sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Cuaca ekstrem berpotensi melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur hingga akhir Januari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, termasuk di wilayah Banyuwangi.
Kepala BMKG Kelas I Juanda Taufiq Hermawan dalam keterangan tertulis yang dirilis Selasa (20/1) menyampaikan, seluruh wilayah Jawa Timur saat ini telah memasuki musim hujan.
Bahkan, di beberapa daerah kondisi cuaca diprakirakan sudah berada pada fase puncak musim hujan.
“Dalam sepuluh hari ke depan diprakirakan terjadi peningkatan potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk di Banyuwangi,” ujar Taufiq.
BMKG mencatat, potensi cuaca ekstrem tersebut dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologi.
Mulai dari hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es. Kondisi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor dinamika atmosfer yang saat ini aktif di wilayah Jawa Timur.
Taufiq menjelaskan, aktifnya monsun Asia menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya intensitas hujan.
Selain itu, terdapat pola pertemuan angin atau konvergensi yang memicu pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah.
Gangguan atmosfer lain seperti gelombang Equatorial Rossby dan Madden Julian Oscillation (MJO) juga diprakirakan melintasi Jawa Timur dalam periode tersebut.
“Suhu muka laut di perairan sekitar Jawa Timur, termasuk Selat Madura, masih cukup hangat dan didukung kondisi atmosfer lokal yang labil. Hal ini sangat mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang,” jelasnya.
Wilayah Banyuwangi termasuk daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan.
Secara geografis, Banyuwangi memiliki wilayah pegunungan, perbukitan, hingga daerah pesisir yang rawan terdampak cuaca ekstrem.
Curah hujan tinggi berpotensi memicu longsor di wilayah dengan topografi curam serta banjir di daerah dataran rendah dan sekitar aliran sungai.
Page 2
BMKG mengingatkan, dampak cuaca ekstrem tidak hanya terbatas pada bencana alam.
Aktivitas masyarakat juga berpotensi terganggu akibat jalan licin, pohon tumbang, genangan air, hingga berkurangnya jarak pandang akibat hujan lebat dan kabut.
“Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana, khususnya daerah perbukitan, lereng, dan bantaran sungai, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan,” kata Taufiq.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan para pengguna jalan, nelayan, serta pelaku aktivitas luar ruang untuk lebih berhati-hati. Perubahan cuaca dapat terjadi secara cepat dan sulit diprediksi dalam skala lokal.
BMKG Juanda mengimbau masyarakat Banyuwangi dan wilayah lain di Jawa Timur untuk terus memantau informasi cuaca terkini yang disampaikan melalui kanal resmi BMKG.
Langkah antisipatif dinilai penting guna meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem.
“Masyarakat diharapkan selalu memantau informasi cuaca terkini dan waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara mendadak,” pungkasnya. (ray/aif)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Cuaca ekstrem berpotensi melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur hingga akhir Januari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, termasuk di wilayah Banyuwangi.
Kepala BMKG Kelas I Juanda Taufiq Hermawan dalam keterangan tertulis yang dirilis Selasa (20/1) menyampaikan, seluruh wilayah Jawa Timur saat ini telah memasuki musim hujan.
Bahkan, di beberapa daerah kondisi cuaca diprakirakan sudah berada pada fase puncak musim hujan.
“Dalam sepuluh hari ke depan diprakirakan terjadi peningkatan potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk di Banyuwangi,” ujar Taufiq.
BMKG mencatat, potensi cuaca ekstrem tersebut dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologi.
Mulai dari hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es. Kondisi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor dinamika atmosfer yang saat ini aktif di wilayah Jawa Timur.
Taufiq menjelaskan, aktifnya monsun Asia menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya intensitas hujan.
Selain itu, terdapat pola pertemuan angin atau konvergensi yang memicu pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah.
Gangguan atmosfer lain seperti gelombang Equatorial Rossby dan Madden Julian Oscillation (MJO) juga diprakirakan melintasi Jawa Timur dalam periode tersebut.
“Suhu muka laut di perairan sekitar Jawa Timur, termasuk Selat Madura, masih cukup hangat dan didukung kondisi atmosfer lokal yang labil. Hal ini sangat mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang,” jelasnya.
Wilayah Banyuwangi termasuk daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan.
Secara geografis, Banyuwangi memiliki wilayah pegunungan, perbukitan, hingga daerah pesisir yang rawan terdampak cuaca ekstrem.
Curah hujan tinggi berpotensi memicu longsor di wilayah dengan topografi curam serta banjir di daerah dataran rendah dan sekitar aliran sungai.








