Berita Terkini Seputar Banyuwangi

Belajar hingga Larut Malam, Sakit Jelang Ujian

belajarNilai ujian nasional (NUN) tertinggi jurusan bahasa Indonesia di Banyuwangi tahun 2013 ini diraih Nuril Ahadia Hasana. Bahkan, siswa SMAN 2 Genteng itu menjadi yang terbaik se-Jawa Timur dengan nilai 56,20. UJIAN nasional (unas) SMA ta hun ini tampaknya bakal sulit di lu pakan Nuril Ahadia Hasana. Betapa tidak, siswa yang tinggal di Dusun Resomulyo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, itu menorehkan prestasi membanggakan.

Atas prestasi itu, sejarah bakal mencatat namanya sebagai pelajar yang mampu mengangkat nama baik orang tua, sekolah, dan daerah. Me nyusul hasil itu, siswa kelahiran Si tubondo 16 April 1995 itu tampak se mringah saat ditemui Jawa Pos Radar Banyuwangi di sekolahnya ke marin (24/5). Beberapa kali senyum me ngembang dari putri pasangan Jumirin dan Lilik Suryani itu. Ekspresi itu me nunjukkan bahwa dia bahagia setelah dinobatkan sebagai peraih NUN tertinggi di Banyuwangi.

Nah, dia makin terkejut setelah tahu bahwa sulung tiga bersaudara itu juga menjadi yang terbaik se-Jawa Timur. Nuril mengaku tidak pernah bermimpi bahwa dirinya akan me raih ha sil sangat memuaskan. Na mun de mikian, kakak kandung Mu ham – mad Mughni, 15, dan Siti Fajar Il hamiyah, 14, itu sudah merasa op timistis sebelum mengikuti unas  Sebab, siswa berkerudung itu sudah membiasakan diri belajar setiap hari.

Dengan penuh senyum, dia mengaku sebetulnya sem pat ketar-ketir tidak bisa me ngikuti unas. Sebab, jelang ujian, dirinya sakit. ‘’Saya sakit be berapa hari sebelum ujian,” ka tanya. Sakit itu menderanya garagara kerap belajar hingga larut ma lam. “Saya mau ujian malah sakit,” terangnya sambil gelenggeleng kepala. Memburuknya kondisi kesehatan itu menimbulkan kecemasan bagi orang tua Nu ril. Karena itu, orang tua lang sung memeriksakan Nuril ke dokter demi kepastian sa kit itu.

“Setelah diperiksa, saya ternyata sakit lambung. Mungkin gara-gara saya kerap minum kopi waktu belajar malam hari,’’ terangnya. Dia menjelaskan, dia memang  suka belajar pada malam hari.Tidak jarang, dia belajar hingga  larut. ‘’Gak sadar tiba-tiba jam se tengah dua belas malam (pukul 23.30),” tuturnya. Meski dilanda sakit, tapi itu tidak menurunkan niat belajarnya setiap hari. ‘’Ya buka buku sedikit-sedikit. Kata orang tua saya gak boleh terlalu di forsir agar kesehatan saya pulih,” katanya.

Kerja keras itu akhirnya ter bayar dengan sangat memuaskan. Dia pun sangat ber terima kasih kepada orang tua dan pihak sekolah yang terus mendukungnya. ‘’Saya mau kuliah di UGM, dan su dah daftar. Saya harap, saya di terima,” katanya. Saat wawancara dengan koran ini, dia masih memakai seragam tanpa coretan. Apakah tidak dicoret- coret seperti teman yang lain? ‘’Eman-eman,’’ jawabnya singkat. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE