Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia
Sosial  

Banyak Pedagang Berjualan di Emperan, Pedagang di Dalam Pasar Muncar Mengeluh Sepi

Daftarkan email Anda untuk Berlangganan berita dikirim langsung ke mailbox Anda

MUNCAR – Selama dua hari berturut-turut, Anggota Komisi IV DPRD Banyuwangi menggelar kunjungan kerja ke Pasar Muncar di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar untuk memantau lokasi pasar.

Pada Rabu (18/4), anggota Komisi IV DPRD Salimi, Basuki, dan Masrochan mendatangi Pasar Muncar untuk menertibkan pakir liar dan membuat macet jalan. Pada Kamis (19/4), mereka kembali mendatangi Pasar Muncar dengan dalih menerima keluhan dari para pedagang pasar.

Anggota Komisi IV DPRD yang datang itu Salimi, M Basuki, dan Masrochan. “Para pedagang di pasar mengeluh sepi karena banyaknya orang yang jualan di emperan,” terang anggota Komisi IV DPRD Banyuwangi, Salimi yang kembali datang ke Pasar Muncar.

Dari hasil tinjau lapangan, terang dia, ternyata memang benar banyak pedagang pasar yang mengeluh hasil jualannya sepi. Padahal, untuk jualan itu mereka harus membayar retribusi dan sewa lapak.

“Pedagang di dalam pasar mengeluh tidak laku jualannya, sedangkan untuk menyewa lapak sudah pasti,” katanya.

Ketua Paguyuban Pedagang Rusiyono mengatakan, sepinya jualan para pedagang itu karena semakin banyak pedagang yang jualan di emperan. Bahkan, kini juga banyak yang jualan di bahu jalan. “Padahal di pasar sudah disediakan lapak,” katanya.

Rusiyono menyebut, itu semua sebenarnya karena petugas pasar yang tidak tegas. Padahal, para pedagang yang jualan itu membuat jalan jadi macet. “Kalau pedagang bisa ditertibkan, parkir juga akan tertib,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Pasar Muncar, Abdul Hakim menyampaikan sudah menerapkan aturan bagi para pedagang yang mangkal diemperan dan bahu jalan itu. Pada pukul 08.00, semua sudah harus steril. “Saya sudah sering memberi Woro-Woro, tapi pedagang masih tetap saja nekat,” katanya.

Hakim mengakui memang banyak pedagang yang mengeluh. Dan itu bukan semata-mata kesalahan dari pihak pasar, tapi karena banyaknya pedagang yang jualan di emperan. “Pedagang yang susah diatur,” cetusnya.