulang tengkorak itu tentu menimbulkan gonjang-ganjing apakah itu betul kepala korban. “Ya aneh juga kalau dokternya sendiri ragu dan otopsi sampai dua kali,” ujar Dedi,warga Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Banyuwangi. Keraguan dokter IKK RSUD Blambangan terhadap tengkorak korban memang didasari atas beberapa alasan. Selain diduga merupakan tengkorak lama, beberapa bagian tengkorak, khususnya gigi, sudah tidak lengkap.

Gigi korban hanya tersisa sekitar empat hingga enam buah. Padahal, gigi dianggap organ yang paling susah lapuk dan hancur. Terlebih lagi, tengkorak yang ditemukan itu tergolong sudah bersih. Serabut otot di tengkorak itu tak tersisa sama sekali. Selain itu, isi tengkorak tersebut juga sudah bersih. Dugaan bahwa itu merupakan tengkorak lama pun mencuat. Tetapi, alibi lain muncul seputar kondisi tengkorak yang tidak lagi utuh tersebut.

Salah satunya, kondisi lingkungan di lokasi penemuan tengkorak yang merupakan sarang reptil. Lokasi penemuan tengkorak memberikan gambaran bahwa tengkorak itu diduga rusak akibat terendam air. Apalagi, di sungai tersebut banyak lubang yang diyakini sebagai sarang biawak. Warga sekitar mengaku sering melihat biawak berkeliaran di sekitar lokasi kejadian dan lokasi penemuan tengkorak. 

Ditambah lagi, saat ditemukan Samsul pada 1 Mei lalu, atau 15 hari setelah pembunuhan korban, tengkorak itu ditemukan di sebuah lubang biawak di pinggir sungai. Masyarakat setempat menduga kepala korban itu menjadi santapan biawak. Otak, mata, kulit, dan gigi yang rompol, diduga disebabkan sering dikelamuti hewan melata tersebut. “Tengkorak itu sudah bersih. Saat ditemukan hanya berisi pasir,” ujar Yudi, penjaga kamar mayat RSUD Blambangan.

Hasil identifi kasi itu cukup membantu dalam menguak identitas korban. Hasil pemeriksaan diketahui, tengkorak itu diperkirakan berusia di bawah 17 tahun dan berjenis kelamin perempuan. Keluarga korban pun menyatakan legawa dan menerima masalah tersebut. Meski demikian, tidak sedikit orang yang menyangsikan kebenaran terkait identitas tengkorak tersebut. Apalagi, kepolisianakhirnya memutuskan tidak melakukan tes DNA. Tidak sedikit pula yang meminta dilakukan rekonstruksi untuk mengetahui setiap detail kejadian. 

Dalam rekonstruksi itu nanti akan diketahui kemungkinan perubahan lokasi tengkorak kepala yang diyakini milik korban tersebut. Eko Susanto SH, pengacara pelaku, ingin rekonstruksi itu digelar dalam waktu dekat. Alasannya sederhana, agar runtutan kejadian bisa diketahui dengan detail termasuk proses mutilasi kepala korban. Soal benar atau tidaknya tengkorak korban, Eko enggan mengomentari lebih lanjut. Yang jelas, rekonstruksi itu nanti akan memberikan gambaran kemungkinan lain terkait posisi kepala korban.

“Sebetulnya rekonstruksi kemarin, tapi ditunda. Mudah-mudahan digelar dalam waktu dekat,” ujarnya. Seperti diberitakan sebelumnya, Syaiful Hadi, 17, warga Dusun Bodean, Desa/Kecamatan Kabat, tega menghabisi Eni Marfuah, 14, pacarnya sendiri. Dibantu temannya, Abdul Rosyid, Syaiful mencekik Eni di lapangan bola Kabat. Setelah itu, mereka membawa mayat korban ke lahan kosong dekat jurang di Dusun Kabat Mantren, Desa Kabat. 

Di lokasi itu, kepala korban dipenggal hingga terpisah dari badan. Selanjutnya, kedua pemuda itu pulang dan nonton kesenian janger. Pada dini hari mereka kembali lagi ke jurang itu untuk mengubur mayat Eni. Lantaran tanah di lokasi cukup keras, akhirnya jenazah korban dikubur seadanya. Setelah diguyur hujan lebat, lahan di lokasi kejadian longsor, sehingga tubuh korban dan kepalanya tercebur ke sungai. Kasus pembunuhan itu terkuak setelah badan tanpa kepala ditemukan di dam dekat rel KA di Dusun Kabat Mantren Sabtu akhir bulan lalu (26/4).(radar)

Loading...