Beranda Sosial Dari Sampang Hijrah ke Banyuwangi, Jalan Kaki 17 Km

Dari Sampang Hijrah ke Banyuwangi, Jalan Kaki 17 Km

0
650
TINGGAL KENANGAN: Bupati Anas mencium tangan abah tercintanya (alm) KH. Achmad Sayyidi.
TINGGAL KENANGAN: Bupati Anas mencium tangan abah tercintanya
(alm) KH. Achmad Sayyidi.

Genap tiga hari ini ayahanda Bupati Abdulah Azwar Anas, Kiai Musayyidi wafat. Kepergian Kiai Musayyidi masih mengundang perhatian banyak orang. Hingga kemarin, (5/8) ucapan belasungkawa masih terus mengalir.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

-ABDUL AZIS, Tegalsari –

SUASANAduka masih terasa di rumah orang tua Bupati Abdullah Azwar Anas di Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. Puluhan karangan bunga berjejer di pintu masuk menuju rumah duka. Ada dari Wagub Jatim, Sekdaprov, DPP PKB, hingga sejumlah perusahaan ternama. Di sela ramainya tamu yang datang, kalimat tahlil menggema di rumah duka. Maklum, hingga hari ketiga kepergian Kiai Sayyidi, masih berlangsung tahlilan yang dimulai pukul 16.00 hingga jelang berbuka puasa.

”Tahlilan akan terus berlangsung hingga hari ketujuh nanti,’’ ucap Bupati Anas di sela menerima tamu yang datang sore itu. Sosok Kiai Musayyidi memang cukup dikenal di desa tersebut. Ketokohannya hingga kini masih dibicarakan banyak orang. Ibarat pepatah, orang besar adalah dia yang melahirkan orang besar. Kalimat itulah yang kerap mengundang pertanyaan banyak orang tentang sosok KH. Achmad Musayyidi.

Dia adalah kiai asal Sampang, Madura yang lahir pada tahun 1939 silam. Perjalanannya ke Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, dimulai pada tahun 1943 atau memasuki usia 4 tahun. Kala itu, Sayyidi yang sejak kecil ditinggal wafat bapaknya, almarhum Manaqib, diajak oleh sang ibu, Khorija, untuk menyeberang ke Surabaya bersama beberapa saudaranya.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | ... | Next → | Last

error: Uppss.......!