Balapan Perahu Terganggu Cuaca Buruk

0
760

KALIPURO- Lomba balap perahu layar kembali digelar pagi kemarin. Kali ini, lomba dilaksanakan di Pantai Waru Doyong, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro. Even ini merupakan rangkaian pesta rakyat Pantai Waru Doyong yang melaksanakan petik laut Rebo Wekasan di bulan Sapar (kalender Jawa).

Sebanyak 37 perahu beradu cepat mengarungi lautan Selat Bali untuk menjadi yang tercepat. Mengambil start dari Pantai Waru Doyong puluhan perahu yang hanya mengandalkan tenaga angin ini bergerak menuju pantai di Gilimanuk dan kembali finish di Pantai Waru Doyong.

Perahu yang kembali ke Pantai Waru Doyong dengan urutan terdepan adalah juaranya. “Balapan kita bagi dua sesi. Setiap sesi akan kita ambil sepuluh peserta dan kita adu lagi,” kata Ketua Panitia Petik Laut Rebo Wekasan, Sujarno.

Sayang balap perahu layar yang digelar sejak pukul 08.00 itu kurang didukung oleh cuaca. Pada sesi pertama, meski cuaca cerah namun arus Selat Bali sedang tidak bersahabat. Untuk sesi kedua yang dilakukan pada sore hari, cuaca tambah buruk karena hujan dan angin kencang.

Sejatinya perahu-perahu ini bisa kembali dengan waktu 20 menit. Karena terkendala cuaca buruk, perahu-perahu ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali ke finish, yakni sekitar satu jam lamanya.

“Cuaca lagi buruk. untuk perahu tercepat adalah perahu milik Dasuki, warga Ketapang. Durasi waktu sampai finish 60 menit lebih,” ujar Sujarno. Sementara itu, acara petik laut Rebo Wekasan tidak dilaksanakan pada saat puncak acara kemarin.

Petik laut Rebo Wekasan sudah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya, yakni pada tanggal 9 Deselnber 2015 lalu. Karena tanggal 9 Desember lalu bertepatan dengan Pilkada, maka puncak acara dilakanakan kemarin.

Baca :
Lewat Jalur Tikus, 35 Pemudik Dipaksa Putar Balik

“Kalau selamatan dan larung sesaji tidak boleh di tunda. Karena tangal 9 Desember adalah Rabu terakhir di bulan sapar, petik laut tetap harus dilaksanakan hari itu juga,” tambah Sujarno.

Sekadar diketahui, ritual petik laut merupakan kegiatan rutin yang dilakukan para nelayan setiap satu tahun sekali pada hari Rabu terakhir di bulan Sapar (kalender Jawa). Tradisi ini sudah dilakukan warga Bulusan secara turun-temurun sejak zaman dahulu kala.

Menurut kepercayaan warga setempat, hari Rabu terakhir pada bulan Sapar dianggap sebagai hari turunnya wabah penyakit dan bencana, sehingga warga menyelenggarakan petik laut Rebo Wekasan.

Petik laut yang dilaksanakan bertujuan agar warga bisa terhindar dari bencana dan penyakit, terutama saat melaut untuk mencari ikan. Petik laut Rebo Wekasan dilakukan dengan cara melarung perahu berisi sesaji yang terdiri dari berbagai umbi-umbian (polo pendem) dan sebuah kepala kambing sebagai simbol untuk membuang segala macam penyakit dan bencana dari nelayan Desa Bulusan.

“Selain agar terhindar dari mala petaka. Dengan petik laut ini kita juga berharap kepada Allah agar panen ikan nelayan di sini selalu melimpah,” pungkasnya. (radar)