Turis Mulai Berdatangan, Penambang Mulai Beraktivitas

  • Bagikan
SAPA PENAMBANG: Seorang turis berbincang dengan penambang belerang.

Meski berstatus waspada, Gunung Ijen tetap ramai dikunjungi wisatawan. Dengan status level II itu, kawah Ijen masih memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing. Seperti apa kondisinya kini?

-SYAIFUDDIN MAHMUD, Licin-

SENIN lalu (27/8) saya bersama seorang teman mencoba menikmati keelokan Gunung Ijen. Kami berdua sengaja memilih naik Ijen menggunakan trail. Perjalanan dari Banyuwangi ke Paltuding kami tempuh selama satu jam. Medan yang kami lalui cukup menantang karena pagi itu jalan menuju Ijen diguyur hujan deras. Begitu melintas di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, hujan disertai angin menyapa kami berdua.

Hingga tanjakan tajam Erek-Erek hujan tak kunjung reda. Lantaran kondisi jalan terjal dan licin, trail KLX 150 S yang kami tumpangi nyaris nyunsepdi tikungan tajam Erek-Erek. Beruntung, dengan sigap kami langsung menginjak pedal rem. Alhamdulillah, kami selamat dari maut. “Wahkurang mahir jokinya. Jalannya licin, Mas, hati-hati mengendarai motor.

Banyak bahan bakar tumpah di jalan hingga mengakibatkan jalan licin,” ujar Anang, seorang sopir kendaraan adventureyang kebetulan menghampiri kami berdua. Tikungan Erek-Erek memang dikenal tajam. Kemiringannya menyulitkan pengendara motor yang melintas di tempat itu. Makanya, tak salah jika Pemkab Banyuwangi dalam waktu dekat akan menyulap Erek-Erek menjadi lintasan yang mulus.

Dalam APBD 2012, sudah tersedia ang garan perbaikan jalan Ijen sebesar Rp 3,2 miliar. Selain diperbaiki, beberapa tan jakan yang tidak memenuhi standar ke selamatan berlalu-lintas akan dikepras, termasuk Erek-Erek. Meski sempat dihadang hujan deras, tepat pukul 07.00, trail yang kami kendarai sam pai ke pelataran Paltuding. Puluhan ken daraan roda empat berpelat luar kota Ba-nyuwangi telah berjejer di parkiran.

Rata-rata penumpang kendaraan itu adalah wisatawan dari mancanegara (wisman). Mereka sengaja berwisata ke Ijen menggunakan kendaraan adventure. “I like Mountain Ijen for its natural beauty(Saya suka Gunung Ijen karena keindahan alamnya, Red),’’ ujar Mr. Jack, 50, turis asal Kanada. Bukan hanya Mr. Jack, belasan turis asal Belanda, Spanyol, Swiss, Jerman, dan Australia, juga terlihat asyik mendaki tanjakan menuju puncak Ijen.

Baca :
Pulihkan Ekonomi, Banyuwangi Kembali Bagi-Bagi Alat Usaha ke Warga

Usia mereka beragam. Ada yang masih muda, ada pula yang sudah berkepala 50 tahun ke atas. Rata-rata turis tua membawa tongkat agar tidak terperosok di jalan menurun. “This is the first time I visited Ijen(Saya baru pertama kali ini berkunjung ke Ijen, Red),’’ aku Jack sembari beristirahat karena kelelehan mendaki puncak Ijen. Saat ini, pengunjung tidak bisa mendekati kawah Ijen. Ini semata terkait status waspada level dua.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, petugas BKSDA berjaga di sekitar puncak. “Cukup sampai di sini saja. Jangan sampai mendekati kawah,’’ ujar Sapari, petugas BKSDA. Rupanya larangan mendekati kawah itu tidak berlaku bagi penambang belerang. Meski ada larangan, mereka nekat turun ke dekat kawah untuk memungut belerang yang selanjutnya diangkut menggunakan keranjang menuju Pos Bu nder (pos timbangan pertama).

Pada H plus 7 Lebaran, penambang mulai beraktivitas. Jumlah mereka cukup banyak. Sekitar 80 penambang bergantian mengais belerang dari kawah Ijen untuk diangkut ke Pos Bunder dan selanjutnya dibawa tu run ke penampungan dekat Paltuding. “Se-betulnya ada 300 penambang, Mas. Namun, yang kerja hari ini baru 80 orang,’’ ujar Sunarto, seorang penambang asal Dusun Plam pang, Desa Bulusari, Kecamatan Kalipuro.

Rata-rata penambang berasal dari Plampang, Kelurahan Gombengsari hingga Pesucen. Mereka ada yang menginap dan ada pula yang langsung pulang ke rumahnya se telah mendapatkan upah menambang. Pas ca Lebaran, pekerja tidak begitu ngoyo. Setelah menempuh perjalanan satu trip, mereka langsung pulang. “Saya masih lelah, Mas. Cukup satu trip saja. Yang penting dapat hasil,’’ aku Matlawi, penambang asal Gombengsari.

Pagi hingga pukul 11.00, Matlawi sudah me ngantongi uang Rp 46 ribu. Jerih payah itu didapat dari hasil penambangan belerang seberat 70 kilogram. Sekadar tahu 1 kg belerang oleh pihak PT. Candi Ngrimbi (se laku pengepul belerang) dihargai Rp 662. Sehingga, siang itu Matlawi membawa pulang uang Rp 46 ribu untuk menghidupi seorang anak dan istrinya. “Saya sudah empat tahun kerja tambang ini, Mas.

Baca :
Pulihkan Ekonomi, Banyuwangi Kembali Bagi-Bagi Alat Usaha ke Warga

Kadang berangkat subuh pulang sore,’’ ujar Matlawi. Berbeda dengan Matlawi, Pak Sena, 46, siang itu mampu membawa pulang uang Rp 132 ribu. Dia mampu mengangkut belerang dari kawah ke pelataran Paltuding dua kali trip sehari. Dalam satu trip, Pak mampu mengangkut 100 kg belerang. “Kalau Pak Sena itu jagonya nambang.Lebaran kemarin dia dapat THR dari PT. Ngrimbi de ngan nilai terbesar.

Nilainya Rp 300 ribu dengan akumulasi belerang yang dia angkut dalam setahun 5 ton,” kata Matlawi dibenarkan rekan-rekannya. Aktivitas penambangan diperkirakan ramai dalam pekan-pekan mendatang. Apalagi, Lebaran sudah selesai. Jumlah mereka dipastikan lebih banyak. Sekitar 300 penambang bakal meramaikan lintasan ber pasir dari kawah menuju Paltuding.

“Sebenarnya kami tahu ada larangan menambang sejak status Gunung Ijen naik menjadi waspada. Tapi gimana lagi, kalau dilarang, jelas kami tidak bisa makan,” aku Sunarto berterus terang. Kapolsek Licin, AKP Hery Subagyo, bisa me maklumi keluhan penambang itu. Makanya, ketika berjaga di pos pelayanan Paltuding selama L ebaran kema r in, pihaknya dan BKSDA tidak bisa melarang penambang.

“Pokoknya hati-hati dan tidak melakukan pelanggaran,” kata kapolsek. Kebera daan pena mbang rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi turis. Tak sedikit wisman yang memberikan makanan ringan kepada para penambang. Sekali-kali para wisman juga menjajal memikul belerang dalam keranjang sambil berjalan menuruni jalan menurun. “Ternyata berat juga mengangkut belerang,’’ ucap seorang turis dengan logat bahasa Inggris. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: