Citra Kopi Lokal Tetap Istimewa

0
1941
DIKAGUMI TURIS: Potensi kopi lokal di Banyuwangi cukup untuk menggerakkan bisnis kopi hingga ke mancanegara.

MESKI pasar nasional dan internasional lebih menyukai kopi jenis Robusta dan Arabika, citra kopi lokal di Banyuwangi tetap istimewa di kalangan pencinta kopi. Terutama masyarakat pedesaan yang memng tidak lepas dari budaya mengonsumsi kopi sebagai social drink.

Di Gombengsari dan Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, masyarakat masih mempertahankan kopi-kopi lokal meski dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Asmah, 55, salah seorang petani kopi di lingkungan Kacangan, Gombengsari mengatakan, kopi lokal kebanyakan menjadi konsumsi pribadi.

Karena perkebunan maupun pengepul jarang ada yang mau membeli kopi lokal dalam jumlah besar. Meski begitu, bukan berarti kopi lokal tanpa peminat. Menurut Asmah, pembeli kopi lokal tetap ada. Bahkan pasarnya dapat dibilang pasar khusus karena yang membeli adalah kalangan tertentu yang memang sangat menyukai kopi lokal.

Dari keterangan Asmah, ada sekitar empat jenis kopi lokal Banyuwangi yang masih dipertahankan petani hingga saat ini. Yaitu jenis poniha/muniha, buriah/glodok, keleres dan tokosari. Empat kopi ini memiliki keutuhan dan keunggulan semdiri baik dari segi rasa dan harga.

Kopi jenis keleres misalnya, Asmah menggambarkan kopi ini memiliki bentuk lonjong dengan buah yang tipis, namun berbiji besar. Kopi ini adalah salah satu jenis kopi paling kuno yang masih dipertahankan. Dari segi rasa kopi ini bisa dibilang yang paling pahit. Sehingga; banyak orang yang seringkali mencampur kopi ini dengang berbagai bahan lain seperti beras dan jagung sebelum menjadi serbuk dan dikonsumsi.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | ... | Next → | Last

Baca :
Ratusan KPM PKH di Banyuwangi Mundur, Ini Alasannya