sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Perjuangan warga Dusun Ringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, untuk menyelamatkan Gunung Gede dan Gunung Kucur dari aktivitas eksplorasi penambangan PT Bumi Suksesindo (BSI) berlanjut.
Warga menganggap kedua gunung tersebut sebagai tameng alami terhadap ancaman pasang air laut.
Meskipun aktivitas ekspansi penambangan di wilayah Petak 56 saat ini tengah vakum pasca aksi demonstrasi warga pada Desember lalu, masyarakat setempat tetap bersiaga (standby).
Mereka khawatir PT BSI sewaktu-waktu akan melanjutkan penambangan. Terlebih, hingga kini warga belum mendapat kepastian tertulis bahwa kedua gunung tersebut tidak akan dieksploitasi.
Perkembangan terbaru, aliansi warga tengah menyiapkan surat resmi berisi poin-poin penting mengenai kondisi terkini di sekitar area tambang Petak 56 serta tuntutan masyarakat.
Surat tersebut rencananya akan dikirimkan kepada Pemkab Banyuwangi.
“Kami sedang menyusun surat tuntutan bersama warga,” ujar Katoyo, perwakilan warga Dusun Ringinagung, kemarin (12/1).
Katoyo menyebutkan, setidaknya ada tiga poin utama yang akan dicantumkan dalam surat tersebut. Pertama, mengenai fungsi ekologis gunung di wilayah mereka.
“Kami akan tuangkan dalam surat bagaimana kondisi nyata pegunungan di sini dan seberapa besar perannya bagi perlindungan masyarakat,” terangnya.
Poin kedua adalah permintaan kepastian agar Gunung Gede dan Gunung Kucur tidak tersentuh aktivitas eksploitasi.
“Selama ini belum ada kepastian. Kami sempat mengajukan opsi kepada pihak tambang, namun belum ada titik temu. Penambang rakyat bahkan siap angkat kaki asalkan PT BSI juga tidak melanjutkan penambangan di area tersebut,” tegasnya.
Poin ketiga menyinggung aspek kesejahteraan warga. Menurut Katoyo, selama beberapa tahun terakhir masyarakat merasa belum merasakan dampak positif yang signifikan dari keberadaan tambang berskala besar tersebut.
“Memang ada program pavingisasi, tetapi panjangnya tidak seberapa. Masih ada sekitar 5 km jalan yang rusak. Bahkan, penerangan di akses menuju area tambang saja masih minim,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa pengiriman surat ini menjadi sangat urgen agar bupati mengetahui kondisi riil di lapangan mengingat konflik agraria dan lingkungan ini masih terus bergejolak.
Page 2
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Perjuangan warga Dusun Ringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, untuk menyelamatkan Gunung Gede dan Gunung Kucur dari aktivitas eksplorasi penambangan PT Bumi Suksesindo (BSI) berlanjut.
Warga menganggap kedua gunung tersebut sebagai tameng alami terhadap ancaman pasang air laut.
Meskipun aktivitas ekspansi penambangan di wilayah Petak 56 saat ini tengah vakum pasca aksi demonstrasi warga pada Desember lalu, masyarakat setempat tetap bersiaga (standby).
Mereka khawatir PT BSI sewaktu-waktu akan melanjutkan penambangan. Terlebih, hingga kini warga belum mendapat kepastian tertulis bahwa kedua gunung tersebut tidak akan dieksploitasi.
Perkembangan terbaru, aliansi warga tengah menyiapkan surat resmi berisi poin-poin penting mengenai kondisi terkini di sekitar area tambang Petak 56 serta tuntutan masyarakat.
Perwakilan warga Dusun Ringinagung Katoyo memberikan keterangan terkait rencana pengiriman surat tuntutan ke Pemkab Banyuwangi Senin (12/1). (SALIS ALI/RADAR BANYUWANGI)
Surat tersebut rencananya akan dikirimkan kepada Pemkab Banyuwangi.
“Kami sedang menyusun surat tuntutan bersama warga,” ujar Katoyo, perwakilan warga Dusun Ringinagung, kemarin (12/1).
Katoyo menyebutkan, setidaknya ada tiga poin utama yang akan dicantumkan dalam surat tersebut. Pertama, mengenai fungsi ekologis gunung di wilayah mereka.
“Kami akan tuangkan dalam surat bagaimana kondisi nyata pegunungan di sini dan seberapa besar perannya bagi perlindungan masyarakat,” terangnya.
Poin kedua adalah permintaan kepastian agar Gunung Gede dan Gunung Kucur tidak tersentuh aktivitas eksploitasi.
“Selama ini belum ada kepastian. Kami sempat mengajukan opsi kepada pihak tambang, namun belum ada titik temu. Penambang rakyat bahkan siap angkat kaki asalkan PT BSI juga tidak melanjutkan penambangan di area tersebut,” tegasnya.
Poin ketiga menyinggung aspek kesejahteraan warga. Menurut Katoyo, selama beberapa tahun terakhir masyarakat merasa belum merasakan dampak positif yang signifikan dari keberadaan tambang berskala besar tersebut.
“Memang ada program pavingisasi, tetapi panjangnya tidak seberapa. Masih ada sekitar 5 km jalan yang rusak. Bahkan, penerangan di akses menuju area tambang saja masih minim,” tuturnya.







