Benar-benar Kota Gandrung

0
699
KOLOSAL: Seribu penari gandrung menari bersama di atas hamparan pasir Pantai Boom, Banyuwangi, sore kemarin. Parade Gandrung Sewu itu juga menampilkan fragmen sejarah Gandrung dan perlawanan terhadap penjajah.
KOLOSAL: Seribu penari gandrung menari bersama di atas hamparan pasir Pantai Boom, Banyuwangi, sore kemarin. Parade Gandrung Sewu itu juga menampilkan fragmen sejarah Gandrung dan perlawanan terhadap penjajah.

BANYUWANGI – Tak salah bila Banyuwangi punya julukan sebagai Kota Gandrung. Lebih dari seribu penari gandrung tampil secara kolosal di atas hamparan pasir Pantai Boom, Banyuwangi, sore kemarin (18/11). Bukan hanya puluhan ribu warga Bumi Blambangan yang menyaksikan Parade Gandrung Sewu di pantai tersebut sore itu.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Tidak sedikit pula warga luar Banyuwangi, bahkan wisatawan mancanegara yang sengaja datang ke daerah yang memiliki tagline Sunrise of Java sore itu. Mereka berpesta bersama menikmati beragam sajian spektakuler yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-241.

Sementara itu, puluhan ribu penonton tampak menyemut di pantai dengan hamparan pasir yang landai nan menawan itu. Sejak siang, gelombang kedatangan warga terus mengalir menuju kawasan Pantai Boom Menjelang sore, arus kedatangan warga semakin membesar. Saking padatnya kendaraan yang memasuki kawasan Pantai Boom, mereka yang ingin memasuki kawasan tersebut harus ekstra sabar untuk menjangkau lokasi Parade Gandrung Sewu digelar.

Kerja keras penonton untuk mencapai lokasi acara langsung terbayar tuntas saat perhelatan akbar yang kali pertama digelar di Banyuwangi itu berlangsung. Decak kagum penonton seketika pecah tatkala parade umbul-umbul memasuki arena pertunjukan. Puluhan pemuda pembawa umbul-umbul secara serempak ke tengah hamparan pasir yang disulap menjadi “lapangan” pertunjukan. Sejurus kemudian, para pembawa umbul-umbul itu berlari ke sisi utara lapangan. Rupanya, mereka menjemput gandrung lanang atau yang lazim disebut gandrung marsan dan penari seblang yang ditandu sekelompok pria dewasa.

Loading...

Gandrung marsan dan penari seblang itu langsung maju ke tengah arena pertunjukan di iringi para pembawa umbul-umbul. Selanjutnya, gandrung lanang dan penari seblang tersebut ber gerak menuju stage di belakang arena pertunjukan. Tiba-tiba, puluhan pria berseragam militer khas penjajah Belanda masuk ke tengah arena. Rupanya, adegan itu menggambarkan awal masuknya Belanda ke Bumi Blambangan tahun 1767. Serdadu penjajah itu masuk tlatah Blambangan melalui Pantai Blimbingsari.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2