Banyuwangi Dilanda Kemarau Basah, Ini Dampaknya

  • Bagikan
Foto: TIMES Indonesia

BANYUWANGI – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Banyuwangi (BMKG Banyuwangi) mengeluarkan pernyataan resmi terkait dengan perubahan musim di Kabupaten Banyuwangi.

Dilansir dari TIMES Indonesia, prakirawan BMKG Banyuwangi, Yustoto Windiarto mengatakan berdasarkan hasil pemantauan, secara normal wilayah Banyuwangi hampir seluruhnya sudah memasuki musim kemarau.

“Tapi karena masih hangatnya suhu muka laut, kemarau yang terjadi saat ini menjadi kemarau basah yang artinya hujan masih terjadi di saat musim kemarau,” ungkapnya kepada TIMES Indonesia, Senin (20/8/2020).

Suhu muka laut yang hangat tersebut, terang dia, berfungsi sebagai penyedia uap dalam pembentukan awan-awan hujan.

“Faktor lain penyebabnya adalah akibat adanya aktifitas gelombang equatorial rossby yang fluktuatif (tergantung kondisi aktivitas hariannya) yang berdampak pula terhadap suplai uap air, yang merupakan bahan utama pembentukan awan-awan hujan,” ujarnya.

Yustoto menambahknan, faktor dominan lain penyebabnya adalah masih hangatnya suhu muka laut di perairan indonesia khususnya di Jawa timur yang mengakibatkan masih terjadinya hujan di wilayah Banyuwangi.

“Hujan yang terjadi sifatnya lokal atau tidak merata seperti saat musim hujan dan intensitasnya ringan hingga sedang,” terang Yustoto.

Dari analisa tersebut, BMKG Banyuwangi meminta kepada masyarakat untuk mewaspadai dampak akibat kemarau basah itu, yakni mengenai peningkatan gelombang laut.

“Tinggi gelombang laut berkisar 2 hingga 4 meter. Gelombang laut yang tinggi (di Kabupaten Banyuwangi) ini terjadi karena kuatnya tekanan udara di wilayah bumi belahan selatan,” tandas prakirawan BMKG Banyuwangi, Yustoto.

Baca :
Pasien RSUD Blambangan Jatuh dari Lantai Dua Bangunan Proyek, Luka Serius Lalu Tewas
  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: