Belajar Tata Kelola Pariwisata, 42 Pejabat Pemkot Jakarta Utara Boyongan ke BWI

0
445
Bupati Abdullah Azwar Anas menerima kunjungan Pemkot Jakarta Utara

BANYUWANGI – Pesatnya perkembangan pariwisata di Banyuwangi, menarik minat pemerintah daerah untuk belajar ke Bumi Blambangan. Yang terbaru, jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara (Jakut) datang untuk belajar tata kelola pariwisata di Kabupaten berjuluk The Sunrise Of Java ini.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Wali Kota Jakarta Utara, Husein Murad, memimpin langsung rombongan yang terdiri 42 pejabat perangkat daerah. Selain itu, Wakil Wali Kota Junaedi, juga ikut bertandang untuk belajar  tata kelola pariwisata ke Banyuwangi.

“Kami melihat banyak kesamaan antara Banyuwangi dengan Jakut. Salah satunya kami juga mengembangkan destinasi pariwisata. Jadi, tidak salah kami datang ke Banyuwangi untuk belajar tentang ini,” ujar Husein saat diterima Bupati Abdullah Azwar Anas di pendapa Sabha Swagata Blambangan, jumat (15/9).

Menurut Husein, tata kelola pariwisata di Banyuwangi cukup  baik. Hal ini dapat menjadi inspirasi pihaknya dalam mengelola objek wisata di Jakut. “Sat ini pantai-pantai kami sedang ditata yang ke depan bisa menjadi potensi wisata yang bisa tergarap dengan baik,” kata dia.

Sementara itu, Anas membagi pengalaman seputar penataan dan pengembangan pariwisata di  Banyuwangi. Menurut dia, kesuksesan pengembangan pariwisata adalah konsolidasi antar komponen. Baik pemerintah, masyarakat, maupun pelaku usaha.

Menurut Anas, ketiga komponen tersebut harus berjalan seiring. Tidak boleh ada satu yang dikorbankan. Jika ada satu komponen yang dikorbankan, maka industri Pariwisata tersebut akan mengalami permasalahan.

Anas mencontohkan tentang pengembangan wisata di Desa Tamansari, Kecamatan Licin yang merupakan perkampungan terdekat dari Gunung Ijen. Bertahun-tahun Ijen menjadi tujuan wisata dari dalam maupun luar negeri. Tapi, selama itu, masyarakat Tamansari tak merasakan manfaat dari banyaknya wisatawan tersebut.

“Jen is pengembangan wisata yang demikian jelas tidak sustainable. Karena yang untung hanya pengusaha travel dan hotel saja. Rakyat tidak terlibat. Oleh karena itu, dengan optimalisasi Badan Usaha Millk Desa (BUMDes), sekarang di Tamansari sedang dikembangkan home stay, reast area, souvenir dan lainnya. Sehingga dengan aktivitas ini, masyarakat bisa terlibat dan meraih manfaat dari keberadaan wisata itu,” terang Anas .

Selain itu, Anas nnenambahkan, kekompakan para kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) juga menjadi kunci keberhasilan Baunyuwangi menjadi daerah jujugan wisata. Melalui rangkaian Banyuwangi Festival, para kepala SKPD terlibat penuh dalam pelaksanaannya. Masing-masing satuan kerja (satker) memiliki kontibusi sesuai dengan tugasnya masing-masing.

“Dengan kekompakan inilah, Banyuwangi memliki super team dalam membangun dan mengembangkan pariwisata. Ego sektoral masing-masing dinas ataupun bagian, teekikis di Banyuwangi Festival. Inilah yang membuat promosi dan pengembangan pariwisata di Banyuwangi berkembang cepat,” paparnya.

Sementara itu, untuk melihat secara langsung bagaimana pengembangan wisata di Banyuwangi, rombongan Pemkot Jakut mendatangi beberapa objek wisata. Di antaranya Gunung Ijen dan Bangsring Underwater.

Di kedua tempat ini, mereka belajar secara langsung keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha dalam membangun pariwisata. (radar)

Loading...

Baca Juga :