Beraroma Khas, Wanginya Bertahan Dua Pekan

0
905
WANGI: Salah satu petak bunga sedap malam di Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, Banyuwangi.

Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, memiliki potensi besar pengembangan budi daya bunga sedap alam. Sayang, potensi itu belum tergarap secara maksimal. A.F. ICHSAN RASYID, Giri

BUNGA sedap malam yang ditanam sejumlah petani Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, Banyuwangi, memiliki aroma yang khas dibanding sedap malam dari daerah lain. Selain aromanya yang khas, bunga sedap malam asal Penataban bisa bertahan hingga dua pekan. Keunggulan lain, aromanya sudah semerbak walau matahari belum terbenam.

Bunga sedap malam dari daerah lain aromanya baru keluar pada saat hari sudah gelap. “Kalau sedap malam dari Penataban, jam tiga sore aromanya sudah menyebar,” papar Camat Giri, Agni. Bunga sedap malam asal Penataban berbeda jauh dengan bunga sedap malam asal daerah lain. Selain aromanya, bentuk fisiknya juga berbeda dengan bunga sedap malam dari sentra bunga Bogor atau Pasuruan. Kalau sedap malam dari daerah lain, di ujung tangkai bunganya terdapat warna kemerahan-merahan.

Bunga sedap malam asal Giri, di ujung tangkai bunganya hijau seratus persen hingga mekar. Yang menarik, bunga sedap malam asal Giri memiliki keunikan tersendiri. Salah satu keunikannya, jika ditanam di luar lahan Kelurahan Penataban, aromanya berubah 100 persen. Padahal, bibitnya diambil dari bunga sedap malam yang ditanam di Penataban. Aromanya akan kembali lagi ke asal, apabila bunga tersebut ditanam di tanah Penataban.

“Walau pembibitannya dilakukan di luar Penataban, tapi ditanam lagi di Petanaban, aromanya akan balik lagi,” papar salah seorang petani, Muhsin. Varietas bunga sedap malam lain kalau ditanam di Penataban, aromanya tetap tidak berubah. Saat ini, selain membudidayakan bunga sedap malam lokal, para petani Penataban juga mengembangkan bunga sedap malam asal Bangil dan Bogor. “Aromanya sama sekali tidak berubah dari daerah asal,” cetus salah seorang petugas penyuluh lapangan (PPL) Kecamatan Giri, Aminah.

Baca :
Suami Jarang Pulang, Seorang Wanita di Genteng Ditemukan Gantung Diri

Bunga sedap malam Penataban, jangankan ditanam di luar kabupaten, dipindah antar kelurahan saja aromanya langsung berubah. Bunga sedap malam Penataban pertama kali tumbuh pada zaman pemerintah Belanda, tepatnya pada tahun 1933. Bunga itu bukan tumbuh secara tiba-tiba melainkan melalui proses ritual sesepuh kelurahan setempat bernama Mbah Rafie. Ceritanya, pada tahun 1933 usai melaksanakan salat Subuh di pemondokannya, Mbah Rafie mendapat wangsit. Saat salat Subuh, Mbah Rafie mendapat satu butir umbi.

Dalam wangsitnya, Mbah Rafie diminta menanam satu butir umbi itu di lahan Kelurahan Penataban. “Cerita para sesepuh, Mbah Rafie itu tidak boleh menanam umbi itu di luar Kelurahan Penataban,” ungkap Camat Agni. Setelah umbi itu ditanam, keluarlah bunga sedap malam itu. Hingga saat ini, keturunan Mbah Rafie melanggengkan menanam bunga sedap malam. Selain keturunan Mbah Rafie, kini warga lain juga mulai tertarik menanam bunga sedap malam.

Saat ini, luas tanaman bunga sedap malam yang sudah produktif mencapai dua hektare. Dua hektare itu mampu menghasilkan 17 ribu batang setiap tahun. Selama ini, konsumsi bunga sedap malam habis terserap pasar lokal. “Kita belum memasarkan bunga itu keluar daerah, karena produksi masih terbatas,” kata Agni. Untuk mengembangkan produksi, pihak Kecamatan Giri kini sedang melakukan terobosan untuk mendapatkan hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM RI.

Bunga sedap malam asal Penataban itu akan diusulkan mendapat hak paten dengan nama bunga sedap malam “Sayu Atika” . Saat ini, proses mendapatkan hak paten itu sudah sampai pada proses uji laboratorium di Malang. Jika uji laboratorium selesai, maka Kecamatan Giri akan mengusulkan hak paten. Jika sudah memiliki hak paten, petani akan mudah memasarkan bunga tersebut. Selama ini, pemasaran bunga sedap malam asal Petaban terkendala hak paten. “Secara kualitas, bunga kita tidak kalah.

Baca :
Ngantuk Saat Berkendara, Pelajar Tubruk Pemotor Lain dan Alami Patah Tulang

Tahun 2010 lalu kita juara dua tingkat Jatim,” katanya. Untuk mengenalkan bunga tersebut, Kecamatan Giri mengirim bunga tersebut kepada 20 SKPD di lingkungan Pemkab Banyuwangi. Salah satu pelanggan tetap bunga itu adalah ruang kerja Bupati Abdullah Azwar Anas. Setiap hari Senin, ruang kerja Bupati Anas selalu mendapat pasokan bunga sedap malam “Sayu Atika” .

“Satu minggu sekali 20 SKPD kita pasok masing-masing 10 tangkai bersama bunga aksesorinya,” bebernya. Ruangan yang dipasangi bunga sedap malam akan lebih segar. Sebab, aroma bunga sedap malam itu alami dan membuat ruangan selalu fresh. “Apalagi, jika terkena AC, aromanya menyebar ke seluruh sudut ruangan,” pungkasnya. (radar)