Benar-benar Kota Gandrung

  • Bagikan
KOLOSAL: Seribu penari gandrung menari bersama di atas hamparan pasir Pantai Boom, Banyuwangi, sore kemarin. Parade Gandrung Sewu itu juga menampilkan fragmen sejarah Gandrung dan perlawanan terhadap penjajah.

BANYUWANGI – Tak salah bila Banyuwangi punya julukan sebagai Kota Gandrung. Lebih dari seribu penari gandrung tampil secara kolosal di atas hamparan pasir Pantai Boom, Banyuwangi, sore kemarin (18/11). Bukan hanya puluhan ribu warga Bumi Blambangan yang menyaksikan Parade Gandrung Sewu di pantai tersebut sore itu.

Tidak sedikit pula warga luar Banyuwangi, bahkan wisatawan mancanegara yang sengaja datang ke daerah yang memiliki tagline Sunrise of Java sore itu. Mereka berpesta bersama menikmati beragam sajian spektakuler yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-241.

Sementara itu, puluhan ribu penonton tampak menyemut di pantai dengan hamparan pasir yang landai nan menawan itu. Sejak siang, gelombang kedatangan warga terus mengalir menuju kawasan Pantai Boom Menjelang sore, arus kedatangan warga semakin membesar. Saking padatnya kendaraan yang memasuki kawasan Pantai Boom, mereka yang ingin memasuki kawasan tersebut harus ekstra sabar untuk menjangkau lokasi Parade Gandrung Sewu digelar.

Kerja keras penonton untuk mencapai lokasi acara langsung terbayar tuntas saat perhelatan akbar yang kali pertama digelar di Banyuwangi itu berlangsung. Decak kagum penonton seketika pecah tatkala parade umbul-umbul memasuki arena pertunjukan. Puluhan pemuda pembawa umbul-umbul secara serempak ke tengah hamparan pasir yang disulap menjadi “lapangan” pertunjukan. Sejurus kemudian, para pembawa umbul-umbul itu berlari ke sisi utara lapangan. Rupanya, mereka menjemput gandrung lanang atau yang lazim disebut gandrung marsan dan penari seblang yang ditandu sekelompok pria dewasa.

Gandrung marsan dan penari seblang itu langsung maju ke tengah arena pertunjukan di iringi para pembawa umbul-umbul. Selanjutnya, gandrung lanang dan penari seblang tersebut ber gerak menuju stage di belakang arena pertunjukan. Tiba-tiba, puluhan pria berseragam militer khas penjajah Belanda masuk ke tengah arena. Rupanya, adegan itu menggambarkan awal masuknya Belanda ke Bumi Blambangan tahun 1767. Serdadu penjajah itu masuk tlatah Blambangan melalui Pantai Blimbingsari.

Setelah berhasil me nan capkan kekuasaan, para penjajah itu sewenang-wenang. Digambarkan, mereka dengan se enaknya menyiksa warga Pribumi. Ti dak hanya kaum laki-laki, para perempuan dan anak-anak pun tak luput menjadi kor ban penyiksaan mereka. Nah, saat adegan yang sangat menyayat hati itu berlangsung, tidak sedikit penonton yang tak mampu menahan air mata. Pada perkembangan selanjutnya, tepatnya sekitar tahun 1800-an, pengaruh penjajah Belanda itu menyebabkan tari seblang yang dikeramatkan warga ber-metamorfosis menjadi tari gandrung.

Ironisnya, saat menikmati tari gandrung, para pen jajah tersebut menikmati mi numan keras. “Pengaruh kaum penjajah memang sangat menyengsarakan rakyat Blambangan. Tidak melulu pe nindasan fisik dan materi, ke budayaan lokal pun mereka rusak. Karena kebiasaan ombenombenan (minum minuman keras) itu, para penari gandrung hidup mesakat (sengsara),” ujar narator pertunjukan. Pergelaran apik tersebut diakhiri dengan tari gandrung ma sal yang ditampilkan 1.243 penari.

Mereka terdiri atas kalangan pelajar mulai tingkat SD sampai SMA/sederajat asal seantero Banyuwangi dan para penari gandrung dewasa. Parade Gandrung Sewu ini digelar dengan mak sud dan tujuan sebagai wahana aktualisasi seni untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Banyuwangi,” ujar ketua panitia, Suko Prayitno. Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas dalam sambutannya menyatakan rasa haru dan bangga atas semangat luar biasa yang ditunjukkan para penari gandrung. Mereka yang be rasal dari desa-desa yang jaraknya puluhan kilometer (km) dari Kota Banyuwangi itu rela bermalam di sekolah atau di rumah kerabatnya yang dekat dengan pusat kota demi memberikan sajian terbaik kepada para penonton.

Menurut Bupati Anas, Parade Gandrung Sewu tersebut merupakan rangkaian Banyuwangi Festival yang bertujuan memberikan suguhan bukan hanya ke pada warga Banyuwangi, tapi juga suguhan untuk warga luar Banyuwangi bahkan turis mancanegara. “Kita tunjukkan Banyuwangi adalah kabupaten yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tapi juga kaya budaya,” kata Anas disambut riuh tepuk tangan penonton. (radar)

Kata kunci yang digunakan :

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: