Usia 57 Tahun Masih Tampil Menari

0
641
Loading...

Setelah sekitar 15 menit berselang, dia kembali dari arah dapur dan menyuguhkan secangkir teh hangat. “Silakan diminum, hanya air yang bisa saya suguhkan,” ujarnya. Temuk mengaku dirinya terlahir dengan nama Misti. Namun, lantaran saat bayi dia sakit-sakitan, orang tuanya lantas menambahkan nama Temuk di depan nama lahirnya tersebut. “Nama saya jadi lebih panjang, yakni Temuk Misti. Tetapi sampai sekarang masyarakat lebih mengenal saya dengan nama Gandrung Temuk,” ceritanya.

Di usia 15 tahun pada tahun 1969 silam, Temuk mulai belajar tari gandrung. Entah karena bakat alam atau faktor lain, Temuk dengan cepat menguasai tarian asli Banyuwangi tersebut. Bahkan tiga tahun berselang, karirnya sebagai penari gandrung semakin melesat. “Ngetop-ngetopnya saya ya pada tahun 1972 itu,” paparnya. Kini usia Temuk sudah 57 tahun. Meski sudah tua, dia tetap eksis manggung di pentas seni tradisional. Bahkan pada tanggal 16 Juni mendatang, dia masih dipercaya menjadi penari gandrung di acara hajatan yang digelar warga Wonosari, Kecamatan Glagah.

Kecintaan Temuk terhadap Tari Gandrung memang tidak perlu diragukan. Demi regenerasi, dia kerap kali melatih anak-anak muda menari Gandrung. Beberapa bulan yang lalu, dia juga dipercaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi untuk melatih 24 remaja menari gandrung. “Saya berkewajiban melestarikan tarian asli Banyuwangi ini,” terangnya. Upaya Temuk ternyata tidak sia-sia. Setidaknya, satu dari 24 muridnya itu kini menjadi penari gandrung profesional.

Hidayati –nama murid Temuk tersebut lantas bergabung dalam grup Sopo Ngiro bersama sang guru. Sebagai seniman panggung, Temuk tentu tidak bisa seratus persen mengandalkan penghasilan dari upah manggung. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Temuk memilih bertani. “Alhamdulillah saya punya sawah walaupun luasnya tidak sampai setengah hektare (ha). Hasilnya bisa untuk menyambung hidup,” katanya.

Tidak hanya itu, karena hasil panen tidak mampu digunakan menutup seluruh kebutuhan hidupnya, Temuk juga beternak ayam kampung. Ironisnya, akhir bulan April yang lalu, ratusan ayam ternak miliknya mendadak mati. Modal sebesar Rp 2 juta pun melayang. “Padahal pagi ayam-ayam itu sehat. Eh sore hari kok tiba-tiba mati semua. Kemungkinan kena flu burung,” katanya.

Lanjutkan Membaca : First | ← Previous | 1 |2 | 3 | Next → | Last